Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi, MS.: Menjembatani Budaya Planters Antar Generasi

Sulit dipungkiri dengan kondisi alam yang subur, Indonesia sangat cocok untuk pertanian atau perkebunan. Sehingga tidak keliru jika negara Indonesia yang memiliki julukan negara agraris, gemah ripah loh jinawi karena hampir segala tanaman dapat tumbuh di tanah Indonesia. Namun pada saat ini perkembangan perkebunan sektor kelapa sawit menghadapi tantangan besar, baik saat ini maupun di masa mendatang.

Dalam mengembangkan perkebunan terutama kelapa sawit diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal, baik “nyali” maupun kemampuan saat di kebun. Untuk itu, Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) sebagai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mempersiapkan SDM di kebun yang mampu menjawab tantangan jaman.

INSTIPER merupakan satu-satunya perguruan tinggi terdepan di Indonesia yang berorientasi pada pendidikan perkebunan. Didirikan pada 10 Desember 1958 oleh Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan (YPKP), pada awalnya perguruan tinggi ini bernama Sekolah Tinggi Perkebunan (STIPER). Pendirian INSTIPER didasarkan pada pertimbangan perlunya pemenuhan SDM dalam bidang perkebunan pasca pengalihan perkebunan-perkebunan milik Belanda yang dinasionalisasi oleh Indonesia. INSTIPER Yogyakarta juga merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi D1 dengan nama Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta, Pendidikan Sarjana S1 yang terdiri dari Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Kehutanan, S2 Magister Manajemen Perkebunan, dan diharapkan dalam waktu dekat akan segera dibuka program Doktor Manajamen Perkebunan yang sekarang sedang dalam proses usulan ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Di tahun ini, INSTIPER Yogjakarta berhasil meluluskan jumlah wisudawan terbanyak yaitu 608 wisudawan, yang terdiri dari 34 wisudawan S2 Magister Manajemen Perkebunan dan 574 wisudawan program studi S1. Wisuda sarjana ke-71 dan pascasarjana ke-17 pada April 2018 lalu telah mencetak SDM yang siap untuk memenuhi kebutuhan SDM di perkebunan kelapa sawit.

Pada era revolusi industri 4.0 saat ini, INSTIPER Yogyakarta telah mendesain kurikulum baru yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi terutama Information Communication Technology (ICT) sebagai upaya menjembatani gap di sektor perkebunan.

Dalam pandangan Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi, MS., budaya kebun akan terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi kebun, manajemen kebun akan sangat adaptif terhadap teknologi terkait dengan isu-isu yang ada. Di masa mendatang perkebunan akan mengarah pada precision plantation management.

“Jika sudah precision plantation management secara otomatis harus mendapat support dari mekanisasi dan otomatisasi yang di dalamnya akan memanfaatkan ICT. Dalam pemanfaatan ICT tentunya dibutuhkan SDM dengan kompetensi baru. Tidak hanya karakter yang handal di lapangan saja namun harus diimbangi dengan kapasitas yang dapat menggunakan teknologi terbaru. Selanjutnya dunia perkebunan harus sadar bahwa telah ada perbedaan antara planters lama dengan planters baru. Planters baru ini merupakan  generasi baru yang berbeda baik gaya hidup, gaya kerja dan kultur yang betul-betul berbeda” ujar Purwadi saat ditemui beberapa waktu lalu di acara wisuda INSTIPER Yogyakarta. Untuk itu, perlu ada jembatan pola pikir yang dapat mengkoneksikan kedua generasi agar dapat bersinergi menjawab tantangan di sektor perkebunan.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp