Bungaran Saragih: Program Replanting Petani Bisa Cepat Dikerjakan

Rencana pemerintah untuk merealisasikan program peremajaan (replanting) tanaman sawit masih menghadapi banyak kendala. Hingga Maret, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit belum punya payung hukum untuk penyaluran dana peremajaan kepada petani.

Mantan Menteri Pertanian Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid, Bungaran Saragih menanggapi persoalan tersebut. Dalam pandangannya, peremajaan lahan petani sebaiknya jangan ditunda terlalu lama karena lahan yang masuk masa peremajaan sudah jelas. Karena replanting ini menjadi cara yang tepat untuk membantu petani dalam perbaikan produktivitas

“Tanpa peremajaan, lahan petani semakin rendah kualitas dan hasil produksinya. Peremajaan ini penting untuk menopang pembangunan ekonomi nasional,” kata Bungaran.

Bungaran menyebutkan butuh dana besar untuk meremajakan lahan sawit milik petani. Program ini bisa  berjalan baik asalkan didukung organisasi maupun kelembagaan yang kuat di tingkat petani.

Mengenai kehadiran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, Bungaran mengharapkan fungsi lembaga ini tidak sebatas berkutat sebagai penyalur dana. BPDP ini mampu menjalankan program yang bersifat jangka panjang untuk membantu industri sawit berkelanjutan. “BPDP jangan hanya memikirkan jangka pendek apalagi hanya menyalurkan uang saja,”ujar Doktor Ekonomi Bidang North Carolina State University tahun 1980.

Untuk memperjelas persoalan replanting sawit berikut ini petikan wawancara Ferrika Lukmana, Reporter Majalah Sawit Indonesia, dan Iman Saputra, Fotografer,  dengan Bungaran Saragih di kantornya Equity Tower, Jakarta Pusat.

Bagaimana tanggapan bapak mengenai program peremajaan (replanting) lahan petani sawit yang dijalankan BPDP Sawit?

Siapa yang dapat, bagaimana memberikannya, konsepnya bagaimana jangan tanya saya tanya ke Menteri Pertanian. Pertama yang saya tanggapi peremajaan oke-oke saja. Inikan uang yang dipungut dari perusahaan kelapa sawit dan petani walaupun tidak langsung. Kemudian uang itu kalau dipungut digunakan untuk apa, tentu saja bagi  subsidi biodisel dan peremajaan tujuan utamanya meningkatkan harga sawit nasional dan dunia supaya tidak jatuh.

Salah satu cara membantu petani kecil dengan program replanting. Tapi, petani swadaya ini masih barukan sekitar 10 tahun, belum waktunya replanting.

Sampai Maret Kementrian Pertanian belum menerbitkan regulasi sebagai payung hukum program peremajaan. Apakah ini menunjukkan Kementrian bergerak lamban dalam program ini?

Lantas kapan mau dilaksanakan saya dengar dananya sampai triliunan. Kalau waktu dan dana nggak jelas bisa dijelaskan terlebih dahululah. Setelah itu baru kemudian replanting, terus bagaimana penerapannya, berapa dana yang akan diberikan dan bagaimana dikasihnya.

Kalau menurut saya jangan menunggu lama-lama sudah konkrit kok, berapa hektar sawit punya rakyat yang perlu di replanting. Kalau tidak terjadi replanting akan mempengaruhi panen dan kualitasnya menjadi rendah.

eanurut Bapak, apakah program replanting BPDP sebaiknya difokuskan membantu petani swadaya?

Khusus petani rakyat, petani swadaya. Yang paling pokok membantu petani rakyat adalah meningkatkan produktivitas mereka, produktivitas tanaman, produktivitas tenaga kerja, produktivitas petani sawit rakyat rendah sekali. Itu kehilangan buat petani dan kehilangan pada pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena itu, program dikumpulkan hendaknya untuk meningkatkan produktivitas.

Organisasi seperti apa yang dibutuhkan petani sawit rakyat?

Organisasi khusus petani rakyat yang berkaitan dengan pengusaha perkebunan besarkan. Sekarang organisasi petani rakyat belum punya processing masih sedikit sekali, nggak tahu trading, nggak tahu mengekspor dan semua menggunakan grup besarkan. Jadi oragnisasi ini bisa membantu link petani atau terkait perusahaan di hilir. Membantu petani agar mempunyai daya tawar kepada indusutri dan perusahaan besar dan tidak mendapat perlakuan eksploitasi. Ini bantuan yang besar yang diperlukan petani.

Apakah petani rakyat mampu mendirikan dan menjalankan organisasi tersebut?

Bisa kalau dibantu dengan pemerinta, NGO dan perusahaan. Memang ada perusahaan yang baik ada pula yang nakal. Di negara majui sama kaya gitu, kenapa petani sejahtera karena dia berorganisasi bisa berhadapan dengan orang dari luar. Sehingga ketika membeli dan menjual produk mendapatkan harga yang pantas, ketika membeli jumlah besar akan dapat diskon, ini manfaatnya organisasi. Ini yang nggak bisa mensejahterakan petani rakyat.

Adapu negara yang kuat organisasinya seperti di Jepang kuat, di Amerika kuat, di Belanda kuat di Malaysia lumayan seperti Felda kuat bahkan sudah go internasional. Kita nggak ada, plasma kita lebih banyak,sayangnya petani rakyat kita juga tetapi pecah-pecah. Kalau di Jepang, Amerika dan Belanda bentuknya Koperasi. Di Malaysia berbentuk perusahaan atau badan usaha milik petani. (Ferrika Lukmana)

(Lebih lengkap baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 April-15 Mei 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.