Pekanbaru – Anak Perusahaan Perkebunan Nusantara III Persero, PT Perkebunan Nusantara V menjalin sinergi bersama PT PLN (Persero) yang ditandai dengan akuisisi beban listrik berkapasitas 9,3 mega watt (MW) melalui program Captive Power Acquistion.

Sinergitas dua perusahaan plat merah tersebut merupakan bagian dalam mendukung proyek strategis nasional (PSN), salah satunya adalah memperkuat industri perkebunan sawit dalam negeri melalui integrasi perusahaan perkebunan milik negara.

Perjanjian pengalihan penggunaan listrik mandiri PTPN V dengan menjadi pelanggan PLN ditandatangani langsung oleh CEO PTPN V, Jatmiko Santosa bersama Direktur Bisnis Regional Sumatera Kalimantan PLN Adi Lumakso, belum lama ini.

“Dengan pasokan listrik dari PLN yang andal, insya Allah aliran listrik untuk operasional pabrik kami serta pasokan listrik bagi saudara-saudara kami yang jumlahnya ribuan di berbagai unit kebun di penjuru Bumi Lancang Kuning akan terjamin,” kata Jatmiko dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Kamis (15/9/2022)

Ia menuturkan bahwa sinergitas ini akan membawa efesiensi bagi PTPN V dalam meningkatkan efesiensi biaya perusahaan hingga Rp205 miliar per tahun. Angka tersebut merupakan perhitungan dari hasil kerjasama tahap awal tahun ini.

Untuk tahap awal, Jatmiko mengatakan dua unit pabrik kelapa sawit serta 1.245 perumahan karyawan perusahaan yang beroperasi di Bumi Lancang Kuning, Riau tersebut segera dialiri listrik pada 2022 ini.

Selanjutnya, ia mengatakan program pengaliran listrik secara bertahap akan terus berjalan dan diharapkan rampung pada 2023 mendatang.

“Pada tahun 2023, kami berencana menambah konektivitas listrik PLN di 57 lokasi masing-masing 49 perumahan afdeling, 2 perumahan emplasment dan 5 perumahan pabrik serta 10 unit pabrik kelapa sawit,” tambah Jatmiko.

Direktur Bisnis Regional Sumatera Kalimantan PLN Adi Lumakso mengatakan, penggunaan energi listrik PLN jauh lebih efisien dibanding menggunakan bahan bakar minyak (BBM) atau pembangkit listrik secara mandiri.

“Harga 1 kWh PLN untuk tarif industri layanan premium itu Rp 1.1145,78 setara dengan 3,3 liter BBM yang sekarang harganya kurang lebih Rp 15.000 an. Jadinya dari sisi harga energi listrik lebih efisien belum lagi dari sisi lainnya seperti maintenance,” ungkap Adi.

General Manager Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau PLN, Agung Murdifi mendukung penuh pelaku industri dan investor dengan pelayanan kelistrikan yang andal. Dia juga menambahkan, pasokan listrik yang tersedia cukup untuk mendukung pertumbuhan industri.

“Dengan beralih menggunakan listrik PLN, kami menjamin keandalan pasokan listrik yang menjadi bukti dari kualitas layanan prima dari PLN untuk pelanggan industri di Provinsi Riau. Dapat kami sampaikan bahwa daya mampu sistem kelistrikan di Riau sebesar 1.153 MW, dengan cadangan sebesar 192 MW yang sangat cukup dan siap untuk mendukung pertumbuhan sektor industri di Riau,” terangnya.

Agung pun mengapresiasi PTPN V atas langkah sinergi ini di mana dalam sinergi tersebut mendukung program pemerintah mengurangi energi impor.

“Energi fosil yang merupakan energi impor yang selama ini digunakan oleh PTPN V beralih menggunakan energi domestik. Di mana, yang kita ketahui sistem kelistrikan interkoneksi Sumatera telah menggunakan bahan bakar domestik yang berasal dari batu bara, gas dan air,” terang Agung.

Share.