Sinar Mas Agribusiness and Food Kolaborasikan Pencegahan Karhutla dan Pemberdayaan Ekonomi

Sinar Mas Agribusiness and Food semakin memperkuat program Desa Makmur Peduli Api. Selama lima tahun berjalan, program ini efektif menekan kebakaran lahan serta pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kebun.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kebun melalui pengembangan program Pertanian  Ekologis Terpadu (PET) dilakukan Perusahaan perkebunan terkemuka di Indonesia, sebagai salah satu upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan mengurangi pembakaran lahan oleh masyarakat ketika membuka lahan.

Upaya ini dilakukan tidak hanya untuk memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan terkait dengan keberlanjutan atau sustainability. Ada tiga aspek yaitu Planet, People dan Profit yang lekat pada sustainability. Upaya-upaya tersebut dilakukan oleh Sinar Mas Agribusiness and Food sebagai pola pencegahan karhutla yang menarik,   melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program ini fokus kepada tiga bidang yaitu penanganan karhutla melalui penguatan kelembagaan Masyarakat Siaga Api (MSA), konservasi sumberdaya alam (hutan dan lahan), dan ketahanan pangan masyarakat yang telah digulirkan di beberapa provinsi di Indonesia seperti Provinsi Jambi, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Managing Director Sustainability Sinar Mas Agribusiness and Food, Agus Purnomo menjelaskan melalui program DMPA, Perusahaan bekerja sama dalam mencegah karhutla yang dibarengi dengan kegiatan yang sifatnya memberikan manfaat ekonomi.

“Masyarakat diperkenalkan dengan sistem pertanian ekologis terpadu dengan pola pengelolaan lahan tidak membakar dan bebas dari penggunaan bahan kimia dalam praktik budidayanya yang didukung oleh penempatan praktisi petani ahli di desa dampingan. Contohnya dengan menghadirkan praktisi petani organik untuk memberikan pembelajaran sistem pertanian organik di desa dampingan dan mengundang ahli pertanian untuk berbagi pengetahuan menanam tanaman dan mengundang praktisi lain yang dibutuhkan warga untuk pemberdayaan masyarakat di sektor ekonomi,” jelasnya.

Program DMPA, lanjut Agus, sudah berjalan sejak tahun 2016. Dampak positif yang dirasakan, dari kebun kami yang memiliki luas sekitarya 500 ribu hektar, 99,5% tidak terjadi kebakaran lahan. “Dampak yang dirasakan langsung dari program DMPA, terdapat 1.155 personel perbantuan dari masyarakat yang diberi pelatihan teknik dasar pencegahan dan penanganan kebakaran lahan dan membentuk tim Masyarakat Siaga Api (MSA) di Desa sekitar kebun. Personil perbantuan dari masyarakat yang tergabung dalam Tim MSA ini mendukung operasional tindakan pencegahan dan penanganan kebakaran lahan yang dilakukan oleh sekitar 10.000 personil Tim Kesiap siagaan Tanggap Darurat (KTD) yang dimiliki oleh perusahaan. Selain itu sudah terdapat tidak kurang dari 40 desa dampingan yang telah menjalankan program pertanian ekologis terpadu sehingga mereka diharapkan tidak lagi membuka lahan dengan membakar,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Sinar Mas Agribusiness and Food saat ini memiliki 72.000 hektar yang difungsikan sebagai lahan konservasi hutan yang membantu penyimpanan karbon dalam jumlah besar dan menjaga sumber air bersih. “Kami bersama masyarakat juga mendapatkan komitmen menjaga lahan tersebut tetap menjadi hutan. Dan, berkomitmen mendukung 65.000 hektar konservasi hutan dengan para pemasok. Ada 40 kelompok masyarakat dengan program mata pencaharian alternatif; meningkatkan pendapatan, meningkatkan ketahanan pangan dan mendukung tujuan konservasi. Ini adalah kontribusi langsung untuk mencegah kebakaran,” ujar pria yang akrab disapa Pungki.

Selain itu, anak usahanya Sinar Mas Agribusiness and Food, PT Bumi palma Lestari Persada sejak 2019 membudidayakan jahe merah yang merupakan komoditas Pertanian Ekologis Terpadu (PET). Program budidaya jahe dijalanakan di enam desa Indragiri Hilir, Riau.

Saat pandemik Covid-19 manfaat program ini sangat dirasakan masyarakat desa yang menjalankan program PET. Program ini sejalan dengan upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan di area tersebut. Dari hasil penelitian untuk Food Industry Asia yang dilakukan Lembaga Riset Ai Pallete, konsumen Indonesia memlilih jahe merah untuk meningkatkan imunitas tubuh. Permintaan jahe merah meningkat 138% pada Januari hingga Agustus 2020, dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 109)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like