Strategi Minamas Cegah dan Padamkan Kebakaran Lahan

Minamas Plantation memiliki komitmen kuat dalam pencegahan dan pemadaman kebakaran lahan. Perusahaan juga memiliki kebijakan supaya tim perusahaan terjun ke wilayah kebakaran dengan radius 5 kilometer di luar konsesi. Disinilah Minamas menunjukkan kelasnya sebagai perusahaan yang memiliki kepedulian tinggi untuk mengatasi  kebakaran di lahan masyarakat.

Memasuki musim kering pada bulan Juli 2016, tim pemadaman kebakaran PT Tunggal Mitra Plantations, anak usaha Minamas Plantations  yang berlokasi di Rokan Hilir bersiaga menghadapi kebakaran. Pasalnya, wilayah Rokan Hilir termasuk daerah rawan kebakaran setiap tahunnya. Selain bertugas mencegah kebakaran di konsesi lahan, tim juga memantau dan membantu pemadaman kebakaran di wilayah luar konsesi dalam radius  5 kilometer.

“Kami memiliki kebijakan membantu pemadaman kebakaran lahan di luar konsesi dengan radius lima kilometer. Kebijakan ini berlaku di semua kebun kami,” kata Haryanto Tedjawidjaja, Head Plantation Upstream Indonesia Minamas Plantation, dalam sebuah wawancara di kantornya pada penghujung September lalu.

Tidak hanya radius 5 kilometer, tim pemadam  PT Tunggal Mitra Plantations (TMP) pernah diminta memadamkan api di desa yang jaraknya 55,5 kilometer. Permintaan ini datang pada bulan Juli lalu. Kebakaran lahan terjadi di Desa Air Hitam, Kecamatan Pujud. Regu pemadam PT TMP membantu memadamkan kebakaran bersama dengan pemerintah daerah. Dengan mengirimkan 8 personil yang bergerak cepat membawa perlengkapan pemadaman kebakaran untuk menuju lokasi kebakaran, jarak yang ditempuh 2,5 jam menggunakan alat transportasi mobil, motor dan feri.

“Lokasi kebakaran memang cukup jauh dari PT TMP. Tapi kami  merasa berkewajiban membantu agar api tidak meluas ke area lain,” ujar Wilmar Marpaung, Manager Estate PT TMP.

Regu pemadaman kebakaran PT TMP bekerjasama dengan anggota dari Kecamatan dan Kepolisian Sektor Pujud berhasil memadamkan api setelah berjuang selama dua hari (13-14 Juli 2016).

Sebulan berikutnya, tim pemadaman PT TMP kembali diminta untuk memadamkan api di wilayah lain. Kali ini kebakaran terjadi Desa Siarang-arang Rokan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rokan Hilir pada tanggal 14 Agustus lalu. Kebakaran melanda lahan gambut seluas 38 hektar. Api yang muncul cepat menjalar di lahan kosong maupun lahan yang ditanami tanaman pertanian masyarakat.

Wilmar Marpaung mengatakan pemadaman kebakaran di Desa Siarang-arang cukup berat karena lahan yang terbakar mayoritas gambut. Tantangan juga datang dari keringnya cuaca lantaran hujan yang tidak turun hampir selama satu bulan.

Regu pemadam kebakaran PT TMP bersama-sama dengan Kecamatan dan Kepolisian Sektor Pujud beserta Komando Distrik Militer (Kodim) 0321 Bagan Siapi-api bahu membahu memadamkan api. Kerja keras ini tidak sia-sia. Kebakaran dapat dipadamkan secara tuntas pada 2 September 2016.

“Kami sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh seluruh pihak, khususnya regu DAMKAR dari PT Tunggal Mitra Plantations untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di dua tempat dalam dua bulan terakhir ini. Dengan kepiawaian seluruh anggota Regu DAMKAR, akhirnya api berhasil dipadamkan dalam waktu yang cukup singkat” ujar Nazmijar, Kepala Desa Siarang-arang Rokan.

Haryanto Tedjawidjaja menjelaskan bahwa Komitmen Sime Darby “5 km Radius Pemantauan Kebakaran” mulai berjalan pada bulan November 2015. Komitmen ini dilaksanakan oleh regu pemadam kebakaran yang telah dilengkapi peralatan pemadam kebakaran.

“Keterlibatan masyarakat diwujudkan dalam pembentukan Masyarakat Peduli Api. Kami juga bekerjasama dengan perusahaan lain di sekitar kebun untuk pemantauan hotspot,” kata Haryanto.

Mohamad Pirabaharan Abdullah, Head of Plantation Sustainability & Quality Management Minamas Plantation, menjelaskan bahwa perusahaan telah membuat Standard Operating Procedure (SOP) Perlindungan Terhadap Lingkungan sejak tahun 2003 dan dikembangkan sesuai kebutuhan.

SOP mencakup pembentukan tim penanggulangan kebakaran, mempersiapkan sumber air, inventarisasi lokasi kebun rawan kebakaran, membuat rambu peringatan bahaya kebakaran, dan konstruksi menara api untuk pemantauan. Selain itu, perusahaan juga memiliki alat penanggulangan kebakaran di setiap unit perkebunan. SOP ini sangatlah lengkap mengatur bagaimana cara tim untuk mengendalikan kebakaran sampai kepada administrasi dan pelaporan kepada aparat setempat.

Kegiatan pengawasan kebakaran semakin mudah melalui dukungan teknologi. Sime Darby, induk perusahaan Minamas Plantation, mengawasi titik panas (hotspot) dengan sistem yang bekerja 24 jam, sistem ini dinamakan “Plantation Location Intelligent Universal Management” (PLATINUM). Sesaat setelah terlihat hotspot di dalam atau dan sekitar radius 5 km, pada saat itu juga akan masuk email pemberitahuan kepada pihak manajemen.

“Ketika  ada notifikasi laporan hotspot, tim kami langsung bergerak. Walaupun areanya jauh di pedalaman, mereka tetap harus ke lapangan. Bila terjadi kebakaran, harus langsung dilaporkan dalam waktu 24jam ke Sime Darby,” kata Pirabaharan.

Pengawasan kebakaran di kebun juga memanfaatkan menara api. Menara ini berketinggian 15 meter yang dibangun di beberapa lokasi unit usaha. Ada pula fire index untuk memberitahukan resiko kebakaran kepada seluruh karyawan.

Sebagai bagian transparansi, telah diluncurkan ‘Hotspot Dashboard’ di situs Sime Darby sejak  Oktober 2015. Dalam fitur ini berisi informasi mengenai perkembangan hotspot di wilayah operasi perusahaan di Malaysia, Indonesia, Liberia, Papua New Guinea dan Solomon Islands.

(Ulasan lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Oktober-15 November 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.