Tanah Harapan Elaeis (Bagian LXXIV)

Rinciannya; biaya pembuatan reservoir Rp. 40,5 juta perhektar, peraturan tata air yang didasarkan pada pemanfaatan air yang didasarkan pada manfaat air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Rp. 22,81 juta perhektar, biaya pengendalian erosi dan lintasan akibat konversi hutan alam Rp. 6 juta perhektar. Kemudian biaya pemulihan tanah Rp. 500 ribu per hektar, pendaur ulang unsur hara Rp. 4,61 juta perhektar, pengurai limbah Rp. 435 ribu perhektar, pemulihan keanekaragaman hayati Rp. 2,7 juta per hektar, pemulihan sumber daya alam genetik Rp. 410 ribu perhektar, pemulihan akibat hilangnya unsur karbon Rp. 90 ribu perhektar.

Itu baru rincian biaya untuk memperbaiki ekologi yang sudah rusak. Untuk memperbaiki kerugian secara ekonomi begini pula hitungannya; kerugian kayu alam Rp. 3,3 juta permeter kubik. Kerusakan tanah akibat terpakai Rp. 32 jut perhektar. Pertannyaanya, berada duit yang dibutuhkan untuk memperbaiki ekologi 160 ribu hektar pertahun tadi?

Baca Juga :   Riset Tulang Punggung Industrialisasi

Nelangsa di “Tanah Haram”

Lelaki 52 tahun ini hanya bisa terdiam menahan dongkol setelah Camat Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Basuki, menolak permohonan pertumbuhan surat tanah miliknya di Desa Alim pada 2015 lalu. Alasan Basuki menolak lantaran Bupati Inhu, Yopue Arianto, telah menebar surat yang melarang setiap Camat mengeluarkan surat pada lahan yang bersetatus kawasan hutan.

Penulis : Abdul Aziz

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like