Strategi Austindo Nusantara Tekan Emisi Karbon

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk mempunyai serangkaian kebijakan keberlanjutan yang turut menjaga hutan dan keanekaragaman hayati. Direktur Operasi ANJ Geetha Govindan K Gopalakrishnan mengatakan, ANJ memiliki kebijakan keberlanjutan yang sudah dideklarasikan dan dilakukan. Kebijakan ini diambil antara lain untuk melindungi hutan yang memiliki stok karbon dan nilai konservasi tinggi.

“Komitmen tersebut sejalan dengan kriteria kebijakan keberlanjutan internasional dan pedoman dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO),” ujarnya dalam keterangan tertulis di laman perusahaan, Rabu (21 Juli 2021).

Dalam praktiknya, ANJ memiliki proyek untuk melestarikan sumber daya alam, seperti daur ulang air, daur ulang sampah melalui pengomposan, pengurangan emisi lewat teknologi electrostatic precipitator (alat penangkap abu sisa pembakaran), dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

Geetha juga menyebutkan, pihaknya memulai beberapa inisiatif sejak 2014, yakni melakukan pengomposan, fertigasi (penyaluran pupuk lewat sistem irigasi), hingga penyemprotan yang dikontrol aplikasi sehingga pemakaian air per hektar jauh menurun.

“Kami punya target yang sudah tercapai sekarang, yaitu menggunakan 1,25 ton air untuk 1 ton buah dalam pengolahan buah sawit. Kami harap akan mencapai 1 ton air untuk 1 ton buah dalam dua tahun ke depan,” sebutnya.

Terkait isu deforestasi atau penebangan hutan, Geetha menegaskan, sebagai anggota RSPO dan ISPO pihaknya memiliki beberapa prinsip dan kriteria untuk memastikan bahwa perusahaan akan melindungi area sok karbon tinggi dan nilai konservasi tinggi.

“Sebagai pemenuhan syarat, kami sudah deklarasi dalam kebijakan keberlanjutan, there is no burning. Kami tidak membuka lahan dengan cara membakar lokasi-lokasi vegetasi untuk menanam sawit,” tegasnya.

Dia menjelaskan, dalam menanam sawit pihaknya akan memetakan area mana saja yang masuk klasifikasi gambut, area stok karbon tinggi, dan memiliki nilai konservasi tinggi. Wilayah tersebut tidak akan dibuka.

Lebih lanjut, Geetha mengatakan, bagi pebisnis agrikultur, perubahan iklim adalah masalah serius bila tidak ditangani dengan proses yang bagus karena berdampak pada produktivitas dan profitabilitas.

Oleh karenanya, ANJ telah mengimplementasikan penggunaan teknologi dalam melakukan adaptasi dan mitigasi. ANJ melihat berbagai varietas pohon yang tahan terhadap cuaca ekstrem, berhemat dan menjaga sumber air, hingga melakukan pengomposan dan fertigasi yang menggunakan teknologi terkini.

“Kami ada road map untuk mencapai net-zero. Hutan juga bagian penting dalam carbon sequestration dan carbon sink. Untuk hutan yang ada di lokasi kami, kami sudah berkomitmen untuk melindungi hutan tersebut,” terangnya.

Net-zero adalah netralitas karbon yang mengacu pada pencapaian emisi karbon dioksida netto-nol. Adapun carbon sequestration merupakan penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida dari atmosfer dalam jangka waktu yang lama, sedangkan carbon sink adalah penyerap karbon untuk waktu tidak terbatas.

Untuk mitigasi, lanjut Geetha, ANJ melakukan pengairan guna menjaga kelembaban tanah. Salah satunya melalui pembangunan resapan air atau waduk sehingga saat hujan bisa dipakai untuk pengolahan buah dan disalurkan untuk perkebunan.
Geetha mengatakan, sumber daya alam akan menjadi isu dalam risiko bisnis. Oleh karenanya, dia memastikan ANJ memastikan sumber daya air yang dipakai berkelanjutan. Selain itu, ANJ sebagai perusahaan yang rantai pasoknya panjang juga memiliki konsekuensi dampak lingkungan. Ini seperti penggunaan peralatan atau obat-obatan untuk keperluan perkebunan yang perlu diimpor.

Kami ingin mereka bergabung dengan kami dalam sustainability journey untuk mencapai tujuan keberla.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like