Small Producers, Big Responsibility

Salam Sawit Indonesia,

Petani akan menjadi kunci utama industri sawit Indonesia di masa depan. Kini, perusahaan sawit semakin aktif memberdayakan petani baik petani mandiri dan swadaya. Pola pemberdayaan ditujukan memperkuat pengetahuan dan implementasi  tata kelola sawit yang baik serta berkelanjutan. Harapannya, petani dapat memperbaiki kegiatan perawatan tanaman. Tidak lagi sembarangan dan otodidak semata. Tujuannya demi optimalisasi produktivitas. Di sisi lain, aspek lingkungan tidak diabaikan.

Adalah Musim Mas Grup yang semenjak  lama menaruh perhatian kepada petani. Sebagai grup sawit di sektor hulu dan hilir, petani menjadi bagian utama dari rantai pasok sawit. Apalagi, petani menjadi pemasok Tandan Buah Segar (TBS) kepabrik Musim Mas dan mitranya. Faktor lainnya adalah kebertelusuran yang kini dipersyaratkan standar sawit berkelanjutan.

Dalam rubrik Sajian Utama, Musim Mas menampilkan perkembangan program pemberdayaan petani swadaya. Tidak berjalan sendiri, Musim Mas menggandeng lembaga dan institusi lain baik swasta, NGO, pemerintah, dan masyarakat. Sejak 2015, Musim Mas dan International Finance Corporation (IFC), salah satu anggota Bank Dunia, bekerja sama mengembangkan program pelatihan untuk petani swadaya. Program ini bernama Musim Mas-IFC Indonesian Palm Oil Development for Smallholders (IPODS). Program Musim Mas-IFC menggandeng semua petani swadaya. Syaratnya,petani yang mengikuti program bukan petani eks KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggota) dan tidak terikat skema apapun – istilahnya petani swadaya murni.

Program lainnya bernama smallholders hub. Semenjak pertengahan 2020, Musim Mas dan General Mills bekerja sama untuk menjalankan program ini yang bertujuan memberikan pelatihan kepada Penyuluh Pertanian Lapangan(PPL) di Aceh Singkil. Pelatihan ini difokuskan membangun layanan penyuluhan yang kuat dan berkelanjutan bagi petani kelapa sawit di Provinsi Aceh. Dengan meningkatkan kapasitas penyuluh diharapkan akan berdampak positif kepada petani swadaya. Sebab, para penyuluh inilah yang berperan mentransfer informasi dan pengetahuan kepada petani. Alhasil, lebih banyak petani yang dapat dijangkau untuk memperoleh informasi tata kelola sawit yang baik dan berkelanjutan.

Di Rubrik Hot Issue, kami menampilkan ringkasan dialog webinar kerjasama Majalah Sawit Indonesia dan Borneo Forum. Dialog ini menghadirkan tiga pembicara diantaranya Dr. Surya Tjandra (Wakil Menteri ATR/BPN), Dr. Sadino (Pengamat Perhutanan), dan Soedarsono Sudomo (Dosen IPB University).  Dialog ini bertujuan memberikan informasi benar kepada public bahwa sawit tidak perlu dipertentangkan dengan masyarakat adat.  Di sejumlah daerah, banyak pula masyarakat adat yang hidup dari sawit. Yang perlu dipahami, bias konflik disebabkan kampanye negative LSM selain ada pula dampak dari ketidakpastian regulasi.

Pembaca, harapan kami edisi Oktober ini mampu mengisi khasanah dan ruang informasi terkait sawit. Tak ada gading yang tak retak. Semoga edisi ini membawa manfaat bagi kita semua. Semoga kita semua dilimpahi kesehatan.

 

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like