Kemitraan Petani Menjadi Model Bisnis Asian Agri

Kemitraan dengan petani menjadi kunci sukses Asian Agri dalam membangun bisnis perkebunan sawit.  Pada 2020, jumlah mitra petani swadaya dan plasmanya dapat ditargetkan mencapai 120 ribu hektar.

Asian Agri salah satu contoh model perusahaan kelapa sawit yang  mampu membangun kemitraan baik dengan petani. Kerjasama dengan petani mulai berjalan pada 1987, kala itu anak perusahaannya yaitu PT Indosawit Subur (IIS) yang beroperasi di Jambi dan Riau, menjadi perusahaan pelaksana  dari  Instruksi Presiden No.1/1986 tentang program peningkatan ekonomi masyarakat di sektor bukan minyak dan gas melalui Perkebunan Inti Rakyat-Transmigrasi (PIR-Trans).

Melalui program tersebut Asian Agri mulanya berperan sebagai fasilitator bagi petani mendapatkan bantuan finansial dari bank. Hasilnya memuaskan, tiga hingga empat tahun setelah lahan berproduksi petani telah mampu mencicil pinjaman bank.

Menyadari program tersebut merupakan bermanfaat baik bagi perusahaan, Asian Agri terus mengembangkan kemitraannya bersama petani. Selain skema PIR-Trans ada juga skema Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Semua program tersebut kini telah bertranformasi menjadi petani plasma Asian Agri dengan total petani mencapai 29 ribu Kepala Keluarga dan lahan seluas 60 ribu hektar di Riau, dan Jambi.

“Bukan hanya menjadi komitmen, kemitraan telah menjadi bisnis model kami. Bisa dianalogikan bahwa kemitraan dengan petani merupakan DNA Asian Agri. Sebuah kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dengan perusahaan,” ungkap Freddy Widjaya, Direktur Asian Agri, dalam wawancara dengan SAWIT INDONESIA di kantornya.

Kepada petani plasma, perusahaan membuat skema pendampingan dari awal pembukaan lahan sampai kepada penjualan buah sawit. Di awal pembukaan lahan, perusahaan membantu penyediaan akses benih sawit resmi, membangun kebun dan menjadi penjamin kepada pihak perbankan. Setelah tanaman mulai menghasilkan, kebun diserahkan kepada para petani, sedangkan pendampingan terus berlanjut kepada antara lain edukasi perawatan tanaman sesuai Good Agriculture Practices (GAP), pembentukan kelompok hingga penyediaan  akses pendanaan & micro financing.

Freddy menyebutkan perusahaan punya divisi khusus yang berjumlah lebih dari 200 orang untuk mendampingi petani plasma. Pada setiap blok kebun petani plasma Asian Agri menempatkan seorang Manajer Plasma, Asisten Manajer, dan Mandor.

Dalam kunjungan ke perkebunan plasma Asian Agri pada Mei lalu, redaksi Majalah SAWIT INDONESIA sempat bertemu Muhammad, Senior Manajer PT Indosawit Subur. Menurutnya, selain mengedukasi petani dengan GAP, perusahaan juga mendorong petani plasma melakukan praktik berkelanjutan.

“Kita ada pertemuan reguler dengan kelompok-kelompok tani untuk membagikan pengetahuan kepada petani bagaimana Good Agricultural Practice (GAP) dilakukan. Selain itu misalnya kita juga beberapa hari sekali ambil sampel daun untuk memeriksa apakah penggunaan pupuk, pestisida telah tepat dosis, cara, dan waktu,” kata Muhammad.

Kerja keras dan komitmen Asian Agri terhadap petani plasma sudah terbukti. Tengok saja, produkvitas petani plasmanya mencapai 25 ton TBS per hektar. Asian Agri saat ini mengelola lahan petani plasma seluas 60.000 hektar dan mengikut sertakan 29.000 keluarga di 11 kebun.

Petani swadaya

Sukses mendampingi petani plasmanya, Asian Agri berlanjut kepada pendampingan petani swadaya. Dimulai tahun 2012, perusahaan membangun kemitraan dengan petani swadaya. Freddy Widjaya menyebutkan kemitraan dengan petani swadaya ditempuh dengan mengorganisir mereka. Caranya, mengajak petani swadaya untuk membentuk kelompok tani hingga koperasi. Karena tidak mungkin pendampingan berjalan kepada individu.

“Kami arahkan mereka agar berkelompok supaya kami dapat hadir membantu petani swadaya tersebut. Pada proses awal, kita memberikan akses mereka untuk bisa menjual buah langsung ke perusahaan. Dengan akses tersebut, kita bisa mempersingkat rantai pasok yang artinya kita bisa membantu harga TBS petani lebih baik,” jelas Freddy.

Tahapan berikutnya adalah memperbaiki rendahnya produktivitas. Disinilah perusahaan mengedukasi kelompok petani swadaya melalui peningkatan pemahaman praktik GAP. disamping memberikan pinjaman lunak untuk kegiatan pupuk, pestisida, dan alat produksi lainnya. Petani dapat mencicil melalui potongan penjualan TBS kepada perusahaan.

Pengalaman di Sumatera Utara, kata Freddy, perusahaan membantu kelompok tani dari akses menjual TBS, pendampingan hingga pinjaman lunak. Dana pinjaman tersebut digunakan untuk memperbaiki jalan evakuai buah. Setelah jalan diperbaiki, biaya logistik dapat ditekan dari sebelumnya Rp250 per kilogram menjadi Rp 50 per kilogram. “Mereka bisa menghemat hingga 200 Rupiah, hanya dari biaya transportasi saja, disamping produksi dan harga yang lebih baik.” jelas Freddy.

Pada 2013, Asosiasi Amanah, Kelompok Petani Swadaya binaan Asian Agri, memperoleh sertifikat RSPO pertama.  Kelompok tani yang berada di  Riau ini punya 349 anggota petani dengan kebun seluas 763 hektar.

Sampai Oktober 2016, Asian Agri menggandeng sekitar 6 ribu kepala keluarga petani swadaya yang tersebar di tiga provinsi  yakni Sumatera Utara, Riau, dan  Jambi. Luas lahan mereka 21.250 hektar. “Target kami pada 2020 Asian Agri bermitra dengan 60 ribu hektar petani swadaya. Jumlah ini akan setara dengan petani plasma kami,” ungkapnya.

(Ulasan lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Oktober-15 November 2016)

You might also like More from author

2 Comments

  1. Lukman says

    Yth. Bapak Freddy Widjaya

    Kami punya lahan kebun sawit berlokasi didaerah Buton Desa Mangkapan Kecamatan Sungai Apik Kabupaten Siak, Bagaimana prosedur dan persyaratannya menjadi mitra Asian Agri, mohon infonya.

    Terima kasih

    1. Qayuum Amri says

      Dengan hormat Bapak lukman. pertanyaan bapak akan kami sampaikan kepada direktur asian agri. Mohon djelaskan detil kebun bapak? luas lahan dan produksinya? lalu status lahan bapak apakah sudah sertifikat?

      Terima kasih -redaksi majalah sawit indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.