Astra Agro Terapkan Pengelolaan OPT Yang Berkelanjutan Penulis: Ir. Henny Hendarjanti (Bagian Kedua- Selesai)

Pengembangan dan Implementasi Agensia Hayati dalam Pengendalian Biologi

Kebijakan perusahaan dalam menekan penggunaan pestisida berbahaya dicanangkan dalam “Sustainability Policy  yaitu melalui program “Limit pesticide use” , yang berorientasi pada pembatasan  penggunaan pestisida dengan konsen melindungi pekerja, komunitas lokal dan lingkungan dari paparan kimia berbahaya. Dalam praktek budidaya tanaman kelapa sawit, inovasi pengendalian OPT yang diterapkan di perusahaan dalam pengendalian secara terpadu yang memadukan berbagai jenis pengendalian dimulai dari 1) pengendalian kultur teknis dengan menerapkan tindakan pencegahan penyakit melalui aplikasi cendawan Trichoderma sp. dan Mikoriza(skala kecil dan percobaan) pada pembibitan dan penggunaan kecambah kelapa sawit “moderat toleran“ ganoderma dalam upaya menekan infeksi penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit yang disebabkan cendawan Ganoderma boninense. 2)pengendalianmekanis terhadap hama ulat kantong yang sedang digalakkan adalah dengan pemasangan seks feromon perangkap ngengat, demikian juga halnya untuk pengendalian hama kumbang badak (Oryctes rhinoceros), seiring dengan inovasi dan pengembangan penelitian, model perangkap kumbang badak juga mengalami penyesuaian. 3)pengendalian fisik, beberapa perlakuan dan pemasangan “light trap” yang ditujukan untuk memantau populasi hama  yang tertarik dengan cahaya dan aktif terbang malam hari seperti ngengat hama ulat api, 4) pengendalianbiologi merupakan salah satu komponen  pengendali yang ramah lingkungan, efektif dan efisien yang mengkondisikan suatu ekosistem  terjadi hubungan timbal balik  sebagai rantai. PT. Astra Agro Lestari Tbk. telah mengembangkan, memperbanyak mikroorganisme patogen seperti virus dan cendawan yang merupakan spesifik lokal sebagai agensia pengendali hayati seperti virusMono nuclear polyhedral virus(MNPV) yang dikembangkan di propinsi Riau, Beauveria bassiana yang dikembangkan di propinsi Sulawesi Tengah dan Barat untuk mengendalikan hama UDKSMetarhizium anisopliae yang dikembangkan di Aceh, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Tengah u . Patogen ini digunakan sebagai agensia hayati pengendalian hama ulat pemakan daun kelatuk mengendalikan kumbang badak (Oryctes rhinoceros).

Baca Juga :   Kepengurusan GAPKI Riau 2017-2020 Ingin Menjadi Mitra Strategis Pemprov Riau

Pengendalian biologi dengan menggunakan serangga yang bersifat sebagai predator juga sudah dikembangkan mulai tahun 1996  yaitu  burung hantu Tyto alba dan Tyto rosenbergiiuntuk menekan serangan hama tikus, selain itu penggunaannrodentisida biologi dengan bahan aktif protozoa (Sarcocyctis singaporensis) diimplementasikan pada areal kebun dengan konservasi Burung hantu, hal ini untuk mencegah timbulnya kematian apabila digunakan rodentisida kimiawi. Pengembangbiakan massal serangga predatorhama UPDKS yaituSycanus dichotomusdan pelepasan dikebun yang berpotensi terhadap serangan UPDKS

Eksplorasi Potensi Agensia Hayati dan Feromon, suatu inovasi baru dalam  pengendalian ramah lingkungan

Usaha untuk mengeksplorasi sumber-sumber agensia hayati alami (indigeneous) berupa cendawan atau bakteri yang dapat menginfeksi serangga hama, yang berada dilingkungan lanskap perkebunan kelapa sawit akan  lebih sesuai bagi  jenis organisme pengganggu tanaman lokal setempat karena secara alami cendawan penyebab penyakit tersebut memang sudah secara alami ada dan terbentuk dalam ekosistem tersebut.Sumber-sumber agensia hayati tersebut dimanfaatkan melalui bioteknologi sederhana dilakukan isolasi dan perbanyakan secara sederhana sebagai bahan pengendalian hayati organisme pengganggu tanaman untuk mensubtitusi kebutuhan material pengendalian dan sekaligus dapat mengurangi penggunaan  insektisida kimia yang berbahaya

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian XXXIX)

Pada tahun 2015, telah dieksplorasi dan dikembangankan cendawan Metarhizium anisopliae, dan Beauveria bassiana yang asalnya  merupakan indigeneous kebun di Sulawesi Barat telah berhasil dikembangkan dan diimplementasi dalam pengedalian hama kumbang badak di seluruh kebun AAL yang terserang. Namun untuk cendawan  Beauveria bassiana  baru diimplementasi untuk pengendalian Ploneta diducta dan Darna trimadalam skala kecil hanya dikebun Sulawesi Barat. Selanjutnya pada pertengahan tahun 2018 telah berhasil dieksplorasi bakteri Bacillus thuringiensis yang telah diuji dapat membunuh larva Oryctes rhineceros. Dalam kurun tahun 2020, penelitian terus dilakukan untuk mendapatkan media yang sesuai guna pengembangbiakan secara massal, demikian juga penelitian aklimatisasi terhadap cendawan M.anisopliae dan bakteri  B. thuringiensis untuk mendapatkan suhu dan kelembaban yang sesuai bagi pertumbuhan dan kembangan di lanskap kelapa sawit.

Baca Juga :   Melakukan Transformasi Perekonomian Dari Tak Berkelanjutan Menjadi Berkelanjutan (Bagian XIV)

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Hilir Perlu Dijaga

Salam Sawit Indonesia, Pemerintah terus menjaga sektor hilir komoditas terutama sawit terus berkembang. Dengan mengoptimalkan industri hilir diharapkan…