Sawit Ubah “Kota Hantu” Menjadi Sentra Perekonomian, Gimana Caranya?

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Peranan kelapa sawit di bidang ekonomi sangat dirasakan untuk mengubah di daerah-daerah pelosok, pinggiran, daerah tertinggal, dan degraded land, dimana belum ada kegiatan ekonomi yang dikembangkan di daerah tersebut. Bahkan daerah tersebut juga dapat dikatakan sebagai “kota mati atau istilah lainnya kota hantu” karena tidak berpenghuni atau penduduknya sedikit.

Dalam artikel PASPI berjudul Perkebunan Sawit Mampu Merestorasi Degraded Land Menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru dijelaskan bahwa degraded land atau degraded region yang dimaksudkan dalam tulisan ini merujuk pada suatu daerah pelosok, pinggiran, terisolasi, semak belukar, hinter land, jarang bahkan belum berpenduduk, dan infrastruktur belum tersedia. Daerah ini juga bukan hanya terdegradasi secara ekologis, tetapi juga terdegradasi secara sosial dan ekonomi.

Dengan kata lain, degraded land tersebut belum terjangkau pembangunan secara alamiah sehingga pengembangannya sangat terbelakang. Daerah bekas logging dan bekas tambang dapat menjadi salah satu contoh daerah yang dapat menggambarkan degraded land dan dalam ilmu ekonomi regional dikenal juga sebagai ghost town.  

Degraded land tersebut juga merupakan sumber utama asal muasal lahan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hal ini terkonfirmasi dari studi Gunarso et al. (2013) yang mengungkapkan bahwa sebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia berasal dari degraded land. Proses perkebunan kelapa sawit dalam merestorasi degraded land menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah di Indonesia, dapat dibagi atas tiga fase proses pembangunan (Gambar 1). Ketiga fase yang dimaksud adalah fase perintisan, fase percepatan dan fase pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Fase Perintisan (A dan B) merupakan fase awal dimana calon lokasi (degraded land) yang ditetapkan pemerintah sebagai wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Model PIR yang mewajibkan petani sawit rakyat dimitrakan dengan korporasi dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit di degraded land. Kebijakan ini menjadi kebijakan pemerintah yang tepat untuk mendukung pembangunan degraded land sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat (petani sawit).

Sejak tahun 1980, perkembangan PIR di motori oleh Badan Usaha Milik Negara Perkebunan (PTPN) sebagai inti dan petani dari masyarakat sekitar sebagai plasma baik pada era PIR Lokal, PIR Kredit Koperasi Para Anggota (KPPA) maupun PIR Transmigrasi (Badrun, 2010; Sipayung, 2018; Apresian et al., 2020). Eks-pola PIR saat ini dapat dijumpai di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Kemudian, pola PIR tersebut juga diadopsi oleh perkebunan swasta diberbagai daerah.

Fase kedua yakni Fase Percepatan. Berkembangnya perkebunan inti dan/atau korporasi yang melibatkan petani plasma pada daerah degraded land yang akan mengundang makin banyak imvestasi perkebunan kelapa sawit baik petani sawit mandiri (swadaya), usaha kecil-menengah hingga korporasi swasta. Terbukanya akses jalan masuk, adanya jaminan pasar Tandan Buah Segar (TBS) pada PKS dan keberhasilan petani terdahulu, telah menjadi magnet bagi pelaku usaha lain yaitu petani sawit swadaya, UMKM maupun korporasi sawit baru untuk masuk dan berinvestasi di wilayah sekitar perkebunan kelapa sawit (PASPI, 2014). Pada fase ini setidaknya ada dua model perkebunan sawit yang berkembang yakni perkebunan inti-plasma beserta petani sawit swadaya disekitarnya, dan korporasi perkebunan sawit dengan petani sawit swadaya disekitarnya. Selain itu, bentuk investasi lainnya adalah pembangunan pelabuhan CPO yang dilengkapi dengan fasilitas tanki timbun dan bongkar muat.

Pada fase ketiga yakni fase Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah. Seiring dengan makin berkembangnya kegiatan perkebunan sawit diberbagai daerah maka turut menggerakkan sektor ekonomi lainnya seperti sektor jasa seperti jasa transportasi pengangkutan TBS dari kebun ke PKS, jasa transportasi CPO dari PKS ke pelabuhan CPO, jasa keuangan/perbankan, jasa suplier barang/jasa perkantoran, jasa perdagangan bahan pangan, jasa warung/restoran makan, jasa perdagangan antar kota, dan lain-lain.

Aglomerasi dari dua pola perkebunan kelapa sawit (pola BUMN-Plasma-Swadaya dan pola Korporasi swasta-Swadaya) dengan sektor-sektor jasa pendukung yang berkembang mampu membentuk suatu kawasan agropolitan yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah tersebut. Hingga tahun 2013, setidaknya terdapat 50 kawasan pedesaan terbelakang/terisolir yang telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis ekonomi sawit.

Hasil studi PASPI (2017) mengungkapkan nilai transaksi antara masyarakat yang bekerja secara langsung dan tak langsung pada perkebunan kelapa sawit dengan sektor perkotaan mencapai sekitar Rp. 336 triliun per tahun. Sementara itu, nilai transaksi antara sentra-sentra produksi bahan pangan pedesaan dengan masyarakat yang hidup di perkebunan kelapa sawit mencapai Rp. 92 Triliun per tahun.

Daerah-daerah yang sebelumnya yang tergolong degraded land baik secara ekonomi, sosial dan ekologi kemudian direstorasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru kaena pengembangan perkebunan sawit. Studi PASPI (2014) juga mengungkapkan bahwa kabupatenkabupaten sentra sawit memiliki pertumbuhan ekonomi (PDRB) yang lebih cepat dibandingkan kabupaten non sentra sawit.

Pada level desa dan rumahtangga, studi Budidarsono et al. (2012) juga mengungkapkan bahwa kesejahteraan desadesa yang mayoritas penduduknya berkebun sawit lebih baik dibandingkan desa-desa lainya. Tingkat pendapatan rumahtangga petani sawit lebih tinggi daripada rumahtangga petani non sawit (Riffin, 2012; PASPI, 2014; Krisna, 2017; Budidarsono et al., 2012). Perkebunan kelapa sawit juga berperan signifikan dalam pembangunan ekonomi daerah pedesaan (World Growth, 2011). Daerah sentra perkebunan kelapa sawit yang sebelumnya digolongkan sebagai degraded land juga terbukti berkembang menjadi lokomotif dalam pengurangan kemiskinan di pedesaan.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like