Membaca Arah Integrasi Sapi-Sawit

Pelaku sawit diarahkan pemerintah untuk membantu pengadaan sapi potong lewat kebijakan integrasi sapi-sawit. Dari 1.500 perusahaan sawit, baru 15 perusahaan yang membudidayakan sapi di perkebunan. Penyebabnya, kekurangan bibit sapi dan bisnis  sapi potong dinilai belum menjanjikan.   

Minimnya pasokan daging di dalam negeri membuat pemerintah harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak seimbangnya suplai daging dengan permintaan menjadikan kegiatan impor terus berjalan tiap tahun. Kendala utama adalah tidak ada lahan skala luas yang sesuai dijadikan peternakan sapi. Salah satu program yang digalakkan pemerintah dengan mendorong pelaku usaha dan petani sawit untuk memelihara sapi potong.

Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian, beberapa waktu lalu menjanjikan bantuan dan kemudahan kepada pelaku sawit yang berminat beternak sapi. Beberapa kemudahan tersebut seperti kemudahan izin impor. Pasalnya, impor sapi yang dilakukan beberapa perusahaan kelapa sawit menghadapi kendala lantaran belum ada payung hukum terkait impor sapi mereka.

Pemberian insentif layak dipertimbangkan karena sedikitnya peminat integrasi sapi potong dan sawit semenjak tiga tahun terakhir. Baru 15 perusahaan kelapa sawit milik swasta dan pemerintah yang menyatakan berminat. Sebagian besar datang dari perusahaan perkebunan negara. Berdasarkan data Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, BUMN yang menjadi peserta adalah PTPN I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII dan PTPN XIII, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) area Sumatera dan Kalimantan.

Minat BUMN Perkebunan ini tidak terlepas dari instruksi Dahlan Iskan, Menteri BUMN. Sekitar dua tahun lalu, pria kelahiran Magetan ini, mencetuskan program pengembangan sapi di perkebunan sawit kepada perusahaan perkebunan negara. Ketika berkunjung di PT Perkebunan Nusantara (PT PN) VI) di Jambi, dia menjelaskan program ini sangat mulia karena dapat mengurangi angka kemiskinan di pedesaan lewat bantuan sapi dan bantuan pakan yang disediakan perusahaan.

Caranya, perusahaan menyediakan kandang sebagai fasilitas tempat pemeliharaan sapi milik masyarakat. Sementara, pakan ternak sapi dapat diambil dari bungkil dan pelepah daun. Dua tahun lalu, dirinya menargetkan 100 ribu ekor sapi dapat dibudidayakan di perkebunan sawit milik perusahaan negara. Tetapi pada awal tahun ini, target ini dipangkas menjadi 20 ribu ekor. Dirinya mengakui perusahaan perkebunan kesulitan mencari anak sapi untuk menjadi bibit.

Di sektor swasta, baru lima perusahaan kelapa sawit serius mengembangkan sapi. Mereka adalah PT Agricinal di Bengkulu Utara, PT Citra Borneo Indah, PT Medco Agro, PT

Bumitama Guna Jaya Agro di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan PT Buana Karya Bakti di Kalimantan Selatan.
Meski demikian, setiap perusahaan mempunyai motif berbeda-beda dalam pengembangan budidaya sapi. Sebagai contoh, PT Agricinal menyediakan sapi untuk dipelihara pekerjanya. Dengan tujuan memberikan pendapatan lebih kepada karyawan setiap bulan.

Kepada SAWIT INDONESIA, Nelson Manurung, Pemilik PT Agricinal, mengakui pengembangan sapi di perkebunan sawit ditujukan menambah penghasilan tenaga kerja pemanen. Tujuan lainnya, kegiatan pemanenan lebih efisien dari pohon ke tempat pengumpulan hasil lewat penggunaan sapi. Sekarang ini, jumlah sapi di PT Agricinal mencapai 3.000 ekor.

“Program integrasi ini membantu perusahaan supaya tenaga pemanen betah bekerja di kebun sawit. Kalau punya kebun sawit sebaiknya pelihara sapi,” ujar Nelson.

PT Citra Borneo Indah melalui anak usahanya PT Sulung Ranch merintis program Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) semenjak 2006. Program ini meliputi kegiatan pembibitan dan penggemukan sapi. Beberapa waktu lalu, Dwi Hartanto, Ranch Manager PT Sulung Ranch, menjelaskan kegiatan pembibitan dijalankan lewat sistem semi intensif, caranya sapi digembalakan di kebun. Sapi yang dipelihara adalah sapi murni dan campura. Proses pengawasan memakai kawat beraliran listrik rendah sebagai pembatas. Aktivitas penggemukan memakai metode intensif dengan menempatkan sapi di kandang dan penyediaan pakan. Perusahaan menargetkan tahun 2015 akan mempunyai populasi sapi berjumlah 15 ribu ekor.

Manfaat integrasi sapi-sawit ini, menurut Dwi Hartanto, dapat menekan biaya herbisida sebesar 30%. Herbisida merupakan produk kimia untuk pengendalian gulma di perkebunan sawit. Di sisi lain, biaya pakan sapi dapat dihemat sampai 80% karena memanfaatkan solid, pelepah dan bungkil sawit sebagai pakan sapi.
Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan pengembangan integrasi sapi-sawit membantu pekebun sawit untuk memanfaatkan limbah sawit dan gulma yang melimpah di kawasan perkebunan sebagai pakan sapi. Dan juga menyediakan pupuk bagi tanaman sawit dengan kotoran dan kencing sapi.

