Sambut Dies Natalis ke-62, INSTIPER Yogyakarta Gelar Ragam Webinar

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Untuk menyambut Dies Natalis ke-62 pada Desember mendatang, INSTIPER Yogyakarta mengadakan rangkaian Webinar. Pada Oktober lalu, diadakan webinar ICT Retooling Program series 1 dan 2 tepatnya pada Senin – Selasa (19-20 Oktober 2020).

Selanjutnya, webinar series 3 dengan tema ‘Integrated Farming for Millenial Entrepreuner’ kembali digelar melalui aplikasi Zoom Cloud Meetting dan Live Streaming Youtube INSTIPER Yogyakarta, pada Selasa (10 November 2020).

Kali ini webinar menghadirkan tiga narasumber yaitu Deeng Sanyoto (Head of Partnership and Social Impact TaniHub), Agung Wedha (Ketua Forum Petani Muda Bali Petani Muda Keren) dan Farida Aryati (Owner Rachmat Purnama Farm).

Integrated Farming atau sistem pertanian terpadu merupakan sistem manajemen pertanian menyeluruh yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem pertanian yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan dan mendukung integrated farming salah satunya diperlukan ICT (Information, Communication and technology) yang saat ini tengah berkembang pesat.

Kendati perkembangan ICT sudah berkembang, namun masih banyak masyarakat yang sulit menemukan ide pengembangan sistem pertanian modern dan cara mengimplementasikannya. Pengetahuan, cara praktik dan pengembangan pertanian modern sangat diperlukan untuk meningkatkan manfaat dari pertanian modern ini.

Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir Harsawardana, M.Eng menyampaikan melalui webinar ini diharapkan dapat menjadi wahana pengenalan cara-cara atau hal yang harus diperhatikan untuk mencoba dan mempraktekkan modern farming melalui integrated farming serta bagaimana produk yang dihasilkan menjadi terkenal dengan nilai jual yang terbaik.

“Kehadiran narasumber yang telah sukses mempraktekkan modern farming, menjadi contoh sukses dalam praktek pelaksanaannya,” ujar Harsa dalam sambutannya.

Sementara itu, Deeng Sanyoto, Head of Partnership and Social Impact TaniHub mengatakan sebagai millenial entrepreneur harus berani berinovasi dengan menciptakan alat, sistem, atau aplikasi yang memberikan nilai tambah atau dapat memberikan solusi atas permasalahan yang didalami oleh masyarakat.

“TaniHub berusaha memotong rantai pasok produk pertanian dan meningkatkan kualitas produk serta memasarkan produk yang dihasilkan petani mitranya dengan harga yang kompetitif,” ucapnya.

Senada dengan Deeng Sanyoto, Ketua Forum Petani Muda Bali Petani Muda Keren, Agung Wedha mengatakan dalam integrated farming juga perlu memperhatikan kondisi ekologi sehingga saat ini Petani Muda Keren mengembangkan Bali Organik Subak yang mengedukasi petani di Bali untuk mempraktekkan sistem pertanian organik. “Dengan membeli produk petani lokal merupakan bentuk menghargai petani lokal maka menyelematkan ekonomi petani Indonesia,” imbuhnya.

Selanjutnnya, Farida Aryati, Owner Rachmat Purnama Farm mengatakan selain pertanian, peternakan terpadu harus berkonsep zero waste. Kotoran ternak diolah menjadi kompos untuk pupuk tanaman dan biogas. “Sisa pakan dialirkan untuk budidaya ikan ke kolam dan kolam apung. Biogas digunakan untuk kegiatan memasak dan sebagian untuk penerangan. Sementara ampas biogas dialirkan ke kolam ikan, difermentasi untuk ditambahkan pada pembuatan log media jamur. Semua kegiatan dilakukan dari hulu sampai hilir,” kata Farida.

Selain itu, INSTIPER Yogyakarta juga akan mengadakan Webinar ICT Retooling Program series 4 pada 24 November mendatang dengan tema ‘Integrating The ICT, Mechanization in Agro and Forestry Industry’ yang dibuka untuk umum dan gratis.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like