Dari Sawit, Biayai Anak Kuliah S2 UGM

Ngadimun adalah petani sawit asal Magelang. Dari panen sawit. keempat anaknya dapat bersekolah. Bahkan, ada yang melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada dan Universitas Muhamadiyah  Yogyakarta.

“Anak saya di UGM mengambil kuliah S2 jurusan politik.  Bukan jurusan pertanian. Nggak apa-apa, orang tua ingin anaknya sekolah lebih tinggi,” kata Ngadimun.

Ngadimun tertarik menjadi transmigran karena ajakan adiknya.  Tiba di Kuamang Kuning pada 1988, dia membeli lahan milik petani transmigran lain. Waktu itu, tanah seluas 3,5 hektare `dibanderol Rp 1,2 juta. Lahan tersebut sudah termasuk rumah dan kebun.

“Petani yang lama tidak betah lagi. Lalu ingin kembali ke Jawa. Uang tadi untuk ongkos dan mengganti penghasilan  mereka,” ujarnya.

Ngadimun mengaku senang punya tanah 3,5 hektare, lantaran di kampungnya sulit mendapatkan lahan seluas ini.  Di atas lahan 2 hektar, dia membudidayakan tanaman seperti padi, jagung,wit kedelai dan ubi. Dia bekerja dari jam 4 pagi sampai jam 6 sore. “Hasilnya hanya cukup buat makan. Karena sawah menggunakan pola tadah hujan,” tuturnya.

Supaya penghasilan tidak pas-pasan, Ngadimun beralih tanam sawit. Dia ikut program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Trans. Lewat program ini, ia mengenal PT Sari Aditya Loka (SAL)-2, anak usaha PT Astra Agro Lestari  Tbk, sebagai bapak angkatnya. Dalam program ini, pembangunan lahan dan perawatan tanaman dijalankan PT SAL 2. Mulai tahun 1992, kegiatan penanaman sawit mulai berjalan. Tanaman sawitnya mulai menghasilkan buah pada 1996. Kala itu harganya sekitar Rp 400 per kilogram.

Berbeda dengan tanaman pangan, penghasilan dari kelapa sawit lebih menjanjikan. Setiap bulan, Ngadimun mengantongi uang panen sawit. Panen sebanyak dua kali dalam satu bulan.  Selama empat tahun, ia mencicil angsuran yang dipotong dari penghasilan bulanan.

Setelah lunas membayar angsuran lahan untuk program PIR-TRANS. Ayah empat anak ini berani menambah lahan. Biayanya berasal dari pinjaman bank. Ngadimun pernah membeli lahan seharga Rp 200 juta per 2 hektare. Tingginya harga  lahan karena usia tanaman masuk tahun ke-7. Lantaran tidak cukup modal, dia mengajukan pinjaman sebesar Rp 40 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“Setiap bulan saya sisihkan pendapatan untuk membayara cicilan. Dalam jangka waktu dua tahun sudah lunas,” ujarnya.

Kini,  pria yang masuk usia 61 tahun ini punya lahan sawit seluas 10 hektar. Sebulan hasil panen bisa 14 ton atau sekitar 7 ton  per dua minggu. Jika dikalikan harga TBS sawit bulan September Rp 1.625 per kilogram, akan diperoleh penghasilan Rp22,75 juta per bulan.

Tidak hanya sawit, Ngadimun juga kreatif memanfaatkan lahan. Di belakang rumahnya, terdapat lahan salak seluas 0,5 hektare yang ditanami 1.500 pohon jenis salak Pondoh. Bibit dibawa langsung dari Pulau Jawa.  Menurutnya, setiap hari tanaman salak harus dikawinkan antara bunga jantan dan betina. Kalau tidak dikawinkan, pohon akan menghasilkan buah yang kering.

Semenjak 15 tahun lalu, Ngadimun membudidayakan salak. Panen salak  tidak  menentu, tetapi rata-rata  1,5 kuintal atau 150 kilogram. Dalam sebulan panen salak bervariasi sebanyak 3-4 kali. Salak milik Ngadimun dijual di pasar dekat rumahnya. Dengan harga salak berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram. Untuk sekali panen, pendapatannya sekitar 1,5 juta. Dalam sebulan, dia dapat mengantongi antara Rp 4,5 juta-Rp 6 juta.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.