ANJ Membangun Harmonisasi Bisnis dan Lingkungan

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) membuat pendekatan Pengembangan Bertanggung Jawab yang diterapkan di seluruh kelompok perusahaan ANJ, yang bertujuan menjaga konservasi dan  membuktikan bahwa pengembangan bisnis dan kelestarian lingkungan dapat berjalan seiring secara saling menguntungkan.

ANJ  menempatkan nilai keberlanjutan sebagai prioritas utama dalam kegiatannya. Dengan tegas perusahaan mencantumkan nilai keberlanjutan sebagai salah satu dari tiga nilai-nilai perusahaan: menghargai sesama manusia dan lingkungan.

“Kami memahami keberlanjutan (sustainability) sebagai syarat mutlak. Bisnis hanya akan dapat berlanjut bila lingkungan, baik lingkungan alam maupun sosial, juga berlanjut,” ungkap Sonny Sukada, Direktur Keberlanjutan, yang membawahi bidang Compliance, Conservation, serta Community Involvement & Development (CID).

Sonny menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi nafas perusahaan yang diterapkan dari level atas – berupa visi, misi, dan nilai-nilai yang diterapkan dalam manajemen – sampai level lapangan. “Dengan demikian usaha konservasi yang dilakukan ANJ ini bukan sekadar mematuhi peraturan, melainkan benar-benar karakter yang timbul berdasarkan kesadaran dari dalam diri perusahaan, inside-out,” ungkapnya.

Sebagai contoh di kawasan konservasi wilayah barat, yang meliputi Sumatera dan Kalimantan, izin konsesi ANJ meliputi area seluas 66.648 ha. Menurut Nardiyono, Manager Konservasi Wilayah Barat, di area ini Hak Guna Usaha (HGU) ANJ mencapai sekitar 57.409 ha, tapi tidak seluruh kawasan itu dimanfaatkan menjadi kebun. “Sekitar 10.435 ha di antaranya kami kelola menjadi area konservasi,” tutur Nardi.

Berdasarkan penilaian oleh lembaga assessor yang terakreditasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), area ANJ wilayah barat memenuhi tiga kandungan yang wajib dimiliki oleh area bernilai konservasi tinggi. Tiga kandungan tersebut ialah keaneka ragaman hayati, jasa lingkungan, dan nilai-nilai sosial budaya.

“Beberapa spesies flora-fauna endemik yang sudah mulai langka banyak ditemukan di area konservasi ANJ wilayah barat ini,” ungkap Nardi.

Di Sumatera, misalnya, terdapat Siamang. Primata berbulu hitam dengan ekor panjang dan bersuara khas ini merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang eksotik dan terancam punah akibat banyak diburu untuk diawetkan. Sementara itu area konsesi di Kalimantan menjadi rumah bagi orang utan, primata yang populasinya terus merosot seiring habitatnya yang hilang akibat konversi lahan, perburuan dan kegiatan pembalakan liar.  Selain itu, orang utan juga kerap diperjualbelikan  secara ilegal sebagai hewan peliharaan.

Selain fauna, di area konservasi wilayah barat juga ditemukan beberapa spesies flora endemik yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. “Di Sumatera ada pohon meranti dan di Kalimantan ada pohon ulin,” tutur Nardi.

Keduanya menghasilkan kayu berkualitas nomor satu yang sangat kuat sehingga tepat untuk dijadikan bahan bangunan atau perahu.Kawasan konservasi wilayah timur di Papua Barat juga tak kalah kaya akan plasma nutfah. Dari sisi Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan konsesi ANJ di sini berada di antara hilir dan tengah, yang merupakan kawasan tandon air (water storage).  “Dalam membangun kemampuan pengelolaan DAS, keterlibatan pemangku kepentingan menjadi penting, dengan masing-masing kekuatan dan kemampuan untuk berkontribusi.  Misalnya masyarakat kampung di bagian hulu atau di bagian hilir (yang agak jauh dari konsesi ANJ). Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, diperlukan peran LSM, baik lokal, nasional maupun internasional,” tutur Ichlas Al Zaqie, Manager Konservasi Wilayah Timur.

(Ulasan lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Oktober-15 November 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.