Lebih lanjut, menurut Syukur Iwantoro, integrasi bisnis sawit dan peternakan meminimalisir biaya produksi. Selain, akan memberikan produk CPO yang optimal serta terjadi percepatan peningkatan populasi sapi dan ketersediaan daging sapi tanpa adanya penambahan luasan lahan.

Walaupun ada yang menerima penyatuan bisnis perkebunan dan peternakan. Adapula pelaku usaha yang tidak berminat mengembangkan sapi. Sumarjono Saragih, Komisaris Utama PT ZTE Agribusiness Indonesia, mengakui belum tertarik untuk memelihara sapi di perkebunannya. Untuk saat ini, perusahaan masih fokus kepada pengembangan sawit dulu. PT ZTE Agribusiness Indonesia adalah pemain baru di sektor kelapa sawit, yang mengelola lahan seluas 32 ribu hektare yang berlokasi di Sambas, Kalimantan Barat dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

“Tapi tidak tertutup untuk kami melakukan integrasi sapi apabila SDM, teknis dan hitungan bisnisnya sudah menjanjikan,” ujar Sumarjono kepada SAWIT INDONESIA.
Sementara itu, Mona Surya, Direktur Minanga Grup masih mempertimbangkan pengembangan sapi di perkebunan karena baru saja meremajakan tanaman sawit yang berusia tua. Mengingat, perusahaan juga menanam tanaman penutup tanah (cover crop) karena dikhawatirkan sapi akan memakannya. Cover crop ini bertujuan meningkatkan produktivitas sawit lebih tinggi dan membantu perawatan.

“Biaya perawatan tanaman lebih murah dengan cover crop ini. Kalau sapi memakan cover crop kan sayang juga,” paparnya.

Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, menjelaskan program integrasi sapi dengan sawit kalau itu menguntungkan tanpa disuruh juga masyarakat akan memelihara sapi. Sumber kerugian sapi bakalan terlalu mahal sama dengan harga sapi hidup siap potong apabila Average Daily Gain (ADG) atau rata-rata penambahan bobot sapi harian, terlalu rendah. ADG baru untung kalau mencapai rata- rata 1,5 kilogram per ekor per hari.

“Integrasi sapi- sawit itu tidak menarik secara bisnis.Karena bisnis sapi baru dapat untung apabila dijual sampai kepada hilir atau karkas, bukannya sapi hidup,” ungkap Tungkot.

Hambatan dalam pengelolaan bisnis ternak sapi adalah pemasaran kepada konsumen. Seperti dikatakan Muhammad Ghani, Sekretaris Perusahaan PT PN IV, kesulitan yang dihadapi berupa pemasaran daging sebab wilayah Medan dan sekitarnya tidak pernah kekurangan pasokan daging. Ini berarti, wilayah Sumatera Utara potensi daging masih mencukupi dalam pemenuhan kebutuhan daerahnya.

“Program pemberdayaan ke depan lebih kepada peternak sekitar peternakan. Harapannya, lebih maju secara usaha tani dengan pendekatan CSR,” jelas Muhammad Ghani.
Kalangan petani merespon baik pengembangbiakan sapi di perkebunan sawit. Mansuetus Darto, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit, menyatakan kelompok petani sawit di

Tanjung Jabung Barat, Jambi sudah mulai pelihara sapi. Dari sekitar 80 ekor sapi yang ada, anggota SPKS di Tanjung Jabung Barat menggunakan kotoran sapi untuk pupuk kompos. Limbah urine sapi juga dijual dalam dalam bentuk literan.

Namun, pemerintah belum terlalu respon untuk integrasi sapi dan sawit dalam konteks produktifitas sementara petani sudah memulainya,” keluh Mansuetus dalam jawaban tertulis.

Ditambahkan kembali, sebaiknya pemerintah perlu memfasilitasi pola teknologi untuk penggemukan sapi dan teknologi biogas. Karena itu, pemerintah harus mengarah kesana. Sedangkan untuk sapi potong itu hanya untuk penyediaan daging sebagai solusi atas impor daging sapi Australia.

Asmar Arsjad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, menyatakan keinginannya supaya petani dibantu benih dan teknologi inseminasi. Pasalnya, anggota mereka lebih berminat kepada pembibitan sapi bukan sapi potong. Memang, teknologi pembenihan sapi sangatlah mahal tetapi cukup berkesinambungan
“Kalau sapi potong, itu cara pemerintah yang berpikir sesaat saja sudah gemuk dipotong lalu habis,” kata Asmar kepada SAWIT INDONESIA.

Syukur Iwantoro menyambut baik inistiatif petani kelapa sawit namun sebaiknya dimulai dari sapi potong dulu baru dilanjutkan kepada pengembangan sapi indukan. Jumlah total populasi sapi yang telah difasilitasi pemerintah untuk budidaya di perkebunan sawit sekitar 26.630 ekor. Namun, jumlah ini dapat jauh lebih banyak kalau ditambah dengan sapi dari masyarakat dan karyawan perkebunan sawit.

Tungkot Sipayung meminta supaya pemerintah jangan memindahkan ketidakmampuannya dalam menyelenggarakan program swasembada daging sapi. Sebagai solusi, sebaiknya pemerintah membuat BUMN terintegrasi dari hulu (penghasil sapi bakalan), industri pakan, penggemuka sampai kepada jual karkas. (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp