JAKARTA, SAWIT INDONESIA -Bahkan-Bahkan peningkatan produktivitas kebun sawit akibat dampak peneurunan suku bunga kredit, dapat mengkompensasi dampak pajak ekspor minyak sawit yang dilakukan pemerintah. Barangkali mengapa pelaku kebun sawit di Indonesia lebih cenderung menempuh perluasan areal kebun (ekstensifikasi) dari pada peningatan produktivitas (intensifikasi) untuk meningkatkan produksi minyak sawit, juga terkait dengan mahalnya biaya modal tersebut.

Demikian juga mengapa sawit rakyat kesulitan membangun PKS dan bahkan replanting kebun, juga terkait dengan suku bunga kredit yang mahal tersebut. Industri hilir merupakan teknologi padat modal baik pada level pabrik maupun pada level kawasan industri. Sesuai dengan teori keunggulan komparatif (Comparative advantages) maka industri padat modal akan berkembang pada negara dimana biaya modal lebih murah.

Tingkat suku bunga kredit di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunga kredit di negara-negara tujuan ekspor minyak sawit  Indonesia seperti China dan India. China sebagai salah satu negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, tingkat suku bunga kredit hanya 5,5 persen per tahun. Demikian juga di India yang juga negara tujuan eskpor minyak sawit Indonesia, tinggkat suku bunga kredit sekitar 10,5 persen per tahun.

Tingkat Suku Bunga Kredit Indonesia Dibandingkan Negara Tetangga

Negara 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Rataan
Indonesia 13,6 14,5 13,3 12,4 11,8 11,7 12,6 12,7 11,9 12,7
Thailand 7 6 5,9 6,9 7,1 7 6,8 6,6 6,3 6,6
Malaysia 6,1 5,1 5 4,9 4,8 4,6 4,6 4,6 4,9 4,9
Philipina 8,8 8,6 7,7 6,7 5,7 5,8 5,5 5,6 5,6 6,7
Singapura 5,4 5,4 5,4 5,4 5,4 5,4 5,4 5,35 5,35 5,4
India 13,3 12,2 8,3 10,2 10,6 10,3 10,3 10 9,7 10,5
China 5,3 5,3 5,8 6,6 6 6 5,6 4,4 4,4 5,5

Sumber : World Bank Indicators (2017)

Sumber: GAPKI

Share.