Tiongkok Hapuskan Kuota Impor Sawit, Ekspor Indonesia Berpeluang Naik

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Imbas perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat akan berdampak positif bagi perdagangan minyak sawit. Kementerian Perdagangan Tiongkok secara resmi mengumumkan rencana penghapusan kuota impor tiga produk minyak nabati yaitu kedelai, rapeseed (rapak) dan minyak sawit.

Kebijakan pemerintah Tiongkok berkaitan dengan keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif 10 persen terhadap produk impor China senilai US$300 miliar dolar. Bahkan sejumah perusahaan Cina telah berhenti membeli produk pertanian negera Paman Sam.

Rencana penghapusan kuota tarif tiga produk tersebut sedang dikaji pemerintah Tiongkok. Jika draf ini disetujui maka komoditas tadi tidak akan dikenakan pembatasan sebagaimana berlaku kepada produk lain seperti gandum, jagung dan beras.

Kementerian Perdagangan Tiongkok akan melakukan uji publik terhadap draf penghapusan kuota impor minyak sawit termasuk kedelai dan rapeseed. Uji publik akan dibuka sampai 22 Agustus 2019.

Apabila draf ini disetujui, Indonesia berpeluang meningkatkan pasar ekspor sawit ke Tiongkok. Togar Sitanggang, Wakil Ketua Umum GAPKI, mengapresiasi kebijakan pemerintah Tiongkok yang akan berdampak baik bagi industri sawit dalam negeri. Walaupun, produk sawit akan berkompetisi ketat dengan kedelai (soya) untuk mendapatkan pasar di Tiongkok. Selama ini, Tiongkok membeli kedelai yang dipakai mengisi kebutuhan bungkil (meal) bagi pakan ternak, sedangkan minyak kedelai tidak terlalu tinggi permintaan.

“Harga belum tentu terangkat karena akan berkompetisi dengan soya. Ekspor (sawit) berpeluang naik tetapi tidak secara langsung ,” kata Togar.

Semester I 2019, merujuk data GAPKI, China membukukan impor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 39% atau dari 1,82 juta ton periode Januari – Juni 2018 melambung menjadi 2,54 juta ton pada periode yang sama 2019.

Peningkatan permintaan dari Tiongkok merupakan salah satu dampak dari perang dagangnya dengan AS dimana Negeri Tirai Bambu ini mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan beberapa kebutuhan dengan minyak sawit.

29 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like