Haryanto Tedjawidjaja: Minamas Fokus Peningkatan Produktivitas

Sempat merasakan pensiun dari pekerjaan selama ± 3 tahun. Haryanto Tedjawidjaja diminta manajemen Sime Darby untuk memimpin Minamas Plantation, anak usaha Sime Darby di Indonesia.  Pria kelahiran Jakarta ini punya pengalaman 25 tahun di sektor perkelapasawitan. Sebelum bergabung dengan Minamas, Haryanto pernah berkarir di Grup Sinarmas dan Rajawali.

“Sebenarnya saya sudah pensiun. Ternyata kalau kelamaan pensiun otak menjadi cepat turun daya ingatnya. Maka dari itu, saya sekarang bergabung dengan  Minamas,” ujar Haryanto sambil tersenyum.

Haryanto Tedjawidjaja adalah orang Indonesia pertama yang memimpin Minamas Plantation. Selama satu jam lamanya, dia bercerita komitmen Minamas dari aspek keberlanjutan dan perkembangan bisnis perusahaan di Indonesia. Anak usaha Sime Darby ini beroperasi di 8 provinsi mulai dari Aceh sampai Sulawesi Tengah.

Perkembangan Minamas sudah cukup besar. Sekarang kami ingin meningkatkan produktivitas tanaman. Makanya, konsentrasi perusahaan kepada peremajaan tanaman,” jelasnya.

Mayoritas lahan  yang di-takeover Minamas berasal dari tahun penanaman 1980-an. Semakin tua tanaman berdampak kepada turunnya produktivitas. Kegiatan peremajaan tanaman (replanting) mulai berjalan pada 2010. Haryanto menjelaskan target replanting dalam setahun sebesar 7 persen atau sekitar 14 ribu hektare. Rata-rata perusahaan sawit meremajakan tanaman berkisar 4-5% dari total area. “Tapi karena ingin lebih intensif makanya replanting dipatok 7 persen,” papar Haryanto.

Agar produksi perusahaan tidak terganggu, peremajaan dilakukan secara selektif.  Prioritas diberikan kepada lahan yang produktivitasnya sudah rendah. Minamas menggunakan teknologi bahan tanaman berkualitas super untuk meningkatkan produksi. Material ini mempunyai kemampuan produktivitas CPO lebih tinggi.

Bagi Haryanto, praktik sustainability telah menjadi tuntutan dan keharusan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar internasional. Minamas berkomitmen kuat menjaga lingkungan, mematuhi regulasi, dan mengimplementasikan tata kelola yang berkelanjutan. Komitmen ini bagian dari Responsible Agriculture Charter (RAC) yang baru saja diluncurkan Sime Darby, perusahaan induk Minamas.

Lebih lanjut dikatakan Haryanto bahwa perusahaan menyakini praktik pertanian yang bertanggungjawab dan menjaga ekosistem lingkungan akan berperan penting bagi pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan. Dengan begitu, pihaknya bisa mengurangi kemiskinan di pedesaan  serta meningkatkan taraf hidup masyarakat. Berikut ini hasil  wawancara tim redaksi SAWIT INDONESIA dengan Haryanto Tedjawidjaja di kantornya yang berlokasi di Gedung The Plaza, Jakarta:

Mohon dijelaskan sudah sampai mana perkembangan bisnis kelapa sawit Minamas Plantation?

Unit bisnis kami mulai dari Aceh sampai Sulawesi Tengah yang berada di 8 provinsi. Total luas areal kami mencapai 275 ribu hektare. Perusahaan memiliki 24 unit pabrik kelapa sawit, dua unit kernel crushing plant, dan satu refineri.

Ketika diajak bergabung dengan Sime Darby. Apakah Bapak diberikan target khusus dari pihak manajemen?

Saya rasa saat ini perkembangan Minamas sudah cukup besar.  Masa sekarang adalah masa yang cukup sulit, termasuk masalah harga. Saya diminta pihak manajemen untuk terus maju ke depan dengan melakukan ‘operational improvements’ dan tentunya ‘cost efficiency’.

