Merge Jati Berpengalaman Bangun Pabrik Sawit

PT Merge Jati telah berpengalaman selama 20 tahun lamanya untuk membangun pabrik kelapa sawit.  Memberikan penawaran terbaik untuk menekan losses dan optimalkan produksi minyak sawit.

Peningkatan efektifitas di tengah melesunya industri sawit kini memang jadi tantangan bagi para pelaku industrinya. pelaku industri sawit dituntut untuk melakukan efisiensi proses mulai dari aspek perkebunan hingga ke pabrik agar produksi tetap berjalan baik dan maksimal.

Untuk membantu mewujudkan hal tersebut, PT Merge Jati sediakan solusi kebutuhan PKS. Berawal menjadi kontraktor baja dalam pembangunan PKS pada 1994 lalu berkembang menjadi penyedia solusi kebutuhan pabrik kelapa sawit  (PKS).

“Awal kita mulai dengan konstruksi baja saja, dan sambil waktu berjalan kita mulai mengerjakan pekerjaan sipil, sampai saat ini sudah seluruhnya. Sekarang sudah era go green, semua orang mengarah ke sana. Jadi sekarang ini mulai menjajaki proyek composting dan biogas,” jelas Ann Kok Seng, Direktur PT Merge Jati.

PT Merge Jati memiliki layanan untuk perawatan dan pembangunan pabrik sawit. Lalu apa yang membedakan PT Merge Jati dengan kontraktor lainnya?  Perusahaan mampu memenuhi keinginan konsumen dalam pembangunan pabrik sesuai budget dan desain dari konsumen. Mulai dari pembangunan pabrik sawit non otomasi sampai kepada full otomasi, perusahaan mampu membuatnya.

“Kita bisa membangun satu PKS standar mercy dengan otomatisasi dan lebih luas, mesinnya dan pompa ada spare, misalnya ada cadangan yang terpasang, jika terjadi kerusakan tinggal di switch saja sehingga kita menjamin zero downtime. Namun, kita juga bisa membangun pabrik dengan standar biasa saja,” jelas Ann.

Selain kontraktor, perusahaan juga berperan sebagai manufaktur alat-alat pabrik kelapa sawit. Alhasil, menurut, Ann Kok Seng, kebutuhan suku cadang dari konsumen cepat terpenuhi karena stok tersedia di gudang.

Kepada konsumen, perusahaan menawarkan dua skema kontrak perawatan dan servis pabrik sawit. Kontrak pertama adalah memberikan layanan perawatan alat saja. Dalam hal ini, kata Ann, pihaknya akan membuat jadwal pemeliharaan suku cadang seperti waktu penggantian suku cadang. Pemeliharaan ini bertujuan menjaga losses minyak tidak tinggi.

Opsi kedua  adalah kegiatan tetap perawatan tetapi biaya tidak ditentukan berdasarkan kegiatan perawatan. Melainkan ditagih sesuai output listrik yang dihasilkan pabrik. “Jadi begini, pabrik sawit itu kami kontrol air dan pembakarannya dari situ keluar listrik per kilowatt. Jumlah listrik yang keluar ini kami tagih kepada pemilik pabrik,” jelas Ann.

Menurut Ann, opsi kedua ini punya resiko tinggi sehingga biaya  tagihannya terbilang tinggi. Sementara, opsi pertama untuk resikonya terbilang rendah karena kegiatan perawatan dilakukan secara langsung oleh karyawan pabrik. “Opsi kedua, pemilik pabrik bisa tidur tenang karena laporan kegiatan pabrik secara berkala kami berikan,” kata Ann.

PT Merge Jati sendiri juga turut menyediakan layanan maintenance dan servis kepada pelanggan untuk menjamin alat-alat di PKS berfungsi dengan optimal. Dengan layanan tersebut PT Merge Jati mampu menjamin kualitas proses produksi.

“Kami menjamin losses sesuai standar, misalnya limbah minyak 0,5 – 0,6 persen, tandan kosong setelah dikelola minyaknya 0,2 persen misalnya. Itu losses yang kita jamin, jadi itu standar  menjadi pegangan  industri sawit untuk total losses industri dengan process FFB 1,45 persen ,” kata Ann.

Dengan memberikan jaminan standar tersebut, PT Merge Jati akan memberikan layanan terbaiknya terkait maintenance alat, ketersediaan suku cadang hingga training operator yang nanti akan sesuai dengan jadwal pemeliharaan berkala dari PT Merge Jati.

Ann Kok Seng menjelaskan pembangunan satu pabrik sawit  dibutuhkan waktu antara 12 hingga 16 bulan tergantung logistik, lokasi, infrastruktur serta desain PKS. Kendati  demikian, waktu pembangunan pabrik sawit dapat  dipercepat sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

“Ibaratnya kalau kebun TBS nya sudah banyak jadi kita dari awal negosiasi dengan konsumen, kapan dia mau olah TBS sendiri, kalau butuh lebih cepat kita bisa bangun satu jalur dulu khusus untuk kelola CPO dulu, nanti intinya bisa disimpan, cangkangnya. Kita bisa 10 bulan siapkan satu jalur untuk olah CPO, sisanya perapian dan kernel station,” jelas Ann.

Ann Kok Seng menjelaskan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun perusahaan memberikan pelayanan  one stop solution mulai dari pekerjaan tanah, kontruksi sipil, bangunan, baja, dan listrik semua bisa dikerjakan. Jaminan kepada konsumen adalah layanan purna jual yang baik bukan saja menjual pelayanan pembangunan pabrik melainkan menjamin suku cadang.

“Dengan track record kita dari awal hingga saat ini pun kita tidak pernah gagal di proyek, semua proyek kita selesaikan dengan baik bahkan ketika krisis moneter terjadi pada 1998. Jumlah pabrik yang telah kami bangun lebih dari 40 unit,”kata Ann.

Investasi PLTBg

Tren penggunaan energi terbarukan di Indonesia yang kini juga mulai marak digunakan di industri sawit membuat PT Merge Jati ambil bagian. Beberapa tahun belakangan PT Merge Jati telah merambah jangkauan bisnisnya menjadi kontraktor Pembangkit Tenaga Listrik Biogas (PLTBg). Pembangkit listrik memanfaatkan limbah kelapa sawit yang berasal dari kolam penampungan limbah cair.

Pengalaman selama 20 tahun lebih sebagai kontraktor PKS, dituturkan Ann, menjadi bekal untuk perusahaannya terjun meluaskan bisnisnya sebagai kontraktor PLTBg. Meskipun masih terbilang baru sebagai kontraktor PLTBg, PT Merge Jati memiliki beragam nilai tambah yang mampu diberikan kepada pelanggan.

“Salah satunya adalah dari segi biaya pembangunan, kalau tujuh tahun silam cost satu PLTBg 70 Milliar dengan perubahan sistem, dan perbaikan sistem sekarang cost kita sudah bisa turunkan separuh sekitar 30-35 milliar,” jelas Seng.

Menurut Ann poin penting dalam operasional PLTBg adalah agar bakteri pengurai limbah untuk menghasilkan gas mampu berkembang dengan baik. Bakteri tersebut harus mendapatkan asupan yang tepat agar mampu bekerja dengan baik.

Selain itu, faktor penting lainnya adalah dengan meminimalkan losses dari PKS. sebab menurut Ann, PKS dengan losses yang besar nantinya akan menutup permukaan limbah dan menyulitkan bakteri dalam melakukan proses oksidasi.

“Kalau ada minyak itu akan muncul di atas permukaan limbah dan akan menutup, jadi mereka di bawah itu oksidasinya tidak berjalan baik, dan bakteri tidak membiak dengan bagus sehingga gas yang dihasilkan kurang optimal,” kata Ann.

Kendati, harga beli PLN untuk listrik biogas kurang menarik tetapi banyak pembangkit yang dibangun dengan tujuan memenuhi kebutuhan listrik internal. Kendala yang dihadapi untuk pembangkit biogas adalah ketidakjelasan penyediaan jaringan listrik dari pembangkit kepada PLN. Menurut Ann, solusinya bisa saja listrik dari pembangkit disalurkan kepada masyarakat sekitar perkebunan sebagai bagian kegiatan tanggung jawab sosial.  (Anggar Septiadi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp