Aceh Tamiang Ditargetkan Menjadi Kabupaten Penghasil Sawit Berkelanjutan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kabupaten Aceh Tamiang berupaya mendukung kesejahteraan petani dan perlindungan hutan di wilayahnya dengan meningkatkan produktivitas kelapa sawit berkelanjutan hingga 30 persen lewat kesepakatan Produksi, Proteksi dan Inklusi (PPI).

Program ini telah disetujui oleh Bupati Aceh Tamiang, Mursil, SH., M.Kn., hari ini, Kamis (12/12/19). Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menandatangani kesepakatan PPI ini bersama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Forum Konservasi Leuser (FKL), Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Asosiasi Kelompok Tani dan Nelayan Aceh Tamiang (KTNA) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah III – Aceh.

Dalam Kesepakatan ini, kesemua pihak yang ikut menandatangani kesepahaman bersama tersebut akan memulai program tiga tahun ke depan di Aceh Tamiang, yang dirancang sebagai langkah awal menjadikan Aceh Tamiang sebagai salah satu kabupaten penghasil komoditas lestari di Indonesia.

Kesepakatan PPI juga memuat komitmen untuk meningkatkan perlindungan dan penghijauan kembali kawasan hutan, fungsi pengawasan, kesejahteraan petani, dan terutama melindungi Kawasan Ekosistem Leuser seluas 30.000 hektar.

“Aceh Tamiang akan menjadi salah satu daerah penghasil komoditas lestari di Indonesia. Dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, kami akan meningkatkan sepertiga produktivitas kelapa sawit berkelanjutan. Upaya ini akan diikuti dengan komitmen melindungi dan menghijaukan kembali kawasan hutan, serta memastikan 30 persen petani swadaya di kabupaten ini memiliki sertifikat lahan resmi,” ujar Bupati Aceh Tamiang, Mursil, SH., M.Kn., di sela-sela penandatanganan kesepakatan PPI di Aula Setda Aceh Tamiang seperti dilansir dari laman Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam kesepakatan ini, para pemangku kepentingan akan saling bekerja sama memastikan target produksi kelapa sawit berkelanjutan, perlindungan kawasan hutan dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) serta peningkatan kesejahteraan petani swadaya akan tercapai pada 2023.

“Pemenuhan standar keberlanjutan menjadi suatu keniscayaan yang harus dipatuhi oleh seluruh pelaku industri kelapa sawit nasional. Melalui kesepakatan ini diharapkan Aceh dapat menghasilkan crude palm oil (CPO) yang berkelanjutan dan langsung dapat dipasarkan dari pelabuhan di Aceh,” ujar Sabri Basyah, Ketua GAPKI Aceh.

Untuk memastikan komitmen setiap pihak akan dijalankan, Bupati Aceh Tamiang telah menerbitkan Keputusan Bupati Aceh Tamiang Nomor 680 tahun 2019 tentang Pembentukan Satuan Tugas Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL) Aceh Tamiang. PUPL Ini akan menjadi platform multipihak dalam mengelola komoditas perkebunan lestari Aceh Tamiang sekaligus menjadikan Aceh Tamiang sebagai salah satu kabupaten penghasil komoditas lestari di Indonesia.

Perwakilan dari perusahaan-perusahaan fast moving consumer goods (FMCG), Unilever dan PepsiCo serta produsen minyak sawit, Musim Mas Group, turut hadir dalam acara ini. Ketiga perusahaan ini menjajaki kerja sama di Kabupaten Aceh Tamiang senilai kurang lebih Rp. 10 Milyar untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit berkelanjutan dan kapasitas petani swadaya sembari memastikan perlindungan KEL, di mana Aceh Tamiang sebagai salah satu daerah penyangga penting KEL.

“PepsiCo berkomitmen terhadap transformasi jangka panjang di industri minyak sawit, ini artinya melindungi wilayah yang bernilai istimewa seperti Kawasan Ekosistem Leuser, di mana kami juga mendukung para petani swadaya dan perusahaan-perusahaan agar menjadi lebih tangguh, sejahtera dan lestari. Kami mendukung program percontohan ini yang merupakan kemitraan awal jangka panjang antara PepsiCo dengan para pemangku kepentingan di Aceh Tamiang bagi terwujudnya visi pemerintah kabupaten yang berbasis produksi, proteksi dan inklusi,” ujar Christine Daugherty, Vice President of Global Sustainable Agriculture PepsiCo.

“Untuk melindungi hutan dan satwa liar dalam jangka waktu yang panjang, pendekatan yurisdiksi sangatlah penting dalam memastikan produktivitas komoditas yang berkelanjutan, yang melibatkan pemerintah lokal, pihak swasta dan organisasi masyarakat sipil serta memenuhi kebutuhan komunitas yang hidup di sekitar kawasan hutan. Peningkatan produksi perkebunan dan dukungan terhadap petani swadaya menjadi titik kunci dalam hal ini. Oleh karena itu, kami senang dapat bekerja sama dengan para mitra di Aceh Tamiang, ikut mengembangkan program lanskap yang dapat melindungi Kawasan Ekosistem Leuser dan mendukung penghidupan berkelanjutan di kabupaten ini,” ujar Martin Huxtable, Director of Sustainable Sourcing Unilever.

“Sebagai salah satu pemain besar di industri minyak sawait, kami memiliki tanggung jawab untuk mendorong para pemain lainnya agar mengikuti langkah kami dalam memastikan produksi minyak sawit berkelanjutan – termasuk pihak petani swadaya sawit dalam hal ini,” ujar Olivier Tichit, Director of Sustainable Supply Chain Musim Mas.

Program Produksi, Proteksi dan Inklusi di Aceh Tamiang memberikan kesempatan bagi Musim Mas untuk meningkatkan upaya mereka dalam mendukung petani swadaya lewat kemitraan yang dibangun perusahaan dengan para pemangku kepentingan di industri sawit dan juga dengan pemerintah.

“Kami melihat kesepakatan PPI dan PUPL akan menjadikan Aceh Tamiang memiliki portofolio investasi yang menarik sebagai salah satu daerah penghasil komoditas lestari di Indonesia. Terima kasih kami sampaikan ke pemerintah Aceh Tamiang dan mitra-mitra perusahaan yang memasok dari wilayah ini atau yang akan berinvestasi dalam Kesepakatan PPI Aceh Tamiang. Kabupaten ini dapat menjadi lokasi bagi uji coba pengembangan konsep daerah penghasil terverifikasi (Verified Sourcing Area/VSA),” ujar Fitrian Ardiansyah, Ketua Pengurus Yayasan IDH.

Kontribusi dari setiap pemangku kepentingan yang menandatangani kesepakatan PPI hari ini, lanjut Fitrian, menjadi penting dalam menguji dan mengembangkan konsep VSA di lapangan. Jika proyek percontohan ini berhasil, kabupaten seperti Aceh Tamiang akan menjadi wilayah yang mampu menarik lebih banyak investasi hijau dan perusahaan-perusahaan yang membeli bahan baku dari kabupaten tersebut, sebagai bagian dari perbaikan secara terus menerus atas konsep VSA.

Kesepakatan PPI yang dibangun dengan pendekatan lanskap yurisdiksi ini juga mendukung Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB), dalam menguatkan standar sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan Indonesia sekaligus peningkatan kapasitas bagi para petani swadaya.

Lebih dari 50 persen Area Penggunaan Lain (APL) di Aceh Tamiang merupakan perkebunan kelapa sawit, dimana kelapa sawit menjadi komoditas perkebunan yang berkontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah. Aceh Tamiang sebagai salah satu daerah penyangga KEL berperan penting dalam memastikan praktik perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan pada masa mendatang.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like