Sawit Bebas Trans Fat Sesuai Kebijakan WHO 2023

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) akan menerapkan larangan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dari rantai pasok pangan pada akhir tahun 2022 atau awal 2023. Minyak sawit secara alami tidak mengandung asam lemak trans (trans fat free) untuk produk pangan. Keunggulan minyak sawit harus dioptimalkan pemerintah untuk mengisi kebutuhan di dalam dan luar negeri.

“Secara natural, minyak sawit itu trans fat free. Ini peluang bagik bagi minyak sawit untuk menjawab standar WHO pada 2023 mendatang,” ujar Prof Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar IPB University saat menjadi pembicara dalam Dialog Webinar Majalah Sawit Indonesia bertemakan “Kontribusi Sawit Bagi Pemenuhan Gizi Indonesia dan Dunia”, Selasa (23 Februari 2021).

Purwiyatno menjelaskan bahwa minyak sawit mempunyai peluang untuk menjawab kebutuhan bebas trans fat (asam lemak). WHO menetapkan larangan trans fat pada 2023 mendatang. Ini merupakan bagi peluang bagi minyak sawit untuk mengisi kebutuhan tersebut.

Ia mengungkapkan kelapa sawit telah memberikan kontribusi tinggi bagi pemenuhan gizi di Indonesia dan dunia. Sampai sekarang, sekitar 75%-85% penggunaan minyak sawit ditujukan kepada sektor pangan. Disinilah peranan sawit untuk menjadi sumber makanan supaya mencegah kelaparan sebagaimana tertuang dalam prinsip Sustainable Development Goals (SDG’s).

“Keunggulan minyak sawit punya keseimbangan saturated fats dan unsaturated fats. Tapi, keunggulan ini belum dikomunikasikan secara baik kepada masyarakat. Akibatnya, bermunculan isu negatif sawit dari aspek kesehatan. Oleh karena itu, dibutuhkan riset kuat untuk meng-counter isu tadi,” ujar

Dialog ini menghadirkan empat pembicara lainnya yaitu Prof. Posman Sibuea (Guru Besar Universitas Katolik Santo Thomas), Dr. Dhian Dipo, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI, Prof. Sri Raharjo, Guru Besar UGM, Fajar Marhaendra, R&D Product Application Manager APICAL Group (PT Asianagro Agungjaya).

Menurut Purwiyatno, kemampuan minyak sawit untuk dijadikan produk serba guna (versatile), bebas trans fat, dan kaya fitonutrien belum menjadi perhatian pemerintah untuk didukung melalui program dan kebijakan. Sebagai contoh, para peneliti di Spanyol telah membuat konsensus bahwa tidak ada bukti mengaitkan konsumsi sawit dengan resiko kanker tinggi terhadap kematian manusia.

“Potensi sawit sangat tinggi peluangnya untuk menyelesaikan masalah SDG’s Indonesia. Syaratnya menjamin keamanan pangan. Ada program nasional bahwa minyak sawit di Indonesia mempunyai 3-MCPD dan GE rendah. Lalu, perlu mendorong riset. Dengan dukungan konsensus pakar untuk menyusun status sawit sebagai kandungan makanan  dan kesehatan. Tujuannya menjadi referensi baik di dalam dan luar negeri,” jelasnya.

Tetapi, kata Purwiyatno, pemerintah Indonesia belum punya peta jalan (road map)  untuk mengisi peluang tersebut. Padahal, ada peluang keunggulan fitonutrien dalam minyak sawit.”Belum ada rencana pengembangan ke  arah tersebut. Lalu vitamin A di dalam sawit tidak dioptimalkan maksimal. Malahan, pemerintah membuat program fortifikasi lewat vitamin A sintetik. Padahal, minyak sawit secara natural sudah kaya vitamin A,” tuturnya.

Di Indonesia, Codex Indonesia secara serius berusaha untuk memenuhi kebijakan tersebut dengan menyiapkan langkah-langkah yang dibahas dalam Rapat Komite Nasional Codex Indonesia pada Rabu (24/2/2021) secara online.

Kepala BSN, Kukuh S. Achmad selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, saat memimpin rapat menyampaikan bahwa menindaklanjuti webinar yang diinisiasi oleh BSN dengan tema “Menghilangkan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dari Rantai Pasok Pangan: Perspektif Indonesia” yang diselenggarakan tahun lalu, perlu untuk dibentuk task force untuk melaksanakan Focus Group Discussion yang bertujuan menghasilkan peta jalan atau road map menuju free industrially trans fat di Indonesia tahun 2023.

“BSN menjadi koordinator task force dengan anggota BPOM, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan serta seluruh perwakilan Kementerian/Lembaga terkait yang menjadi National Mirror Committee (NMC), dan Purwiyatno Hariyadi, Vice Chair Codex, selaku Advisor,” ujar Kukuh seperti dilansir dari laman BSN.

Asam lemak trans (trans-faty acid) mempunyai dampak yang merugikan kesehatan manusia (FAO, 2010). Oleh karena itu, negara-negara Barat melarang  menggunakan asam lemak trans dalam bahan makanan. Asam lemak trans dihasilkan dari proses hidrogenisasi (khusus hidrogenisasi parsial) untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak dalam pembuatan minyak makan (edible oil) seperti minyak goreng kedelai.

Minyak goreng sawit yang secara alamiah memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bersifat semi solid dengan titik leleh berkisar antara 330C-390C, tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunaanyasebagai lemak makan, sehingga asam lemak tidak terbentuk atau bebas asam lemak (Hariyadi, 2010).

Related posts

You May Also Like