Praktik Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di Pt Bakrie Sumatera Plantations Tbk Unit Jambi

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kemitraan Inti-Plasma dipandang paling sesuai pada kondisi BSP sebagai perkebunan kelapa sawit berskala besar. Terdapat dua tipe kemitraan yang dijalankan, yaitu Pola Inti-Plasma Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Trans (masyarakat transmigrasi) dan Pola Inti-Plasma Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA, masyarakat lokal). Hingga tahun 2010, perusahaan telah membina 23 koperasi, termasuk 8 koperasi karyawan.

Setiap petani telah memiliki kebun dengan luas rata-rata 1,5-2,0 ha per kk, sedangkan kepada desa diberikan kesempatan untuk memiliki Tanah Kas Desa seluas rata-rata 10 ha per desa. Ketika pertama kali datang ke lokasi pada tahun 1984, ratusan transmigran asal Jawa Tengah dan Jawa Timur harus menghadapi kenyataan pahit. Perjuangan hidup yang dijalani sangat berat, tidak seperti yang dibayangkan. Sebagian besar wilayah desa yang dihuni masih berupa hutan dan akses ke dunia luar sangat terbatas. Warga desa terjebak di dalam kondisi kemiskinan yang akut, sehingga tidak mampu membeli beras. Selain itu, anak-anak tidak dapat mengenyam pendidikan dasar dengan layak.

Setelah lebih dari satu dekade, yaitu pada tahun 1995, baru terlihat titik terang. Program Kemitraan Inti-Plasma mulai memasuki desa transmigrasi. Ketika pohon kelapa sawit mulai berbuah dalam 4 tahun, petani plasma baru diperkenankan membayar utangnya dengan sistem cicilan sebesar 35 persen dari total pendapatan, yakni penjualan tandan buah segar (TBS) per bulan. Pada saat dilakukan penelitian, ribuan petani plasma telah melunasi utangnya.
Kehidupan petani plasma telah berubah dengan hasil yang diperoleh dari kemitraan sawit. Rata-rata tingkat pendapatan tiap keluarga yang memiliki satu kavling kebun kelapa sawit atau setara 2 ha mencapai Rp2,5-3 juta per bulan. Bahkan terdapat petani plasma yang memiliki 9 kavling, sehingga pendapatannya bisa mencapai Rp15-30 juta per bulan.

PT BSP cukup lama membangun kerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat lokal. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola melalui pendekatan Kemitraan Inti-Plasma dapat disebut sebagai pionir dalam menumbuhkan sentra ekonomi baru. Kegiatan CSR sangat penting, karena apabila kondisi masyarakat telah kuat dan kondusif, maka upaya meningkatkan kinerja perusahaan tidak akan terganggu.

Kemitraan Inti-Plasma telah membangun ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan, sehingga masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Ketika banyak pihak belum memulai, BSP telah menjalankan CSR dengan tujuan membangun partnership dengan masyarakat dan ikut membangun daerah.Kemitraan Inti-Plasma dipandang oleh masyarakat sebagai jalan menuju kesejahteraan.

Banyak hal yang telah dicapai masyarakat dari hasil plasma, yaitu mencakup perbaikan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, sosial, dan sebagainya. Pada waktu lampau, kebanyakan rumah masyarakat dapat dikatakan tidak layak huni. Dewasa ini, telah banyak dijumpai rumah permanen dan petani plasma juga telah memiliki kendaraan.
Bantuan yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan soliditas hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Perbaikan jalan kebun misalnya, diharapkan dapat memudahkan pengangkutan TBS kelapa sawit, sehingga menguntungkan petani plasma dan perusahaan. Perusahaan dapat menerima TBS dalam keadaan yang baik dan bermutu, sedangkan petani tidak mengalami kerugian, karena kualitas TBS yang terjaga ketika tiba di pabrik.

Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata penghasilan masyarakat sebelum menjadi plasma, yaitu pada tahun 2000 berjumlah Rp477.888 per bulan, dengan median Rp350.000 per bulan. Penghasilan terkecil adalah Rp75.000 sedangkan penghasilan tertinggi Rp3.000.000. Rasio antara rata-rata penghasilan per bulan yang terbesar dengan yang terkecil mencapai 40 kali dengan standar deviasi yang cukup besar, yaitu Rp385.335. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan penghasilan yang lebar di antara masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah operasi BSP Unit Jambi sebelum menjadi petani plasma.

Sepuluh tahun kemudian, rata-rata penghasilan petani plasma per bulan telah mencapai Rp2.691.700 dengan median Rp2.500.000. Berarti terjadi peningkatan pendapatan masyarakat 5,63 kali. Rasio ini mengkonfirmasi pandangan responden yang merasakan peningkatan pendapatan atau kesejahteraan ekonomi merupakan bentuk manfaat CSR yang paling nyata.

Penghasilan rata-rata per bulan yang terkecil dari responden petani plasma berjumlah Rp325.000 sedangkan penghasilan tertinggi sebesar Rp12.000.000. Berarti rasio di antara keduanya mencapai 36,92 kali. Apabila ditambah dengan standar deviasi Rp1.394,71 membuktikan bahwa meskipun mengalami sedikit penurunan, namun disparitas pendapatan di antara masyarakat masih tinggi. Program CSR telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan, namun belum mampu mengatasi kesenjangan pendapatan.

Hasil uji kesamaan rata-rata menunjukkan bahwa secara statistik terjadi perbedaan pendapatan masyarakat setelah terlibat di dalam Kemitraan Inti-Plasma perkebunan kelapa sawit dengan BSP Unit Jambi. Masyarakat telah menyadari bahwa perbaikan bisnis BSP Unit Jambi akan secara langsung memberikan dampak terhadap pendapatan mereka. Fenomena ini merupakan bukti aktual simbiosis mutualisme.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Regulasi pemerintah tidak memberikan pengaruh terhadap praktik CSR oleh BSP Unit Jambi, karena belum mengatur secara spesifik, rinci, dan tegas mengenai praktik CSR yang dijalankan oleh perusahaan di Indonesia. Praktik CSR oleh BSP Unit Jambi bersifat mandiri, yaitu memerhatikan arahan dari Kelompok Usaha Bakrie dan Kantor Pusat BSP di Jakarta. Meskipun demikian, kegiatan CSR yang dijalankan telah sesuai dengan regulasi yang terkait.

Rancangan CSR BSP Unit Jambi disusun dengan mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku pada tataran global dan memerhatikan kondisi dan kearifan lokal di sekitar wilayah operasi perusahaan. Program CSR yang dijalankan mencakup bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, keagamaan, kepemudaan, lingkungan, infrastruktur, dan tanggap bencana. Bidang ekonomi menjadi prioritas, yaitu melalui Kemitraan Inti-Plasma dalam perkebunan kelapa sawit, di mana perusahaan bertindak selaku inti, sedangkan para petani menjadi plasma.

Berbagai Program CSR yang dirancang didukung oleh strategi perusahaan yang diawali oleh komitmen yang kuat. BSP Unit Jambi selalu menyediakan dana untuk mendukung kegiatan CSR sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dana yang disediakan senantiasa meningkat setiap tahun dan selalu terserap dalam proporsi yang tinggi, bahkan terkadang realisasinya melampui target. Indikator lainnya adalah intensitas keterlibatan pimpinan dan karyawan BSP dalam pelaksanaan agenda-agenda CSR.

Strategi BSP Unit Jambi dalam menjalankan CSR yang ditempuh difokuskan pada kemitraan di antara perusahaan sebagai inti dengan petani selaku plasma kelapa sawit. Petani plasma bergabung dalam koperasi, sehingga pembinaan dapat dilakukan secara komprehensif. Semua sendi kehidupan masyarakat disentuh oleh CSR, baik yang mencakup aspek ekonomi maupun sosial. Masyarakat dilibatkan secara aktif sejak perencanaan, pelaksanaan, maupun ketika melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan CSR.

Kelemahan yang dijumpai strategi CSR yang masih bersifat atas-bawah dan keterlibatan masyarakat belum memadai. Sebagian petani plasma memandang bahwa pelaksanaan CSR tidak merata. Intensitas kunjungan dan komunikasi di antara karyawan perusahaan dengan masyarakat masih kurang, sehingga banyak informasi dan kegiatan CSR belum terdistribusi dengan baik sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Praktik CSR BSP Unit Jambi telah menghasilkan beragam manfaat bagi masyarakat, seperti peningkatan pendapatan, perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendidikan dan kesehatan, perbaikan infrastruktur, serta terciptanya hubungan kemitraan.Masyarakat yang pada awalnya miskin, telah mengalami perbaikan pendapatan secara drastis pasca berpartisipasi di dalam Kemitraan Inti-Plasma.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa BSP Unit Jambi melalui Kemitraan Inti-Plasma telah menjalankan agenda-agenda CSR yang bersifat komprehensif dan holistis dengan memerhatikan perkembangan situasi lokal, khususnya dinamika kebutuhan masyarakat. Sebagian aktivitas CSR yang dilaksanakan bersifat filantropi atau derma untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Aktivitas-aktivitas sejenis ini kebanyakan dilakukan pada saat perusahaan mulai menginisiasikan CSR di tengah-tengah masyarakat, yaitu para petani plasma kelapa sawit beserta keluarganya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan mulai meningkatkan porsi kegiatan CSR yang mengarah pada penciptaan nilai dan pengembangan jaringan produksi serta mitigasi risiko, meskipun aktivitas-aktivitas CSR yang bersifat derma tetap dilanjutkan. Upaya-upaya tersebut dilandasi dengan langkah menegaskan keberpihakan kepada para petani plasma kelapa sawit melalui pemberian sertifikat hak milik untuk tanah yang dikelola mereka. Penelitian ini mampu membuktikan bahwa keberpihakan merupakan kata kunci bagi efektifnya pelaksanaan program-program CSR oleh perusahaan. Dengan kondisi masyarakat yang semakin kondusif, maka pada akhirnya, perusahaan dapat menjalankan Kemitraan Inti-Plasma dengan fokus pada peningkatan keberdayaan masyarakat.

5.2 Saran

Disarankan agar pemerintah dengan melibatkan segenap pemangku kepentingan perlu menyusun master plan CSR di Indonesia. Selain itu, pemerintah perlu segera menerbitkan peraturan pelaksanaan yang secara rinci mengatur pelaksanaan CSR oleh perusahaan. Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat perlu menyinergikan praktik CSR BSP Unit Jambi dengan kegiatan pembangunan yang didanai APBD, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai secara optimal.

Penyusunan strategi perusahaan dalam melaksanakan CSR perlu memberikan peluang lebih besar bagi masukan dari bawah.Program CSR perlu dijalankan secara konsisten dan kontinu dengan prioritas pada pemenuhan kebutuhan aktual masyarakat. Penyampaian informasi mengenai CSR harus dilakukan secara lebih intensif, terjadwal dengan baik, dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Untuk itu, diperlukan unit kerja khusus di BSP Unit Jambi untuk menangani Program CSR.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp