JAKARTA, Pemanfaatan produk olahan berbahan minyak sawit terus berkembang di kalangan pelaku Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (UKMK). Kini, pelaku UKMK mengembangkan beragam kreasi dan inovasi produk olahan sawit lainnya seperti Virgin Red Palm Oil (VRPO), mie instan, rendang sawit, dan kue olahan seperti bolu serta kue kering.

Putu Juli Ardika, Direktur Industri Agro Kementerian Perindustrian RI menjelaskan bahwa Indonesia telah menempati posisi negara produsen sawit terbesar di dunia. Produk olahan sawit telah berkembang untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan seperti minyak goreng sawit, creamer, shortening, dan cocoa butter.

“Dengan adanya sawit membuat kuliner dan makanan Indonesia semakin beragam. Kuliner Indonesia telah menjadi bagian kearifan lokal dalam memilih, memilah, dan mencampur makanan,” ujar Putu Juli saat memberikan pidato kunci dalam webinar bertemakan “Tren Bisnis Pangan dan Kuliner UKMK Berbasis Minyak Sawit Sehat” yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Rabu (23 Maret 2022).

Putu Juli menjelaskan bahwa kandungan nutrisi di dalam minyak sawit sangat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Kandungan tokotrienol dan vitamin E serta antioksidan memberikan manfaat positif bagi mayarakat. Diantaranya nutrisi di dalam minyak sawit dapat mengurangi resiko penyakit  dimensia dan stroke.

“Pengalaman saya sewaktu ke Belgia, produsen coklat setempat mengakui dapat menghasilkan coklat enak karena adanya sawit. Kita beruntung memiliki sawit karena mendukung adanya pembuatan makanan yang baik, sehat dan enak,” ujar Putu.

Achmad Maulizal Sutawijaya, Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, menjelaskan bahwa sesuai amanat Perpres No. 61/2015 jo.Perpres No.66/2018, BPDPKS merupakan Badan Layanan Umum yang bertugas menjalankan kebijakan pemerintah dalam pengembangan sawit berkelanjutan melalui penghimpunan, pengembangan, dan penyaluran dana sawit secara professional dan akuntabel.

“Kelapa sawit menjadi pendorong sektor ekonomi Indonesia. Secara data, kelapa sawit andalan ekspor Indonesia naik harganya 42,4% year on year. Rata-rata nilai ekspor sawit 21 miliar dolar setiap tahun. Begitupula penerimaan negara dari kelapa sawit mencapai Rp 14 triliun hingga 20 triliun setiap tahun. Dapat disimpulkan betapa signifikannya kelapa sawit berkontribusi untuk negara,” ujarnya.

Achmad Maulizal mengatakan produk kelapa sawit sangat familiar yang mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat. Minyak goreng sangat familiar. Walaupun masih banyak penggunaan produk sawit bagi masyarakat seperti kue, roti, dan biskuit.”Produk sawit diakui sangat terjangkau dan bermanfaat bagi masyarakat baik dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Dr. Darmono Taniwiryono, Direktur PT Nutri Psalma Nabati menjelaskan bahwa minyak sawit sehat adalah lemak sawit (sehat) yang di dalamnya  terlarut  betakaroten dan Vitamin E dalam konsentrasi yang tinggi serta Co-Q10, likopen, DAG, MAG, dan ALB, rendah Omega 6, tidak mengandung kolesterol, transfat, 3-MCPD dan GE.

“Sewaktu berkunjung ke Afrika, saya lihat masyarakat setempat mengonsumsi minyak sawit merah yang tidak melalui proses  rafinasi dan deodorisasi. Dari situ saya lihat, orang Afrika jarang menggunakan kacamata,” ujar Darmono.

Menurut Darmono, kandungan vitamin E di dalam minyak sawit dalam bentuk tocotrienol. Sejatinya lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain.”Potensi antioksidan jauh lebih tinggi dari minyak nabati lainnnya. Sebagai antioksidan, kekuatan tokotrienol minyak sawit 16 kali lebih tinggi daripada tokoferol,” ujar Darmono.

Dijelaskan Darmono, lemak jenuh di dalam minyak sawit sangatlah bagus bagi tubuh manusia. Secara tidak sadar, masyarakat mengonsumsi virgin coconut oil yang kadar lemak jenuhnya mencapai 90%. Di dalam Air Susu Ibu (ASI), kadar lemak jenuh mencapai 37%.

“Masyarakat seharusnya tidak perlu takut mengonsumsi lemak jenuh karena sedari kecil sudah ada dalam tubuh melalui ASI,” urainya.

Ia mengatakan Virgin Red Palm Oil atau minyak sawit merah dapat ditambahkan ke makanan dan minuman. Sebagai contoh, mie instan dapat diberikan tambahan minyak sawit merah. Juga dapat ditambahkan ke kue kering, kue basah, dan kopi susu.

“Dari uji laboratorium, kue kering yang menggunakan Virgin Palm oil mengandung betakaroten sebesar 45 IU. Alhasil mengandung vitamin E lebih tinggi karena vitamin E tahan terhadap suhu tinggi,” ucapnya.

Iin Arlina, Pemilik Bolu Sawit, menceritakan pengalamannya meracik resep pembuatan bolu sawit yang berasal dari Bungo, Jambi. Pembuatan bolu sawit ini dari himbauan Bupati Bungo kepada UMKM makanan dan kuliner untuk menghasilkan produk inovasi unggulan dari sawit.

“Saya meracik resep yang berasal dari buah sawit dalam bentuk bolu. Keunggulan bolu sawit adalah bolu ini nikmat dikonsumsi karena punya aroma dan rasa berbeda dari bolu lainnya. Bolu sawit ini tekstur wangi sebagai kebanggaan Bungo,” ujarnya.

Tantangan pembuatan bolu sawit, dikatakan Iin, pembuatan masih manual. Di buah sawit masih banyak duri-duri yang harus dipisahkan.”Sekarang ini permintaan bolu sawit datang dari daerah lain seperti Jakarta, Lombok, dan Bandung,” ujarnya.

Ke depan, Iin akan menghasilkan produk kuliner dari sawit yaitu bolu sawit kering, sagoon sawit, selai sawit, dan dodol sawit.

Share.