Socfindo Menjawab Tantangan Zaman

Perkembangan industri sawit di Indonesia erat kaitannya dengan kehadiran dan perjalanan PT Socfin Indonesia (Socfindo). Dengan kepemilikan lahan sawit dibawah 50 ribu hektare, perusahaan mampu bertahan lebih dari satu abad. Fokus membangun perkebunan yang efisien dan produktivitas tinggi.

Setibanya di Sumatera, Adrien Hallet seorang insinyur pertanian asal Belgia, takjub dengan pertumbuhan tanaman kelapa sawit di daerah tersebut. Kalau di Afrika, elaeis guineensis – nama latin kelapa sawit – butuh waktu enam sampai tujuh tahun untuk berbuah, tapi di Sumatera kelapa sawit tumbuh subur dan cepat berbuah di tahun keempat.

Jauh sebelum Adrien Hallet datang ke Sumatera, tanaman sawit sudah lebih dulu datang pada 1848. Empat bibit tanaman ini berasal dari Bourbon (sekarang Mauritius) dan Hortus Botanicus, sebuah kebun koleksi botani di Amsterdam, yang masing-masing dibawa sebanyak dua bibit. Pada 1853, tanaman yang dikembangkan di Kebun Raya Bogor ini sudah menunjukkan hasil buah sawitnya. Dalam Buku Perkebunan dalam Lintasan Zaman karya Achmad Mangga Barani, menyebutkan pemerintah Belanda melihat peluang pengembangan kelapa sawit di Indonesia, lewat kegiatan ujicoba penanaman kelapa sawit dilakukan di Banyumas seluas 14 akre atau setara 5,6 hektare ( 1 acre = 0,4 hektare) dan ditanam di Palembang seluas 3 akre yang ekuivalen dengan 1,2 hektare. Wilayah lain yang menjadi tempat uji coba penanaman sawit di Priangan, Pamanukan, Ciasem, dan Ciomas.

Adrien Hallet, pengusaha cum insinyur pertanian asal Belgia, akhirnya menjadi sangat serius untuk menanam kelapa sawit pada perkebunan skala besar. Pada tahun 1909, Adrien Hallet dan partnernya M. Bunge mendirikan SOCFIN S.A. (Societe Financiere des Caoutchoucs Medan Societe Anonyme). Dan pada tahun 1911, dipilihlah 3 lokasi perkebunan untuk ditanami kelapa sawit, yakni Sei Liput, Pulau Raja dan Deli Muda di wilayah Sumatera Bagian Utara. Perkebunan sawit Adrien Hallet ini kemudian berkembang seluas 6.500 akre (2.600 hektar). Bukan hanya di Indonesia, Adrian Hallet bersama Henry Fauconnier, temannya, membuat perusahaan Plantation Fauconnier &Posth yang mengelola perkebunan sawit di Malaysia.

Di masa nasionalisasi perusahaan asing, Socfin sempat di bawah pengawasan pemerintah Indonesia berdasarkan penetapan Presiden No. 6 Tahun 1965. Tiga tahun berikutnya, tercapai persetujuan antara Pemerintah RI (diwakili Menteri Perkebunan) dengan Plantation Nord Sumatera SA (pemilik saham PT. Socfindo SA) untuk mendirikan perusahaan perkebunan dengan komposisi modal 40% dan 60% pada tanggal 29 April 1968.

Thajib Hadiwijaja, Menteri Pertanian era 1968-1973, mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 94/Kpts/OP/6/1968 pada 13 Juni 1968) mengenai perusahaan patungan antara Indonesia dan Belgia. Lalu diperkuat dengan keluarnya Surat Keputusan oleh Soeharto Presiden RI, bernomor Keputusan No.68/Kpts/6/1968 pada tanggal 17 juni 1968, menyetujui terbentuknya perusahaan patungan antara Pemerintahan RI dengan perusahaan Belgia. Akhirnya nama Socfin berganti nama menjadi PT Socfin Indonesia.
Memasuki era 1970, PT Socfin Indonesia telah menjadi perusahaan kelapa sawit yang sangat disegani dari segi produksi dan teknologi. Tercatat, ada tiga perusahaan sawit terbesar saat itu yaitu Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) 6 dan PNP 7 (sekarang menjadi PT Perkebunan Nusantara IV), disusul PT Socfin Indonesia. Derom Bangun, Ketua

Dewan Minyak Sawit Indonesia, menuturkan Socfin mampu menghasilkan CPO sekitar 40 ribu ton pada 1971. Produksi sebesar ini mampu berkontribusi 20% dari total produksi CPO nasional era tersebut mencapai 249.957 ton.

