Menata Aset dan Kinerja BUMN Perkebunan

Transformasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Holding berupaya menyehatkan kondisi keuangan 13 perusahaan plat merah perkebunan dan anak usaha lainnya. Di tangan Elia Massa Manik, perubahan ini mulai menunjukkan hasil. Rugi operasional tahun 2016 diperkirakan mampu ditekan sampai angka Rp 215 miliar.

Massa Manik membawa dan menerapkan semangat transformasi di seluruh anak usaha PTPN III Holding. Pembenahan ini penting dijalankan untuk menyehatkan kondisi keuangan BUMN Perkebunan ini. Indikatornya, PTPN III Holding merugi sampai Rp 615 miliar pada 2015. Walaupun total pendapat mencapai Rp 37 triliun.

“Menteri BUMN berikan saya target membuat PTPN menjadi sehat,” kata Elia Massa Manik, Direktur Utama PTPN III Holding dalam sebuah forum pada pertengahan tahun 2016.

Program transformasi PTPN III Holding resmi dicanangkan semenjak Mei 2016. Transformasi mencakup sejumlah kegiatan mulai restrukturisasi utang perbankan maupun non perbankan, peningkatan kinerja, efekfitivitas biaya, dan pengembangan hillirisasi. Penerapan program akan berjalan selama dua tahun dari 2016 sampai 2018.

Supaya transformasi berjalan optimal butuh dukungan dana tidak sedikit mencapai Rp 13 triliun. Elia Massa Manik menyebutkan program tranformasi butuh dana segar Rp 13 Triliun. Dari jumlah tadi perusahaan sudah mendapatkan Rp 2 Triliun pada 2016. Tahun 2017 butuh dana Rp 6 triliun dan sisanya Rp 8 Triliun diperkirakan akan akan diperoleh pada 2018.

Menurut Elia Massa dana Rp 6 Triliun untuk tahun ini ditujukan meningkatkan kinerja dan efisiensi biaya melalui rehabilitasi dan peningkatan produktivitas tanaman, perbaikan kinerja dan kapasitas pabrik serta investasi tanaman dan non tanaman.

“Dengan adanya suntikan dana segar ini, harapannya holding (PTPN) mampu mengejar ketertinggalan produktivitas dalam waktu tiga hingga empat tahun mendatang,” ungkap Elia.

Rata-rata produktivitas sawit, diakui Elia, sangat rendah sekitar 18,20 ton TBS per hektar. Angka ini di bawah perusahaan swasta yang mencapai 24-25 ton TBS per hektar. Penyebab rendahnya produktivitas akibat jumlah tanaman dalam satu hektar di bawah standar. Dalam satu hektar perkebunan sawit PTPN, rata-rata berjumlah 120 pokok. Bandingkan perusahaan swasta sebanyak 130 sampai 140 pokok per hektar.

(Ulasan lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016 -15 Februari 2017)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.