Sudiono Widjaja: Dukungan Prima Sarana Mustika Bagi Mekanisasi Sawit

PT Prima Sarana Mustika memiliki layanan rental dan kontaktor untuk membantu pembangunan kegiatan perkebunan sawit serta infrastruktur.

Sudiono Widjaja, Chief Operating Officer PT Prima Sarana Mustika, mendukung kegiatan mekanisasi di perkebunan sawit sebagai bagian peningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya produksi. Perusahaan yang berdiri tujuh tahun lalu ini mempunyai dua unit bisnis: unit Contracting dan Rental.

Unit Contracting telah berpengalaman menjalankan kegiatan di perkebunan sawit seperti infrastruktur, pengerasan badan jalan, dan upgrading jalan.

Menurut Sudiono, perusahaan telah berpengalaman di banyak daerah untuk mengerjakan kegiatan konstruksi antara lain coal hauling, cut and fill, dan bendungan.

Akses jalan sangat penting bagi urat nadi bagi bisnis perkebunan sawit karena kelancaran transportasi buah menjadi penentu protas.

“Kami punya tim spesialis mengerjakan bidan konstruksi sipil. Pengalaman tim sudah teruji di berbagai daerah dan medan,” ujarnya.

Selain pembangunan infrastruktur, dikatakan Sudiono, tim mampu mengerjakan kegiatan peremajaan tanaman (replanting). Jadi, memang replanting ini sangat diperlukan untuk peningkatan produktivitas. “Pekerjaan replanting  terdapat beberapa proyek baik excavator dengan metode chipping dan proyek lainnya. Lalu, ada wood chipper memakai unit yang diageni PT Wahana Inti Selaras,” jelasnya.

Unit bisnis lainnya adalah equipment rentalyang  menyediakan persewaan alat berat di sektor perkebunan. “Perlu dicatat bahwa mekanisasi tidak lepas dari investasi alat berat. Bagaimana dapat mengelola investasi tersebut supaya dapat menghasilkan produktivitas tinggi dan sesuai rencana,” ujarnya.

Produk rental alat berat yang ditawarkan antara lain Manitou, John Deere, dan Volvo. Sebagai contoh, produk John Deere dikembangkan untuk membantu kegiatan mekanisasi di perkebunan sawit.

Sudiono mencontohkan penggunaan unit John Deere dapat dilakukuan secara berkesinambungan dan terintegrasi mulai dari solusi panen secara infield sampai kepada koneksi di Tempat Pengumpulan Hasil  (TPH) serta transportasi buah sawit di pabrik.

Solusi lain adalah pempukan dan juga peningkatan kualitas jalan maupun perawatannya. Pemeliharaan jalan ini sangat penting dalam mendukung kegiatan mekanisasi di perkebunan. Apabila jalan kebun rusak akan berdampak kepada kualitas buah maupun aktivitas lainnya.

Faktor pendukung mekanisasi lainnya adalah pemeliharaan aset dan unit alat berat. Pemeliharaan ini bersifat jangka menengah dan panjang. Dengan pemeliharaan yang baik akan menjaga pengeluaran komponen biaya perawatan. Merawat unit ini begitu penting untuk pengoperasian alat. Dicontohkan bahwa unit yang tidak dirawat baik akan berdampak kepada bahan bakar. “Bahan bakar ini sangat besar pengaruhnya kepada komponen biaya,” ujar Sudiono.

Sudiono menuturkan bahwa PSM memiliki layanan dan kemampuan untuk membantu mengelola aset alat berat. Layanan ini sangat dibutuhkan customer supaya unit dapat beroperasi baik. Ini semua akan mempengaruhi keuangan perusahaan.

“Disinilah pentingnya manajemen aset melalui penggunaan teknologi telematik. Manfaat teknologi ini dapat mengawasi pergerakan unit apakah posisinya idle atau beroperasi. Kalaupun terjadi breakdown (kerusakan) ini dapat terlihat dimana lokasi unit berada,” jelasnya.

Menurutnya, teknologi telematik ini mempunyai keuntungan dari segi digitalisasi dalam upaya meningkatkan efisiensi  dan produktivitas alat berat. Manfaatnya mampu mengawasi kegiatan unit secara realtime dan dapat dikelola lebih efektif. Selain fitur lokasi (map), ada lainnya seperti laporan rekam jejak unit (history report).

“Teknologi ini akan membantu produktivitas harian seperti lokasi. Lalu bisa terlihat semua sehingga dapat membantu untuk mengelola unit. Selain itu, kami bisa menjadwalkan servis jadwal unit. Lalu mempersiapkan sumber daya untuk menservis unit tepat waktu. Hal ini sangat pentiung untuk menentukan kehandalan alat. Service in time juga menentukan kehandalan unit dalam upaya merencanakan servis berikutnya dan perbaikan periode servis berikutnya,” ujar Sudiono.

Selain itu, kata Sudiono, unit tersebut mempunya sistem GPS untuk dapat dipagari secara koordinat. Saat unit bekerja di koordinat yang telah ditentukan, maka ketika unit keluar dari koordinat akan muncul alarm peringatan. Ini beberapa contoh teknologi telematik yang dipergunakan sebagai best practice dalam teknologi.

Dengan telematik,  maka kita dapat melihat masalah yang dihadapi unit tersebut. Begitupula potensi masalah di unit. Contoh jika cairan pendingin kurang bisa terjadi overheat. Lalu secara histori bisa dilihat masalah tadi semisal kandungan air dalam fuel untuk equipment. Contoh, kita dapat melihat insiden di waktu tertentu misalkan ada kandungan air. Lalu  ada indikasi fuel jelek dan indikasi operator melakukan pembersihan.

Menurutnya, sebelum kerusakaan terjadi biasanya didahului indikator peringatan dan  tidak serta merta mendadak. Ada contoh kejadian seperti idleshutdown dimana unit alat berat dilengkapi turbo charge butuh pendinginan. Saat pendinginan tidak dilakukan begitu selesai operasi akan berpengaruh terhadap umur turbo charge.

Selain teknologi telematik, adapula sistem manajemen aset dimana digitalisasi maintenance dilakukan agar proses maintenance lebih efektif dan terdokumentasi baik.“Aset manajemen ini digunakan untuk memperoleh data sehingga perawatan terkelola baik. Demikian juga sparepart serta pembelian dan perawatan akan lebih baik,” ujarnya

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 112).

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like