Victoria Simanungkalit Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM

Koperasi Petani Sawit Harus Berorientasi Bisnis

Koperasi petani sawit menghadapi masalah pengelolaan sehingga belum dapat berjalan baik di daerah. Hal ini diungkapkan Victoria Simanungkalit saat menjadi pembicara diskusi bertemakan  “Penumbuhkembangan Koperasi Pekebun Sawit Menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani Yang Kuat Dan Sehat Untuk Mendukung Industri Sawit Berkelanjutan”, pada akhir Januari 2019.

Dalam diskusi ini dijelaskan secara gamblang persoalan yang dihadapi koperasi. Yaitu cara mengelola yang tidak baik sehingga sulit mewujudkan kelembagaan ekonomi yang kuat di level petani.

Di hadapan para undangan yang mengikuti diskusi sawit, Victoria Simanungkalit atau yang akrab disapa Vicky menjelaskan bahwa kementerian sedang membuatkonsep baru untuk mendefinisikan bentuk koperasi.

Bagi Victoria yang menjabat Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, urusan koperasi petani menjadi perhatiannya dalam upaya memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Poin kami sekarang, koperasitidak hanyameng hasilkanproduk dalam bentuk komoditi,” jelasnya.

Ia mempunyai mimpi besar menjadikan koperasi sawit yang mampu menghasilkan produk akhir untuk konsumen. Misalnya, terdapar produk minyak goreng yang dihasilkan oleh koperasi sawit.

Baca Juga :   Dirjenbun: Perusahaan Patuh ISPO, Jangan Takut Tekanan NGO

Vicky sadar koperasi sawit perlu diwujudkan dalam upaya membuat produk yang lebih baik. Tetapi, menurutnya, lompatan akan menjadi tantangan bagi koperasi. Selain berpotensi untuk berkembang namun tantangan yang dihadapi juga cukup besar, baik dari internal koperasi, stakeholder mau pun pihak yang ada di lingkungannya.

Dalam pandangannya, industri sawit adalah suatu ekosistem dimana tidak hanya budidaya tanaman sawit tetapi ada proses pengolahan hingga sampai ke pasar (konsumen).

Untuk itu,saat perkebunan sawit memakai skema inti plasma maka koperasi menjadi “pegawai”. Jika petani sebatas menjadi petani alhasil kelembagaan koperasi dimanfaatkan sebagai kredit. Pengurus koperasi tidak pernah diberikan mindsetbisnis.

“Jika di sektorindustri, semua komponen yang terkait harus mempunyai mindset bisnis karena semua saling terikat,” jelas Vicky.

Sudah lumrah tentunya seorang pembeli (konsumen), jika ingin membel produk akan memilih sesuai dengan spesifikasi diinginkan. Dalam konteksini, apakah petani yang posisinya ada di hulu mampu memberikan sumber bahan baku yang bisadi inginkan oleh pasar. Kondisi ini tidak dipahami oleh petani dan pengurus koperasi.

Baca Juga :   Harga Gas Ditetapkan US$ 6/MMBTU, Pelaku Industri Optimis Kian Bersaing

“Petani hanya diberi bibit, ditanam apa adanya, TBS dibeli dengan apa adanya tidak mendorong untuk maju, tidak mendorong mereka untuk berpikir bisnis bahwa mereka bagian dari value chain (rantainilai),” tegas Vicky.

Vicky mengingatkan saat itu petani dan koperasi begitu gagahnya. Dan, kami juga sering menunjukkan kehidupan petani yang menempati rumah yang kurang layak menjadi bagus, yang tidak mempunyai kendaraan bermotor jadi punya. Tetapi setelah tanaman sawit memasuki masa replanting di usia 25tahun.

“Mereka (petani dan koperasi) tidak mempunyai uang untuk replanting (peremajaantanamansawit) dan parahnya tidak mau melakukan penanaman ulang. Penyebabnya, mereka khawatir tidak akan mendapatkan hasil. Kondisi ini, juga kami evaluasi,” ujar Vicky.

Masalah yang terjadi, tidak adanya mindset bisnis petani dan koperasi. Jika mereka mempunyai mindset bisnis maka dapat memahami usia tanaman sawit sudah waktunya untuk direplanting. Berapa dana yang harus sisihkan dari pendapatan untuk keperluan replanting. Mulai membeli bibit dan mengantisipasi memperoleh pendapatan.

Baca Juga :   Produsen Minyak Nabati Eropa Diduga Lakukan Dumping

“Inilah yang tengah kami sampaikan di saat pemerintah sedang menggaungkan replanting. Artinya kesalahan yang lalu jangan diulangi kembali,” pungkas Vicky.

Vicky juga menegaskanapa yang harus dilakukan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi petani di level desa yang dapat meningkatkan posisi tawar, untuk mengefisienkan biaya. “Jargon itu benar tetapi apakah koperasi mampu memainkan peranan tersebut,” katanya.

Menurutnya, koperasi dalam pengembangan kelapa sawit mempunyai berbagai peran diantaranya sebagai kuasa petani dalam penyaluran kredit investasi, mediasi petani dengan mitra usaha dan bank pelaksana, meningkatkan posisi tawar dengan stakeholder lainnya, fasilitasi pengembangan kebun secara kelompok, fasilitasi peningkatan SDM petani, dapat sebagai penjamin (untuk koperasi yang sudah maju).

Tantangannya, koperasi harus menjadi lembaga ekonomi mandiri, tidak mengharapkan charity, harus berpikir bisnis dan menghitung bisnis secara benar.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

ISPO Berbeda Dengan SVLK

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil berbeda dengan sertifikat SVLK (Sistim Verifikasi Legalitas Kayu). Gamal…