Kami sedang berkonsentrasi  untuk menjalankan replanting karena banyak unit kebun dengan umur tanaman tua. Kebun yang kami take over sekitar tahun tanam 1980 sehingga produktivitasnya rendah. Target kami dalam peremajaan tanaman sebesar 7 persen atau sekitar 14 ribu hektare.

Tidak takut produksi anjlok apabila replanting mencapai 7 persen?

Memang kami akselerasi replanting karena banyak kebun dengan produktivitas rendah. Namun begitu, replanting dijalankan selektif terutama lahan yang produksinya sudah kurang bagus . Supaya produksi cepat pulih kami datangkan  material tanaman berkualitas super. Dari kajian awal   yield tahun pertama melebihi 15 ton TBS per hektare. Replanting dimulai dari tahun 2010  dan berjalan terus sampai sekarang.

Bagaimana pandangan perusahaan mengenai pelaksanaan sustainability?

Sustainability penting bagi perusahaan karena telah menjadi keharusan apabila ingin masuk pasar internasional. Implementasi sustainable palm oil sudah menjadi tuntutan. Dalam hal ini, kami menjaga lingkungan, patuh kepada aturan pemerintah, dan berkomitmen menerapkan praktik sustainability seperti zero burning. Intinya ada tuntutan apabila ingin memasuki pasar internasional, bisnis harus sustainable.

Apakah ada  program dari perusahaan terkait sustainability yang berbeda dengan perusahaan lain?

Dengan perusahaan lain, mungkin hampir sama. Salah satu program yang spesifik di Minamas adalah disediakannya rumah khusus bagi karyawan di bagian penyemprotan pestisida dan pemupukan. Rumah ini digunakan karyawan tersebut untuk mandi dan berganti pakaian setelah melakukan kegiatan penyemprotan sebelum pulang kerumah. Sebab, pemakaian chemical berbahaya bagi karyawan makanya kami sangat memperhatikan faktor safety. Bagi pekerja wanita yang punya anak, mereka dalam keadaan bersih dapat  mengambil anaknya di tempat penitipan.

Apa yang menjadi pertimbangan perusahaan?

Bagi kami karyawan adalah aset berharga. Faktor safety menjadi prioritas utama. Sebelum bekerja, karyawan akan mendapatkan pelatihan supaya kompetensi mereka bagus. Selain itu, kami sediakan alat perlindungan diri bagi karyawan untuk mencegah resiko kecelakaaan. Hal ini sejalan dengan semboyan Minamas  yaitu, “berangkat, bekerja dan pulang dengan selamat.”

Terkait sertifikasi ISPO, sudah sejauh mana perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir?

Minamas salah satu perusahaan yang menjadi pionir untuk mendapatkan sertifikat ISPO. Saat ini, 24 unit bisnis kami telah selesai  final audit dari lembaga sertifikasi. Dari jumlah tersebut sudah ada 12 unit yang menerima sertifikat ISPO dengan produksi CPO 480 ribu ton. Sementara itu, unit bisnis lain dalam proses final review Komite ISPO. Pada tahun 2013, kami salah satu dari 10 perusahaan yang diserahkan sertifikat ISPO oleh Bapak Ir. Suswono, Menteri Pertanian kala itu.

Seberapa penting ISPO bagi perusahaan?

ISPO bersifat mandatori karena itu ISPO sangatlah penting. Baik itu ISPO maupun RSPO sangat berharga bagi kami dalam pelaksanaan sustainability. Intinya kami tidak ingin meningggalkan sesuatu yang buruk kepada generasi yang akan datang.

Sudah berapa jumlah unit kebun yang bersertifikat RSPO?

Sertifikat RSPO yang diserahkan kepada Minamas mencapai 23 unit perusahaan. Satu perusahaan masih menunggu proses review oleh RSPO.

(Ulasan lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Oktober-15 November 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.