Majalah Sawit Indonesia Edisi 179, September 2026
Tahun ini adalah tahun terberat bagi masyarakat di Indonesia. Fenomena El Nino memicu kebakaran lahan seluas 85.765 hektare di enam provinsi. Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kebakaran lahan di enam provinsi tersebut antara lain Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Dalam situasi ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat agar api tidak meluas. Upaya pencegahan dan pengendalian langsung dilakukan. Total jumlah satgas, relawan, dan aparat yang terjun ke lokasi kebakaran lahan mencapai 43.481 personil dan 55 armada udara. Dari luar negeri, sepuluh negara ikut membantu Indonesia agar jerebu (asap) tidak meluas. Ini menjadi bukti bahwa semangat kerjasama antar negara sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan kebakaran di tengah dampak El Nino.
Berdasarkan data analisis BMKG, fenomena El Nino berpotensi akan bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang 75% dengan kategori sangat kuat. Di sisi lain, puncak musim kemarau 2026 berpeluang akan terjadi dari Juli sampai September 2026.
Idealnya saat El Nino akan berdampak kuat. Kebijakan pencegahan perlu lebih tegas dan diutamakan. Pencegahan kebakaran lahan dapat dilakukan melalui teknologi, sosialisasi, dan penegakan hukum. Semangat gotong royong adalah senjata utama supaya asap tidak muncul dan meluas.
