SDM KOMPETEN UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Dalam Prespektif Kompetensi Planter Masa Depan Oleh: Dr. Purwadi (Rektor INSTIPER Jogya)

Era emas bisnis perkebunan kelapa sawit  akan terlewati dan saatnya untuk memasuki persaingan dalam kompetisi dalam persaingan minyak nabati baik itu antar perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun dengan minyak nabati non sawit.

 

Krisis harga dan produksi minyak sawit pada beberapa tahun lalu baik itu oleh sebab kondisi perekonomian global, jatuhnya harga minyak mineral maupun karena kekeringan panjang dan kebakaran hutan telah memaksa perkebunan kelapa sawit untuk melakukan inovasi dan membangun kreativitas untuk melakukan efisiensi biaya. Adanya moratorium perluasaan areal untuk perkebunan besar kelapa sawit juga memaksa perusahaan untuk melakukan inovasi untuk menekan biaya produksi dengan meningkatkan produktivitas tanaman. Akhirnya daya saing perkebunan kelapa sawit di Indonesia kedepan akan sangat tergantung dari inovasi perkembangan teknologi dan sumberdaya manusia (SDM) kompeten.

 

Sumberdaya manusia (SDM) di perkebunan sungguh menentukan performa manajemen kebun, mengingat pada awalnya perkebunan adalah industri padat karya. Bahkan SDM Perkebunan atau sering disebut Planter perlu memiliki kompetensi khusus karena harus bekerja dengan kondisi sumberdaya yang sebagian uncontrollable. Perkebunan adalah bisnis berbasis sumberdaya alam yang sangat tergantung kondisi lahan, iklim dan lingkungan alam lainnya, sehingga secara teknis untuk mengelolanya perlu fleksibilitas tetapi harus tegas. Perkebunan kelapa sawit pada awal pengembangannya membutuhkan SDM kompeten yang paham teknis agronomis untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit, mereka harus tahan hidup di daerah remot, dan mampu menyesuaikan kondisi lingkungan.

 

Bagaimana dengan kebutuhan SDM perkebunan kelapa sawit saat ini dan ke depan? Kebutuhan kompetensi SDM di perkebunan kelapa sawit terus berubah mengikuti tantangan dan permasalahan lapangan serta kebutuhan manajamen kebun.  Kalau pada awalnya seorang Planters cukup dengan kompetensi teknis agronomis, dalam perkembangan selanjutnya muncul isu-isu terkait lingkungan, maka kebutuhan kompetensi seorang Planter perlu ditambah dengan kompetensi tatakelola lingkungan alam. Dalam perkembangan tahap selanjutnya mulai muncul isu-isu terkait dengan masalah sosial dan regulasi, maka kompetensi seorang Planter perlu tambah lagi, meliputi teknis agronomis, lingkungan, dan tata kelola sosial. Inilah kompetensi yang dibutuhkan bagi Planter untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini.

 

Ke depan pemahaman manajemen perkebunan kelapa sawit akan terjadi “revolusi industri”. Kalau pada awalnya manajemen perkebunan kelapa sawit menggunakan pendekatan “budidaya tanaman” dalam sistem proses manajemennya maka  kedepan akan berubah menjadi pendekatan  “industri biomas”. Pengertian industri biomas berbeda dengan industri berbasis biomas. Industri biomas adalah manajemen produksi biomas dengan pendekatan sistem industri, sedangkan industri berbasis biomas adalah industri berbahan dasar biomas.

 

Perkebunan dipandang sebagai sistem industri yang komplek, dimana manajemen proses membutuhkan sumberdaya lahan, iklim, pupuk, herbisida dan pestisida serta bahan kimia pertanian lainnya, dimana sebagian bersifat uncontrollable dan unpredictable namun kemajuan teknologi saat ini sudah bersifat predictable. Tuntutan sistem proses produksi yang sustain mengarahkan pada upaya tata kelola terbaik “best practices” menuju pendekatan “precession plantation management” dan dalam manajemennya mengarahkan pada proses produksi dengan sistem industri.

 

Perubahan manajemen kebun kelapa sawit dengan pendekatan sistem industri menjadi tuntutan ke depan oleh karena tuntutan pasar dan konsumen yang mengarahkan pada produk-produk yang diproduksi secara ramah lingkungan. Kondisi ini mengarahkan proses produksi berbasis “precession plantation management” dan ini berarti membutuhkan pendekatan sistem industri dalam  proses produksi.

 

Manajemen proses produksi dengan pendekatan sistem industri ini membutuhkan dukungan alat mesin dan teknologi informasi sebagai perangkatnya. Dalam 5-10 tahun mendatang diprediksi sebagian perkebunan kelapa sawit sudah memanfaatkan teknologi semi-robotik dan mungkin sampai robotik untuk membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu.  Artinya dalam 5-10 tahun ke depan dan selanjutnya akan terjadi “revolusi industri“ dalam tata kelola perkebunan kelapa sawit.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp