Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom, Presiden Direktur United Balimuda Group: Membangun Nasionalisme Pengusaha Sawit

“Beli Indonesia”, seruan ini seringkali dikumandangkan Heppy Trenggono dalam berbagai forum mulai dari pengusaha, pemerintah, dan pemuda bahkan hingga pesantren. 

Ayah empat anak ini mempunyai visi pengelolaan kebun sawit di Indonesia di bawah kepemilikan pengusaha nasional. Dalam pandangannya, bisnis harus menjadi alat perjuangan kedaulatan negara. Tim redaksi SAWIT INDONESIA antara lain Bebe, Qayuum Amri, dan Yasin Permana berbincang dan berdiskusi dengan Heppy Trenggono di Kantor United Balimuda Group yang berlokasi di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Berikut ini petikan wawancaranya:

Dalam pengembangan lahan kelapa sawit, kendala apa yang bapak hadapi?

Ketika kasus Mesuji pada 2011, perusahaan kelapa sawit sempat mengalami masalah dengan masyarakat.  Tetapi, kami berupaya melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat supaya dapat mengembangkan usaha disana. Pendekatan ini dilakukan dengan mengalokasikan lahan dari Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan untuk diberikan kepada masyarakat. Langkah ini membuat perusahaan kami memperoleh dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Dari 38 perusahaan perkebunan, hanya perusahaan kami saja yang mendapatkan sambutan baik dari masyarakat disana.

Apakah bapak terjun ke lapangan untuk menghadapi kasus di Mesuji tersebut?

Ya, saya langsung ke bertemu masyarakat, tokoh adat dan pemerintah setempat bahkan provokatornya dalam satu pertemuan. Ketika itu, saya katakan dengan tegas ingin bermusyawarah dengan mereka untuk membicarakan masalah lahan tersebut. Awalnya, mereka galak dan resisten tetapi setelah pendekatan yang kami lakukan mereka pun mulai melunak. Walaupun dari aspek hukum status lahan perusahaan kuat, tetapi perlu pendekatan berbeda dengan kehidupan masyarakat tadi. Jadi tidak hanya pendekatan hukum namun harus ada pendekatan manusia dan keadilan. Atas dasar keputusan pemegang saham, akhirnya sebagian kebun diberikan kepada masyarakat. 

Apa masalah terbesar industri perkebunan sawit sekarang?

Masalah dukungan pemerintah, berbicara soal izin pusat dan daerah itu berjalan sendiri-sendiri. Kemudian konsep pembangun perkebunan sawit ini merupakan bisnis yang cukup strategis untuk investasi karena investor itu membuat yang tadinya tidak ada menjadi ada, jauh berbeda dengan  industri pertambangan. Pemerintah harus mengetahui mau dibawa kemana industri sawit. Apakah ini akan menjadi dominasi asing atau menjadi dominasi Indonesia. Tanpa pemikiran matang dan strategi tepat, maka Indonesia tidak akan pernah menjadi tuan rumah sendiri.

Sebagai produsen kelapa sawit dunia, keuntungan apa yang dapat dimanfaatkan Indonesia?

Kelapa sawit menjadi hal yang luar biasa karena dunia sekarang ini telah bergeser dari menggunakan minyak bumi menjadi minyak nabati. Jadi, permintaan itu terus bertambah besar dan bergerak naik yang diikuti dengan produk hilir sawit lainnya seperti  oleokimia, sabun, dan kosmetik. itu sebabnya, Indonesia sangat beruntung karena tidak semua negara dapat menanam kelapa sawit, hanya negara-negara yang berada di garis khatulistiwa saja.

Hal ini merupakan peluang besar karena Malaysia sebagai sesama produsen sudah tidak lagi memiliki lahan sementara Indonesia masih memiliki lahan.  Jadi sangat strategis industri ini sehingga perlu dibuat konsep yang jelas  jangan hanya mengundang investasi saja maka datangnya investor ini perlu dibuat strategi untuk dapat membangun negara ke depan. 

Upaya apa yang mesti dilakukan untuk menumbuhkan minat investor lokal di industri sawit?

Kendala yang dihadapi itu adalah orang Indonesia ingin bisnisnya cepat besar. Cobalah belajar dari pengusaha sawit Malaysia yang memiliki kebun itu paling kecil 100 hektare  dan maksimal 1.000 hektare. Sementara, mereka begitu membuka lahan di Indonesia dapat menguasai 10.000-20.000 hektare. Bagaimanapun juga, membangun perkebunan sawit itu  Membangun perkebunan sawit juga membangun kompetensi. Jadi, tidak bisa sekarang mengembangkan kelapa sawit besok sudah dapat uang, ini tidak bisa seperti itu. 

Saya rasa pemerintah dapat membuat sebuah model pengembangan lahan kelapa sawit yang bentuknya smallholder seluas 100-1.000 ha lalu pemerintah  berikan kesempatan untuk membuat pabrik kelapa sawit. Padahal di Malaysia, pengusaha itu mulai dari luas lahan kecil tidak harus langsung besar. Hal ini sudah saya lakukan dengan membangun kebun sendiri dengan dana sendiri, yang mulai dari 100 hektare, 200 hektare.  Pola ini mesti disosialisasikan sehingga anak-anak kita dapat mulai menjadi pengusaha. 

Bagaimana perkembangan luas lahan kelapa sawit United Balimuda sekarang?

 Total luas areal perkebunan yang dikuasai perusahan sekitar 80.000 hektare, dari jumlah tadi telah tertanam lahan seluas  30.000 hektare. Perkebunan kami telah dilengkapi dengan dua pabrik kelapa sawit berkapasitas 30 ton per jam dan 160 ton per jam. Lantas ada satu PKS yang sedang dibangun dengan kapasitas 30 ton per jam. Lokasi pabrik kami berada di Kalimantan Timur dan Lampung.

Dalam pengembangan bisnis sawit, perusahaan tetap ekspansi lewat dua strategi utama yakni kemitraan dengan investor dan pengelolaan kebun kecil mandiri. 

Anda sangat aktif dalam Indonesian Islamic Business Forum. Pesan apa yang anda coba sampaikan kepada para pengusaha muda?

Indonesian Islamic Business Forum bertujuan membangun karakter pengusaha, terutama sekali menciptakan pengusaha karena Indonesia ini  kekurangan pengusaha. Membangun bangsa atau ekonomi saat ini tidak lepas dari  membangun sektor swasta, artinya membangun pengusaha di dalamnya walaupun sekarang rasio jumlah pengusaha masih sedikit. Namun dari jumlah yang sedikit ini dibentuk pengusaha yang kuat dan berkarakter. Indonesia tidak butuh pengusaha tanpa karakter yang akan menjadi beban bangsa ini. Sebagai contoh, kasus Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) yang menghabiskan duit negara lebih dari Rp 164 triliun kepada 23 bank, kenyataannya  uang itu dibawa lari oleh pengusaha.  Termasuk kasus Bank Century yang merugikan negara lebih dari Rp 6 triliun. Pada akhirnya, semua masalah ini dibebankan kepada rakyat Indonesia.

Gerakan yang dibangun adalah Beli Indonesia itu merupakan karakter bangsa karena ke depan harus terjadi  anak-anak bangsa sendiri yang menjadi tuan rumah di negaranya. Ada tiga sikap yang perlu ditekankan dari dari tiga sikap perjuangan, yakni pertama, gerakan membeli produk Indonesia. Ini artinya memilih barang buatan bangsa sendiri. Kedua, martabat bangsa Indonesia harus dibela. Ketiga, membangun persaudaraan antara sesama anak bangsa lewat sikap tolong menolong. 

Dalam berbisnis, prinsip-prinsip apa yang bapak pegang?

Membangun reputasi tanpa disertai percaya tidak akan terjadi. Awalnya, saya sulit menemui orang tapi sekarang banyak datang ke kantor untuk melakukan kerjasama. Termasuk dengan pemerintah, Indonesia pun harus membangun reputasi. Konsep membangun bisnis itu adalah kepercayaan. Dari kepercayaan bisa membangun reputasi, respect to others. Membangun kepercayaan tidak hanya kepada relasi bisnis, pemerintah tapi juga pada rakyat. Selain itu dibutuhkan sebuah kejujuran, komitmen, loyalitas dan hal ini terbukti berhasil ketika menghadapi masalah.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp