Industri biodiesel bagi Amerika Serikat (USA) bukanlah hal yang baru. Mesin mobil Fold pertama telah menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. Namun Industri biodiesel tidak berkembang akibat energi fosil yang jauh lebih murah tersedia secara internasional. Industri biodiesel kembali berkembang setelah krisis bahan bakar fosil terjadi secara internasional yang memicu kenaikan harga energi fosil. Selain dengan makin langkanya energi fosil, penggunaan energi fosil juga menghasilkan emisi karbon ke atmofir bumi, yang menyebabkan meningkatnya intensitas efek gas rumah kaca, sehingga terjadi pemanasan global dan perubahan iklim global.

Sehingga untuk memetigasi berlanjutnya pemanasan global,perlu pengurangan konsumsi energi fosil dan secara bertahap mengantikannya dengan biodiesel yang memiliki emisi karbon rendah. Perkembangan terakhir menujukan bahwa biodiesel impor khususnya dari Argentina (biodiesel soysa) dan Indonesia (biodiesel sawit) makin meningkat ke Amerika Serikat.

Hal ini tampaknya membuat assosiasi biodiesel (National Biodiesel Board, NBB) dan assosiasi minyak kedelai (American Soybean Association, ASA), Amerika Serikat gusar. Assosiasi minyak kedelai USA melalui pernyataan posisi : Countervailing Duties on Biodiesel Imports yang direlease tanggal 24 Agustus 2017 mengungkapkan bahwa  ASA menilai biodiesel impor dari Indonesia dan Argentina adalah dumping dan disubsidi sehingga mengusulkan diberlakukan anti dumping (BMAD) pada akhir Agustus 2017.

Sumber GAPKI

Share.