Sapa Peserta Gerilya, Dirjen EBTKE Ajak Peserta Peduli Energi Bersih dan Mitigasi Krisis Lingkungan

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyapa para peserta Merdeka Belajar Kampus Merdeka Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (MBKM Gerilya) dalam kuliah umum kebijakan EBT Nasional. Ia pun menekankan pentingnya mengoptimalkan sumber energi baru dan terbarukan sebagai bentuk keberlanjutan penggunaan sumber energi serta mitigasi krisis lingkungan di Indonesia.

“Kalau urusan iklim ini urusan semua (negara), tidak bisa di kotak-kotak,” ungkap Dadan saat menjabarkan komitmen Indonesia dalam penurunan emisi global melalui Undang-Undang Nomor 16/2016 tentang Pengesahan Paris Agreement, Kamis (2/9).

Dadan mengungkapkan posisi Indonesia dalam dunia internasional untuk berkontribusi dari sektor energi mencapai target penurunan emisi GRK sebesar 29% atas kemampuan sendiri dan 41% atas bantuan internasional di tahun 2030. “Presiden juga menyampaikan komitmen tersebut di pertemuan G20 dan memastikan kepentingan Indonesia tetap terjaga,” jelasnya.

c-WhatsApp%20Image%202021-09-02%20at%202

Berdasarkan Nationally Determined Contribution (NDC), energi baru dan terbarukan ditargetkan mampu mereduksi emisi sebesar 170,42 juta ton CO2e dimana realisasinya mencapai 34,29 juta ton CO2e. “Saat ini bauran EBT masih 11,2%, kita ingin setiap saat (bauran EBT) naik. Itu tugas Kementerian ESDM dan nanti juga akan dibantu oleh para gerilyawan ini untuk turut menaikkan porsi pemanfaatan EBT,” harap Dadan.

Selaras dengan tujuan tersebut, salah satu produk kebijakan yang sedang digodok, yaitu Grand Strategi Energi Nasional (GSEN). “Prinsipnya harus berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan agar tercipta ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi,” tegas Dadan.

Dalam outlook GSEN, EBT diprioritaskan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui pendekatan, yaitu PLTS Skala Besar, PLTS Terapung, dan PLTS Atap. “Selain tiga masih ada yang skala kecil baik itu di pinggir jalan maupun dipakai oleh masyarakat yaitu Solar Home System di wilayah-wilayah terpencil,” kata Dadan.

c-WhatsApp%20Image%202021-09-02%20at%202

Dalam diskusi, Dadan menjawab kondisi pemanfaatan EBT termasuk proses transisi dari energi fosil ke EBT termasuk melalui biofuel yang dilontarkan oleh peserta Gerilya. “Transisi mereka langsung ke electricity karena mereka tidak punya bahan bakunya (sawit), kita punya lebih dari yang dibutuhkan. Dari 50 juta ton yang diproduksi hanya sekitar 10 juta ton yang dibutuhkan, masih ada 40 juta ton,” jelas Dadan.

Sebagai informasi, 52 peserta dari 634 pendaftar telah ditetapkan menjadi peserta dan berhak mengikuti program MBKM yang proses pembelajarannya dimulai sejak tanggal 31 Agustus 2021. Selama tiga bulan pertama, peserta akan diberikan pembekalan teori melalui course dan tiga bulan setelahnya praktek di lapangan dengan konsep team-based project.

Sebagai informasi, program MBKM Gerilya ini ditujukan khusus kepada mahasiswa aktif jenjang sarjana (S-1) dan vokasi eksakta guna membantu mengoptimalkan penggunaaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di masyarakat dan mencapai target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23% di tahun 2025.

Sumber: esdm.go.i

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like