JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah menunjukkan komitmennya semenjak awal pengembangan bioavtur. Bioavtur J2.4 adalah bahan bakar campuran yang dihasilkan dari 2,4 persen minyak inti sawit atau Refined Bleached Degummed Palm Kernel Oil (RBDPKO) melalui proses katalis.

“Indonesia memasuki pengembangan bahan bakar nabati jenis bioavtur. Urusan pendanaan pengembangan bioavtur sebagian besar didukung BPDPKS,” ujar Dadan Kusdiana, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM RI, Rabu (6 Oktober 2021).

Selain itu, pengembangan bioavtur ini juga didukung berbagai pihak. Pengembangan bioavtur ini diproduksi di Kilang Pertamina. Menggunakan katalis hasil pengembangan ITB dan Pertamina. Selanjutnya, engine disupport GMF dan PT Dirgantara Indonesia.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), Eddy Abdurrachman menyatakan BPDPKS berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi dan dukungan dana penelitian dalam rangka mendukung program Pemerintah untuk mencapai target bauran energi, diantaranya dukungan riset untuk pengembangan biodiesel, pengembangan biohidrokarbon,lainnya serta pemanfaatan biomassa menjadi energi.

Melalui pendanaan penelitian yang diberikan kepada ITB, diketuai oleh Prof. Subagjo telah dihasilkan inovasi pengolahan dan produksi green diesel, green gasoline yang disebut bensin sawit dan green avtur yang disebut sebagai bioavtur.

Dukungan pendanaan untuk pengujian bioavtur ini diberikan mulai dari pengujian statis hingga uji terbang. Untuk pengujian bioavtur secara akademis telah dimulai di Fakultas Mesin dan Dirgantara ITB sejak tahun 2012 dalam skala laboratorium.

Berkaitan insentif kepada bioavtur, BPDPKS masih menunggu arahan kebijakan dari pemerintah.”Sampai sekarang regulasinya belum ada untuk memerintahkan kepada BPDPKS. Apakah akan diberikan insentif sebagaimana program mandatori B30,” ujarnya.

Pada tahun 2019-2021, BPDPKS melalui Kegiatan Penelitian dan Pengembangan yang diketuai oleh Prof. Subagjo, memberikan dukungan pendanaan untuk rangkaian kegiatan Uji Terbang Bioavtur.

Diawali dengan kegiatan uji statik Test Cell yang dilakukan pada 22 Desember 2020 dan 25 Mei 2021 yang menggunakan fasilitas dari PT. GMF-Aeroasia yang disepakati menggunakan mesin GE CFM56-300, dimana mesin ini biasa dipakai pada pesawat Boeing B737-300 atau B737-400. Dilanjutkan dengan uji dan analisa sifat fisika dan kimia dari bioavtur J2.0 dan J2.4 maupun Jet A1, untuk memenuhi persyaratan kelaikan uji.

Proses evaluasi avtur dan bioavtur diperlukan sebelum pelaksanaan pengujian di test cell dimana hasilnya harus memenuhi standar dan ASTM D1655.  Jika semua hasil analisis siap maka pelaksanaan pengujian avtur dan bioavtur kemudian dilanjutkan pada uji di test cell lanjutan dan uji terbang.

Perjalanan panjang telah dilalui untuk sampai di tahap keberhasilan uji terbang. Dimulai melalui sinergi penelitian antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) dalam pengembangan katalis “MerahPutih” untuk mengkonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur pada tahun 2012. Selanjutnya kerja sama diperluas bersama PT KPI (Kilang Pertamina Internasional) untuk melakukan uji produksi co-processing skala industri di Refinery Unit (RU) IV Cilacap untuk mengolah campuran RBDPKO (Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil) dan kerosin menggunakan katalis merah putih, sebagai salah satu inovasi karya terbaik anak bangsa. Pada pengujian ini telah berhasil diproduksi bioavtur 2,4 %-v yang disebut dengan J2.4.

Selanjutnya serangkaian uji teknis dilakukan, hingga pelaksanaan uji terbang dari tanggal 8 September hingga 6 Oktober 2021 termasuk pengujian In-flight Engine Restarting. Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Kegiatan ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Hilirisasi Industri Katalis dan Bahan Bakar Biohidrokarbon yang dikoordinasikan oleh Kementerian ESDM, serta termasuk dalam etalase Prioritas Riset Nasional (PRN) Pengembangan Teknologi Produksi Bahan Bakar Nabati berbasis Minyak Sawit dan Inti Sawit, yang dikoordinasikan oleh Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN).

Share.