Sorgum Alternatif Pendapatan Saat Peremajaan Sawit

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sumatera Utara berkerjasama dengan Paya Pinang Group membentuk Tim Kerja Sama Penelitian Penanaman Sorgum. Tanaman ini dapat menjadi alternatif penghasilan bagi petani peserta Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Persoalan biaya hidup menjadi tantangan bagi petani yang ingin meremajakan tanaman sawit berusia tua. Sebagian besar, petani sangat bergantung kepada hasil kebun. Itu sebabnya, mereka ragu-ragu mendaftar sebagai peserta peremajaan. Masalah ini menjadi perhatian Kacuk Sumarto, Direktur Utama PT Paya Pinang Group.

Di atas lahan seluas 30 hektare, Kacuk dan timnya bereksperimen menanam sorgum di lahan sawit yang sedang diremajakan. Sorgum ditanam di Kebun Mendaris, Desa Laut Tador Kecamatan Tebingsyahbandar Kabupaten Serdangbedagai (Sergai). Kacuk menilai sorgum sangat cocok untuk dibudidayakan petani. Waktu panen singkat antara 4-6 bulan.

“Sorgum sangat cocok dijadikan tanaman sela dalam peremajaan sawit rakyat (PSR) karena masa panen yang singkat. Dalam waktu 4 bulan sudah bisa panen, dan sekali tanam bisa untuk tiga kali panen selama satu tahun. Sorgum sangat mendukung ketahanan pangan saat masa replanting dan sebagai tambahan biaya perawatan sawit yang ditanam,” kata Kacuk Sumarto.

Baca Juga :   Anak Usaha Astra Agro Paling Siap Hadapi Karlahut

Kacuk Sumarto mengatakan, sorgum merupakan jenis tanaman yang layak ekonomis yang mempunyai karakter mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan secara khusus.

“Sorgum cocok sebagai tanaman sela dalam peremajaan sawit rakyat (PSR), karena mempunyai masa panen yang singkat, dalam tempo sekitar 4 bulan sudah bisa panen, dan sekali tanam bisa untuk tiga kali panen selama satu tahun, dan hal ini bisa dilakukan sampai dengan tanaman sawit bisa menghasilkan yaitu selama tiga tahun, meskipun luasan tanaman sorgum harus dikurangi. Hasil dari tanam sorgum ini bisa mendukung ketahan pangan pada masa replanting dan sebagai tambahan biaya perawatan sawit yang ditanam,” kata Kacuk.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Kerja Sama Penelitian ini, serta dari berbagai sumber dari Kementerian Pertanian, satu hektar sawit akan diperoleh gabah kering panen sorgum antara 15 – 18 ton / hektar / tahun. Gabah kering giling/sosoh 6 – 9 ton dari malainya. Sementara batang dan daun sorgum dapat dihasilkan adalah 100 – 120 ton/ha/tahun; ekstrak Nira Sorgum dihasilkan antara 25 – 30 ton/ha/tahun yang kemudian bisa diproses menjadi Gula Sorgum dengan hasil sejumlah 3-5 ton/ha/tahun. Masih ada lagi hasil disamping yang disebut diatas, yaitu ampas batang yang sudah diambil niranya beserta daun dapat dipakai sebagai pakan ternak sejumlah 80-100 ton.

Baca Juga :   4 Proposal Replanting Lolos Verifikasi

Hasil Sorgum yang bisa diperoleh untuk tingkat petani adalah bijih sorgum, tepung sorgum, air nira sorgum, gula nira sorgum, biomasa pakan ternak atau arang bricket.

Hal yang tidak terduga sebelumnya, bahwa dari penelitian tanah yang dilakukan sebelum dan sesudah tanam, menunjukkan bahwa bilangan mikoriza dan tricoderma yang terkandung di dalam tanah meningkat sangat banyak, sehingga dapat sementara disimpulkan bahwa penanaman sorgum ini sekaligus merupakan upaya untuk menahan atau mengurangi dampak serangan Ganoderma terhadap tanaman kelapa sawit. Seperti diketahui bahwa Ganoderma merupakan momok bagi pengusahaan kelapa sawit yang samapi saat sekarang belum ada obatnya.

Untuk bisa menanam sorgum, dalam hitungan Kacuk, dana peremajaan harus dinaikkan. Minimal menjadi Rp 35 juta per hektare atau naik Rp 10 juta dari hibah PSR sekarang ini Rp 25 juta per hektare. “Dana sepuluh juta ini dapat menjadi modal untuk tanam sorgum,” jelas Kacuk.

Baca Juga :   PPKS Mampu Salurkan 50% Kebutuhan Benih Dalam Program Replanting 185 ribu ha

Hasil dari sorgum ini dibuktikan Kacuk dalam Panen Perdana pada 19 Desember 2019. Hadir dalam kgiatan ini Dirjen Perlindungan Tanaman Kemen Pertanian Edy Heriyawan, Direktur Utama Paya Pinang Group Kacuk Sumarto, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono, Dewan Pengawas BPDPKS Rusman Haryawan, Perwakilan Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Soekirman.

Dirjen Perlindungan Tanaman Kemen Pertanian Edy Heriyawan mengapresiasi penanaman Sorgum di sela tanaman sawit yang dilakukan Tim Kerja Sama Penelitian GAPKI di perkebunan Paya Pinang Group.

“Penelitian di Kebun Paya Pinang Group merupakan contoh konkrit perusahaan dalam menyediakan Llahan yang sedang diremajakan untuk tanaman pangan seperti sorgum. Kami harapkan GAPKI dapat mendorong perusahaan perkebunan sawit yang sedang masuki masa peremajaan,”tuturnya.

Bupati Soekirman memberikan apresiasi tinggi kepada GAPKI yang mendukung perekonomian Sergai. “Saya siap mencanangkan Sergai sebagai Kabupaten Sorgum. Ini adalah bentuk komitmen dan dukungan Sergai terhadap kesuksesan program PSR yang dicanangkan Presiden Jokowi,” ujarnya.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 99)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like