Sawit Bukan Ancaman Sektor Pangan

Sejumlah  Lembaga  Swadaya  Masyarakat (LSM) membangun kampanye bahwa kelapa sawit sangat dominan atas tanaman pangan. Padahal, kelapa sawit merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Pandangan LSM yang membenturkan sawit dengan pangan itu keliru. Emperisnya justru terjadi sebaliknya,” kata Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI.

Menurutnya, kehadiran kebun sawit sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai pelosok justru merangsang berkembangnya sentra sentra pangan lokal di seberbagai pelosok. Simbiosis mutualisme antara masyarakat yang bekerja di perkebunan sawit( langsung dan tak langsung) dengan petani pangan ( tanaman pangan, peternakan, perikanan) disekitarnya justru berkembang.

“Sebelumnya tidak berkembang karena tidak ada yang beli. Sekarang justru berkembang karena ada pasarnya. Dapat kita cek di wilayah pandemi covid-19  ini tidak ada sentra sawit di pelosok yang terjadi kekurangan pangan. Bahkan sebaliknya produksi pangan melimpah. Masa pandemi covid 19 ini tidak ada daerah ( sawit ) yang kekurangan pangan,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementrian Transmigrasi dan Tenaga Kerja (2014) setidaknya 50 kawasan pedesaan terbelakang/terisolir telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis sentra produksi CPO.

Hasil studi PASPI misalnya nilai transaksi (sales) produk – produk yang ditawarkan kepada masyarakat kebun sawit mecapai Rp.336 milyar/tahun. Sementara transaksi sales antara produk-produk pertanian pedessan  yang dipasarkan kemasyarakat kebun sawit mencapai  Rp. 92 triliun/tahun. Dalam bahasa ekonomi , kemitraan sawit tersebut menciptakan multiplier effect baik output , nilai tambah, pendapatan mau pun kesempatan kerja.

Kendati, perkebunan sawit telah berhasil membangun daerah terpencil dan mengembangkan sentra perekonomian baru. Akan tetapi, sejumlah LSM berupaya membangun imej negatif terkait ancaman industri sawit kepada sektor pangan. Sebagaimana dilansir Yayasan Madani Berkelanjutan yang mengulas ketahanan pangan di Provinsi Riau. Provinsi ini memiliki perkebunan sawit terluas nomor wahid di Indonesia, dengan luas mencapai 3,4 juta hektare, sektor ini terbukti belum mampu memberikan manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat mau pun petani sawit di Riau. Per 2018, terdapat tujuh  kabupaten di Riau yang memiliki luas area tanam sawit terluas, yaitu Kampar (430 ribu hektare), Rokan Hulu (410 ribu hektare), Siak (347 ribu hektare), Pelalawan (325 ribu hektare), Rokan Hilir (282 ribu hektare), Indragiri Hilir (227 ribu hektare), dan Bengkalis (186 ribu hektare).

“Dari 7 kabupaten dengan luas area tanam sawit yang signifikan, 6 kabupaten memiliki tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah, yaitu Indragiri Hulu, Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hulu, Kampar dan Rohil. Sementara itu, 4 kabupaten (Bengkalis, Rokan Hulu, Indragiri Hulu dan Kampar) justru mengalami kerawanan pangan,”  kata Intan Elvira, Peneliti Muda Yayasan Madani Berkelanjutan.

Muhammad Teguh Surya, Direktur Eksekutif  Yayasan Madani Berkelanjutan menjelaskan bahwa tingkat kesejahteraan rendah di pedesaan yang berada di sekitar perkebunan sawit walau pun perkebunan sawit sudah berada 40 tahun lebih di Riau. “Tingkat kesejahteraan masyarakat di bawah rata rata dan rawan pangan,” ujarnya.

Kabid Produksi Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Vera Virgianti, menjelaskan bahwa Riau telah memiliki lahan pangan berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan pangan di provinsi tersebut. Riau  memiliki lahan eksisting seluas 40 ribu hectare  Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

“LP2B wajib dialokasikan sebagai prasyarat mendapatkan dana dari pusat. Jadi, lahan ini tidak boleh dialihfungsikan.

Vera Virgianti juga tidak sepakat apa lagi sawit dikatakan mengancam pasokan pangan. “Tidak ada korelasi dominasi sawit di atas lahan pangan. Riau lahan rawa sehingga butuh upaya keras untuk tingkatkan produksi padi. Upaya melaksanakan LP2B Riau di lahan marjinal butuh biaya lebih tinggi untuk tingkatkan lahan pertania,” ujarnya.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like