Tanah Harapan Elaeis (Bagian LXXVIII)

Otomatis penolakan Basuki tadi menjadi sinyal bagi Hendri Alfian, bahwa tanah yang dia sodorkan untuk dibikinkan surat adalah kawasan hutan. “Sudah turun temurun kami tinggal di di Desa Alim. Kok bisa kami berada dikawasan hutan?” Ayah satu anak itu membantin. Sebenarnya bukan cuma Hendri dan orang-orang di Desa Alim yang merasakan situasi semacam itu. Di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar , Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Kampar, Febrinaldi Tridarmawan, bercerita bahwa dari 14 desa yang ada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, 8 desa diantaranya berada didalam Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB). Kalau ditotal-total tak kurang dari 5.000 manusia terjebak di dalam kawasan itu.

Di Inragiri Hilir (Inhil), seorang petugas pemetaan pada Bidang Tata Ruang Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Inhil bercerita pula kalau Kecamatan Concong masuk dalam kawasan lindung. Belum lagi sejumlah perkampungan tua di “Negeri Seribu Parit” itu juga masuk dalam kawasan hutan. Di bagian Utara Riau, di kawasan Bagan Benio Kecamatan Tualang Muandau Kabupaten Bengkalis, hampir 100 jiwa terjebak dalam kawasan Cagar Biosfer Giam  Siak Kecil Bukit Batu, walau perkampungan itu sudah ada sejak tahun 1936 silam.

Balik lagi ke Inhu, Joni Sigiro hanya bisa mengurut dada setelah perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Bukit Betauh Sei Indah (BBSI) mengklaim kalau tanah seluas 20 hektar yang dia beli bersama keluarganya pada 2014, masuk dalam konsesi perusahaan.

Penulis : Abdul Aziz

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like