Sri Rahayu, Petani Swadaya Program Musim Mas-IFC Sawit Menghidupi Keluarga Saya

Adalah Sri Rahayu, petani sawit swadaya program Musim Mas- IFC  yang menjadi pemeran utama video “Small Producers, Big Responsibility” episode ke-2 berjudul “How growing oil palm sustainably can help to close the gender gap”. Video ini menceritakan pengalaman Sri Rahayu mengikuti program Musim Mas-IFC Indonesian Palm Oil Development for Smallholders (IPODS).

Dalam sebuah adegan, ia bersama rekan petani perempuan lainnya sedang mengikuti pelatihan. Sri bercerita dampak positif pelatihan ini membuat dirinya bersama anggota koperasi mengetahui cara pemupukan dan budidaya sawit yang benar.”Sekarang, kita mengetahui cara pemupukan, merawat tanaman, dan panen yang benar. Sebelum pelatihan, ibu-ibu menabur pupuk dengan cara dicampur. Yang benar itu, pupuk tidak boleh dicampur,” ujarnya. 

Sri bersama suaminya tinggal di Lingkungan Pangkalian, Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara. Suaminya berkarir sebagai prajurit TNI. Di sela kesibukannya, ia juga masih sempat memelihara dan merawat bebek, entok, dan ayam yang semuanya berjumlah 20 ekor.

Selain sawit, Sri juga menanam kangkung dan sawi.“Tiap sore, saya panen lalu dijual kepedagang. Saya lakukan sendiri semuanya,” cerita Sri.

Pada 2008, ia membeli lahan untuk berkebun sawit. Setelah delapan bulan persiapan lahan dan bibit, ia mulai tanam bibit. Pengetahuan budidaya diperoleh otodidak dan dari teman.

Ia merasa bersyukur dapat mengikuti pelatihan Musim Mas dan IFC. Dari pelatihan ini, beragam informasi positif diperoleh Sri bersama rekan-rekannya. “Produksi buah sawit kami meningkat dari 5 ton menjadi 7 ton. Hasil  produksi saya catat dalam log books. Tujuannya mengetahui hasil panen tiap bulan. Ini merupakan hasil pelatihan kami,” jelas Sri.

Ia juga aktif menjadi anggota Kelompok Tani semenjak 2016. Dua tahun kemudian, dirinya dipercaya menjadi bendahara. “Dengan tugas ini saya diminta mencatat pemasukan dan pengeluaran kelompok tani. Saya bangga dengan tugas ini. Karena belum tentu di organisasi atau asosiasi ada perempuan ikut terlibat di dalamnya,” ucap Sri sambil tersenyum.

Redaksi Majalah SAWIT INDONESIA mewawancarai Sri Rahayu melalui  jawaban tertulis. Inilah ceritanya sebagai petani swadaya dan juga peserta program Musim Mas-IFC Indonesian Palm Oil Development for Smallholders (IPODS). Berikut petikan wawancara kami:

Mohon dapat dijelaskan pengalaman Ibu sebagai petani swadaya program Musim Mas dan IFC?

Baca Juga :   Pasca RED II, Sertifikat ISCC Tidak Laku di Eropa

Melalui program petani swadaya Musim Mas dan IFC, saya mendapatkan banyak ilmu mengenai cara budidaya kelapa sawit yang baik dan benar. Selain itu,saya juga mendapatkan banyak pengalaman berharga sebagai bendahara di Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu, sebuah asosiasi yang terbentuk berkat program Musim Mas – IFC.

Apa yang ibu pelajari dalam pelatihan? Berapa lama pelatihan tersebut? Kapan pelatihan ini dilakukan?

Cara memupuk kelapa sawit yang baik dan benar, cara memanen yang benar, cara meyusun pelepah, manajemen pembukuan terkait pengeluaran dan pemasukan di lahan kelapa sawit saya. Pelatihan tersebut dimulai sejak 2016 sampai dengan sekarang. Pelatihan ini dilakukan 2 minggu sekali atau paling tidak 1 bulan sekali.

Baca Juga :   TRANSFORMASI KEMITRAAN PETANI SAWIT ANTARA KENISCAYAAN DAN KENYATAAN

Kenapa Ibu bergabung dan tertarik dalam pelatihan yang diselenggarakan Musim Mas dan IFC?

Karena dapat menambah ilmu mengenai  budidaya kelapa sawit yang baik dan benar.

Adakah benefit yang diperoleh dengan mengikuti pelatihan tersebut?

Dari aspek produksi, ada penambahan produktivitas hasil kebun dari sebelum mengikuti program yaitu sekitar 3ton/panen/4 hektar, kemudian setelah mengikuti program meningkat menjadi 5ton/panen/ 4 hektar.

Dari manajemen kebun, petani dapat mengetahui bagaimana pemasukan dan pengeluaran setiap bulannya dengan mencatat di buku log book.

Dari aspek pengendalian hama/penyakit, saya menanam tanaman bunga (turnera) sesuai dengan arahan FA (Field Asisstant) pada saat berkunjung kekebun saya untuk dapat merangsang predator hama.

Baca Juga :   Masa Depan Perkebuna Sawit Ditangan Rakyat

Manfaat yang sangat saya rasakan adalah dari kegiatan pemupukan. Karena diberikan informasi bahwa saat memupuk, pupuk tidak boleh dicampur. Kemudian juga jadwal pemupukan yang tepat dan dosis yang tepat, serta aplikasi dari masing masing pupuk yang benar pada pokok kelapa sawit.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 108)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like