Derom Bangun yang karir pekerjaannya dimulai di PT Socfin Indonesia, mengakui perusahaan ini sudah memodernisasi teknologi pabrik kelapa sawitnya. Ketika, pabrik sawit lain masih menggunakan teknologi peninggalan zaman Belanda.

Dalam Buku Memoar Duta Besar Sawit, Derom bercerita pada 6-8 November 1969, dirinya diberikan tugas dinas pertama ke luar negeri yaitu Kuala Lumpur, Malaysia. Perjalanan ini bertujuan mengikuti simposium manajemen perkebunan sawit dengan pembicara Ir. J.Olie dan Dato’B.Bek Nielsen. Kedua pembicara ini adalah ahli teknologi kelapa sawit di era tersebut. Dalam simposium tadi, Ir.J. Olie mempresentasikan pabrik kempa hidrolik milik perusahaan de Stork, berpusat di Belanda. Sementara, Dato’B.Bek Nielsen mengulas mesin ulir atau screw press merek Usine de Wecker berasal dari Luksemburg.

“Perdebatan keras terjadi diantara kedua pembicara tersebut. Masing-masing memiliki argumen yang sangat kuat,” kata Derom.

Sekembalinya ke Indonesia, Derom Bangun membuat laporan kepada direksi PT Socfin Indonesia untuk membeli satu unit screw press sebagai pengganti lima unit kempa hidrolik. Screw press ini akan dipakai pabrik sawit Kebun Mata Pao berkapasitas 10 Ton TBS per jam, berlokasi di Sergai, Sumatera Utara. Di Indonesia, PT Socfin Indonesia yang pertama kali memakai teknologi screw press. Hingga 1970, seluruh pabrik sawit di Indonesia masih menggunakan mesin kempa hidraulik atau hydraulic press.

Penggunaan teknologi screw press ditujukan meningkatkan hasil produksi minyak sawit karena panen dari kebun sudah sangat tinggi. Derom Bangun mengakui PT Socfindo termasuk cepat dalam pengambilan keputusan mengganti mesin-mesin lama kempa hidrolik ke mesin ulir. Tentu saja, keputusan ini diambil dengan pertimbangan pabrik sangat tua dan tidak mampu lagi mengimbangi hasil buah dari kebun. Padahal, produksi tandan buah sawit yang sudah dipanen tak boleh ditunda pengolahannya.

Upaya Socfindo menjawab tantangan zaman diwujudkan lewat rencana perusahaan membangun pabrik sawit modern berbasiskan mesin kontrol otomatis yang sudah mengalami elektrifikasi. Pada 1971, keinginan ini dimulai dengan pendirian pabrik sawit modern di Aek Loba, yang menggantikan salah satu pabrik sawit yang berusia tua di kebun tersebut. Teknologi pabrik lama ini mesin diesel merek Bellis Morcomm berkekuatan 225 tenaga kuda dan mesin uap merek Corliss berkekuatan 150 tenaga kuda. “Mesin tersebut sudah dipakai semenjak 1930, ini artinya sudah berusia 40 tahun,” ujar Derom.

Pabrik modern ini ini berkapasitas 20 ton TBS per jam yang dapat ditingkatkan menjadi 40 ton TBS per jam. Lama pembangunan pabrik butuh waktu 18 bulan. Teknologi yang digunakan pabrik sawit baru ini terbilang anyar di masanya, sebut saja telah digunakan turbin uap berkekuatan 600 tenaga kuda HP. Kemudian, dipasang pula ketel uap (boiler) yang bermerek Vicker Hoskins. Tenaga listrik untuk pabrik sudah dilengkapi dengan Automatic Voltage Regulator (AVR), lalu digunakan alat pemurnian minyak sawit modern seperti sludge separator dan purifier.

“Pembangunan pabrik baru ini menciptakan efisiensi dan produktivitas sehingga produksi minyak sawit perusahaan naik signifikan,” kata Derom. Memasuki era 1980-an, inovasi PT Socfindo dilakukan dengan pembangunan pabrik fraksinasi dan pemurnian minyak sawit, di Tanah Gambus. Produknya berupa olein.

Booming yang terjadi di industri kelapa sawit pada periode 1990-2000 mendorong munculnya ekspansi perusahaan kelapa sawit di berbagai daerah Indonesia. Banyak perusahaan yang membuka perkebunan di daerah Kalimantan dan Sulawesi setelah tidak ada lahan yang potensial di Sumatera. Namun tidak demikian dengan PT Socfindo yang tetap mengembangkan lahan sawitnya di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Andi Suwignyo, General Manager PT Socfindo, menjelaskan perusahaan menganut prinsip kehati-hatian dalam menambah lahan sawit baru. Beberapa daerah pernah dijajaki Socfindo antara lain Jambi, Lampung, dan Kalimantan. Namun, belum ada lahan yang sesuai dengan kriteria Socfindo.

Kendala lain, menurut Andi Suwignyo, ketidaksinkronan regulasi di tingkat pemerintah pusat dan daerah menimbulkan ketidakpastian status lahan. Faktanya, banyak lahan yang statusnya tumpang tindih dalam penggunaan yang dikhawatirkan menimbulkan masalah di kemudian hari. Dia memaparkan kembali beberapa pemain sawit berani membuka lahan walaupun berbekal Izin Usaha Perkebunan (IUP), namun langkah tersebut tidak dapat dijalankan PT Socfindo.

“Di tahun ini, sedang dilakukan studi lahan di Kalimantan Timur seluas 10 ribu hektare. Ada yang menawarkan lahan berstatus Hak Guna Usaha tersebut kepada Socfindo. Namun, kami juga ingin melihat kondisi sosial di sana,” kata Andi kepada SAWIT INDONESIA.

Sampai tahun 2013, total luas lahan perkebunan PT Socfindo mencapai 48 ribu hektare. Terdiri dari 38 ribu hektare lahan kelapa sawit dan sisanya 10 ribu hektare perkebunan karet. Berdasarkan data PT Socfindo yang dimuat dalam web RSPO, lahan tanaman menghasilkan (mature) Socfindo seluas 33.395 hektare sampai Juli 2013. Total produksi CPO perusahaan mencapai 226.221 ton.

Dengan lahan kelapa sawit di bawah 50 ribu hektare, PT Socfindo memilih pola intensifikasi dalam meningkatkan produksi. Salah satunya dengan menghasilkan sendiri benih sawit. Eko Dermawan, Seed Sales & Marketing Manager PT Socfindo, menuturkan benih sawit ditujukan memenuhi kebutuhan internal dan peningkatkan produktivitas sawit. Pertimbangannya, Socfindo ini fokus kepada intensifikasi dan pengelolaan kebun yang berkelanjutan.

Pada 7 Mei 1984, Kementerian Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan Bernomor KB 320/261/KPTS/5/1984 yang mengesahkan Socfindo menjadi produsen benih sawit. Kemampuan menghasilkan benih sawit perusahaan ini mencapai 50 juta kecambah. Tiga varietas benih yang dihasilkan Socfindo antara lain DxP La’me, DxP Yangambi, dan Benih Moderat Tahan Gano.

Tantangan yang dihadapi Socfindo di masa depan lebih berat apabila ingin membuka lahan baru. Sebab, kian banyak perusahaan kelapa sawit yang mempunyai minat sama seperti Socfindo. Strategi intensifikasi sudah merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan hasil produksi. Derom Bangun mengusulkan Socfindo dapat masuk ke industri hilir sawit yang lebih canggih tetapi bukan menghasilkan produk biodiesel.

Produk yang dihasilkan, kata Derom Bangun, bisa berupa fatty acid dan speciality fats karena memperoleh insentif dari kebijakan bea ekspor CPO. “Dengan keunggulan yang dimilikinya Socfindo dapat masuk ke industri hilir dengan produk lebih. Contohnya, speciality fats digunakan untuk kepentingan industri farmasi, coklat bar,” kata Derom.
Dalam pandangan Andi Suwignyo, industri hilir sawit saat ini prospeknya cukup bagus untuk mendapatkan margin dari hilirisasi. Namun, perusahaan belum berpikir ke arah sana karena ingin berkonsentrasi kepada pengelolaan perkebunan yang lebih efisien serta pengembangan breeding kelapa sawit yang lebih intensif untuk memperoleh varietas yang tahan penyakit Ganoderma. (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp