Tanah Harapan Elaeis (Bagian XLVI)

Dan sebagai penghasil CPO terbesar dari 22 provinsi penghasil CPO di Indonesia, Riau menaruh harapan besar supaya pemerintah melakukan mandatory terhadap B50 ini. “Dalam setahun Riau menghasilkan 7 juta ton CPO. Kalau  B50 itu bisa terealisasi, otomatis ini akan sangat berdampak positif terhadap ekonomi petani kelapa sawit. Sebab dari 4,4 juta hektar kebun kelapa sawit di Riau, lebih dari separuh adalah milik petani swadaya. Selain menguntungkan petani, kehadiran B50 ini tentu akan sangat berdampak pada ketahanan energi  dan harga diri bangsa. Kita tidak lagi tergantung pada asing saat kita sudah mengandalkan biodiesel,” kata Ketua umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Medali Emas Manurung.

Lelaki 47 tahun ini sebelumnya adalah ketua DPW APAKSINDO Provinsi Riau. Ayah dua anak ini naik kelas setelah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub)di gelar di Inna Hotel Parapat (Sumut), Maret 2019). Hanya saja oleh hitung-hitungan azaz keseimbangan antara konsumsi pangan dan konsumsi energi, peluang  B50 ini untuk bisa diproduksi massal baru ada pada tahun 2023.

“Itu pun baru hanya untuk konsumsi alat transportrasi. Lagi-lagi saya katakan ini juga bisa terjadi jika situasi berjalan normal. Artinya normalnya keadaan antara ekspor, komsumsi pangan dan energi. Sebab semuannya tidak bisa serta merta. Engak bisa langsung loncat. Beda kalau pemerintah memutus beberapa negara tujuan CPO. Berarti CPO yang tadinya diekspor, bisa dipakai untuk biodiesel,” terang Ratnawaty.

Ratna kemudian menyodorkan data bahwa konsumsi B20 tahun 2018 mencapai 4,2 juta ton. Lalu jika tahun ini di bikin B30, maka kebutuhan konsumsi mencapai 4,85 juta ton. Dan  apabila tahun 2020 bikin B35, maka kebutuhan mencapai 5,94 juta ton.

Penulis : Abdul Aziz

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like