Sawit Tidak Boros Air

Lisma Safitri, S.TP, M.Sc, Dosen Program Studi Teknik Pertanian INSTIPER Yogyakarta

Dari riset Water Footprint di perkebunan kelapa sawit, membuktikan bahwa tanaman kelapa sawit tidak mengancam keberlangsungan sumber daya air di Indonesia.

Lisma Safitri, S.TP, M.Si merasa tertantang saat pertama kali diminta untuk melakukan penelitian dan dipercaya sebagai Ketua Tim PenelitianWater Footprint (jejak air) pada tanaman kelapa sawit. Hal ini diungkapkannya melalui sambungan telepon kepada tim Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Selasa (14 Juli 2020).

Kegiatan penelitian ini merupakan inisiatifnya sendiri. Riset di mulai selama tiga tahun dari 2016 hingga 2019. “PenelitianWater Footprint di perkebunan kelapa sawit adalah penelitian saya pertama sebagai ketua tim setelah menjadi dosen. Berat sekali karena merealisasikan ide penelitian menjadi kenyataan. Selain itu, harus bisa memahami kondisi lapangan, mulai dari instrument yang hilang dan rusak, sarana dan prasana yang kurang lengkap. Jadi sebagai peneliti harus bisa dinamis dapat menyesuaikan dengan kondisi lapangan,” ujar perempuan yang menjadi Dosen INSTIPER Yogyakarta Pengampu Mata Kuliah Hidroklimatologi dan Pengelolaan Tanah dan Air.

Tantangan yang dihadapinya sebagai ketua tim peneliti adalah harus bisa mengontrol manajemen sumberdaya, tim ahli, tim operasional dan administrasi dan tim di lapangan, serta analisis data dan hasil penelitian itu semua ada pada saya,” imbuhnya.

Saat mengerjakan proyek penelitian Water Footprint pada tahun pertama. Dirinya dibantu oleh 4 orang rekannya. Kemudian, di tahun kedua dengan anggota tim yang berbeda namun jumlahnya tetap sama.

Selanjutnya, Lisma mengutarakan hasil penelitian Water Footprint di perkebunan kelapa sawit. “Dari hasil risetnya, membuktikan bahwa tanaman kelapa sawit tidak mengancam keberlangsungan sumberdaya air di Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian Water Footprint (WF) yang dilakukan bersama timnya, disimpulkan bahwa jejak air kelapa sawit di perkebunan di Pundu, Kalimantan Tengah sebesar 1002,1 m3 / ton sedangkan di perkebunan Siak, Riau sebesar 593.61 m3/ton TBS.

Obyek penelitian dilakukan pada variasi jenis tanah mineral (liat hitam dan lempung berpasir merah) serta gambut (sapric), dengan data produktivitas tanaman dan penggunaan pupuk adalah 13,41 ton /ha dan 0,12 ton N /ha untuk studi kasus di Kalimantan Tengah serta 22.08 ton/ha dan 0.11 ton N/ha untuk studi kasus di Riau dengan skenario irigasi hanya digunakan untuk periode pembibitan.

Sebagai informasi tambahan, penggunaan air oleh tanaman kelapa sawit salah satunya dapat dinyatakan dalam satuan unit water footprint. Water Footprint didefinisikan sebagai volume air yang digunakan untuk mendapatkan satu tonase Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dalam satuan m3/yields. Water footprint TBS terdiri dari Water Footprint Green (sumber air dari air hujan), Blue (sumber air dari cadangan air permukaan dan air tanah), dan Grey (air yang digunakan untuk melarutkan pupuk, pestisida dan senyawa kimia lainnya).

“Hasil ini dapat digunakan sebagai referensi bagi manajer perkebunan mengenai ketepatan kebutuhan air tanaman dan di samping mengoptimalkan produksi. Penelitian ini juga membuktikan bahwa, kelapa sawit memiliki jejak air yang lebih rendah dan relatif bukan tanaman ‘haus air’ dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya seperti bunga matahari, zaitun, jarak, kelapa dan rapeseed,” tulis Lisma dalam papernya.

Nilai Water Footprint Green dan Blue dapat membedakan antara sumber utama penggunaan air, yaitu air hujan atau air tanah, untuk kelapa sawit. Kelapa sawit di daerah penelitian ditumbuhkan dengan curah hujan sebagai sumber utama air bukan air tanah (WF biru hanya 3,6% dari total WF). WF Grey di perkebunan sawit adalah 8,9% yang lebih rendah dari WF Grey tanaman minyak nabati di seluruh dunia.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman sawit pada jenis tanah gambut memiliki nilai water footprint lebih kecil dibanding dari lahan mineral. Berdasarkan analisis penggunaan air tanaman dan sebaran densitas perakaran, diperoleh kesimpulan bahwa tanaman sawit mengggunakan air sebagian besar pada zona atas perakaran tanaman.

Selain itu, lanjut Lisma, nilai Water Footprint yang bervariasi jenis tanah (mineral dan organik/gambut) dan umur tanaman digunakan sebagai dasar untuk merancang sistem otomasi irigasi berbasis aplikasi model Water Footprint Calc sebagai Early Warning System di perkebunan sawit berbasis sistem kontrol status water footprint tanaman sawit dengan input data curah hujan, jenis tanaman, umur tanaman serta produksi tanaman.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit indonesia, Edisi 105)

8 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like