UKMK Sawit Berpeluang Tembus Pasar Global

Kementerian Koperasi dan UKM punya tiga strategi membantu pengembangan Usaha Kecil Menengah Koperasi (UKMK) sawit. Pandemi dapat menjadi peluang untuk menembus pasar domesti dan negara lain.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya memiliki sejumlah strategi untuk menumbuhkan UMKM sawit. 

“Ada tiga kunci agar UMKM berbasis sawit dapat tumbuh. Pertama, petaninya terkonsolidasi, tidak perorangan lagi, dan melalui koperasi. Kedua, terjalinnya kemitraan yang baik. Salah satu indikatornya adalah terfasilitasinya koperasi tani masuk ke dalam rantai nilai global. ujar Tetendalam webinar bertemakan “Strategi UKMK Berbasis Kelapa Sawit di Era Pandemi”, akhir April 2021.

Faktor berikutnya, kata Teten adalah pengembangan inovasi, R&D, hilirisasi produk sawit agar memiliki nilai tambah.

Teten menyebutkan agenda membangun dan mengembangkan UKM berbasis sawit ini relevan di tengah upaya Pemulihan Ekonomi Nasional akibat pandemi Covid-19. 

Teten mengakui, komoditi sawit memiliki peran penting dalam ekonomi perkebunan dan pertanian nasional. Berdasarkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), ekspor komoditas sawit di tahun 2020 mencapai US$ 22,97 miliar atau setara Rp321,5 triliun. Angka ini tumbuh naik 13,6% dibandingkan pada tahun 2019. 

Tahun ini, lanjut Teten, pihaknya memiliki prioritas melahirkan 100 koperasi modern. “Kami terbuka untuk bersinergi melahirkan koperasi sawit yang modern dan mendunia,” tandas MenkopUKM. 

Lebih dari itu, kata Teten, ada Lembaga Pengelola Dana Bergulir atau LPDB-KUMKM untuk melengkapi pembiayaan dari BPDPKS sebelumnya. “Pasar energi terbarukan dan konsumsi produk ramah lingkungan juga terus membesar, baik di dalam maupun luar negeri. Ini peluang untuk melahirkan produk-produk sawit unggulan,” tukas Teten. 

Teten menambahkan, tanah Indonesia subur, petani juga jumlahnya banyak dan rajin-rajin. “Maka, kolaborasi antara koperasi tani dengan perguruan tinggi dan pelaku usaha lainnya akan mengubah kekuatan tadi menjadi keunggulan bagi bangsa kita,” kata MenkopUKM. 

Teten bercerita, sebelum pandemi, dirinya bersama Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil sempat ke Malaysia untuk melihat FELDA (The Federal Land Development Authority) dan FELCRA (Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority). 

“Meski dua entitas itu berbeda, namun kelembagaan ini punya tugas yang sama. Yaitu, mengatasi kemiskinan dengan optimalisasi tanah rakyat, termasuk melalui perkebunan sawit terpadu,” pungkas MenkopUKM.

Dalam webinar tersebut, ia mengajak Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk berkolaborasi. “Kita bisa piloting korporatisasi petani bersama BPDPKS. Lalu bisa kita ajak Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo). Nanti tinggal tunjuk lokasi dimana. Untuk selanjutnya dilaporkan kepada Presiden Jokowi,” ujar Teten.

Eddy Abdurrachman, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyambut baik ajakan Menteri Teten Masduki. Dirinya menyatakan BPDPKS siap bekerjasama untuk mewujudkan program strategis pemerintah.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 115)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like