Tantangan Komunikasi Industri Sawit Makin Berat

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Industri sawit akan menghadapi tantangan besar di dalam dan luar negeri pada tahun ini. Tantangan ini bersumber dari kampanye negatif maupun kebijakan perdagangan yang berupaya menjegal perdagangan sawit.

Analisisi ini disampaikan Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam perbincangan melalui sambungan telepon, Senin (4 Januari 2021). Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos pada 2007 ini menyampaikan tantangan sawit di dalam dan luar negeri dari perspektif komunikasi.

Tofan menjelaskan daya saing sawit semakin menguat karena dukungan regulasi pemerintah Indonesia maupun situasi perdagangan global minyak nabati.  Di luar negeri, penguatan daya saing sawit berupaya dilemahkan oleh negara produsen minyak nabati lainnya melalui serangkaian strategi yang bersifat massif, sistematis, dan terukur.

“Daya saing sawit ini terus menguat. Tetapi berupaya dilemahkan (daya saingnya). Upaya ini terlihat dari berbagai isu sawit di negara Eropa antara lain Swiss dan Inggris dalam aspek kebijakan dagang,” ujar Tofan.

Pergantian kepemimpinan dari Donald Trump kepada Joe Biden juga akan berdampak terhadap perdagangan minyak sawit di  Amerika Serikat. Tofan menganalisis bahwa dalam pidato Joe Biden menekankan isu perubahan iklim. Presiden negara Paman Sam ini sempat menyatakan alokasi dana perubahan iklim akan ditingkatkan termasuk dari segi kebijakan.

Langkah Biden ini, dikatakan Tofan, akan berdampak terhadap kampanye dan kebijakan sawit. Kampanye anti sawit berpeluang semakin massif. Ini terlihat semenjak akhir 2020, isu negatif sawit kian meluas yang menyasar persoalan tenaga kerja. Baru-baru ini, Associated Press (AP) – kantor berita yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat – mempublikasikan laporan berkaitan dugaan kekerasan seksual dan pekerja di perkebunan sawit.

“Serangan terhadap sawit tidak lagi dari Eropa. Melainkan mulai berjalan di Amerika Serikat. Dengan adanya komitmen (dana) perubahan iklim akan menjadi peluru bagi NGO anti sawit. Kita perlu antisipasi masalah ini,” ungkapnya.

Tofan menjelaskan isu sawit yang dibawa LSM trans nasional perlu diwaspadai karena dapat menjadi bahan kampanye LSM di dalam negeri. Itu sebabnya, semangat nasionalisme LSM di Indonesia jangan sampai luntur.

“Sebaiknya, mereka tidak serta merta menelan informasi negatif dari negara maju. Terutama dari LSM negara maju yang memang didanai khusus untuk menekan kelapa sawit,” jelas Penulis “Buku Pena Di Atas Langit” ini.

Ancaman terhadap sawit tidak bisa dihadapi sendiri oleh pelaku industri. Butuh dukungan dan kerjasama semua pihak untuk membendung isu negatif. Tofan mengatakan perusahaan sawit yang tergabung dalam GAPKI telah maksimal dalam rangka menyakinkan stakeholder lain terutma di luar negeri supaya mendukung minyak sawit. “Kita tidk bisa sendiri. Perlu dukungan dari pemerintah mensinergikan  program kampanye sawit supaya lebih efektif dan tepat sasaran,” ujar Tofan.

Ia mengatakan kegiatan promosi sawit telah berjalan baik melalui lembaga pemerintah seperti BPDPKS. Kampanya positif perlu menggandeng Kementerian lain seperti Kementerian Kominfo, Kementerian Ristek Dikti serta Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

Begitupula dari aspek komunikasi perlu, menurutnya harus dirancang platform komunikasi yang semula fokus konvensional menjadi digital. Perlu advokasi serta public awareness di media sosial.

“Tantangan komunikasi menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah terutama di bawah Kemendag. Strategi kampanye sawit dapat dilakukan lebih efektif dan mengena. Tidak saja pengambil kebijakan di Eropa tetapi juga masyarakatnya,” jelas penerima alumni fellowship jurnalistik Departemen Luar Negeri AS.

Kegiatan edukasi dan sosialisasi aspek positif sawit perlu diperluas kepada publik negara konsumen sawit. Ia mencontohkan keunggulan sawit dari efisiensi lahan dan nutrisi melalui penempatan informasi di sarana publik. Sebagai contoh, kampanye komunitas muslim di Inggris yang berdampak positif terhadap pandangan Islam. Begitupula, peranan atase perdagangan dan diplomat sangatlah penting untuk menjelaskan perkembangan positif sawit.

“Sawit telah menjadi komoditas strategis dan penyeimbang neraca dagang. Kemampuan ini perlu dipertahankan supaya daya saing maupun kontribusinya tetap terjaga,” pungkas Tofan menutup pembicaraan.

 

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like