Wintor Jajaki Pasar Malaysia

PT Velasto Indonesia mengekspor unit transportasi Wintor ke Malaysia. Unit ini mendukung kegiatan mekanisasi di perkebunan sawit. Selain membantu pelaku industri kebun dalam efisiensi biaya.

Pada 28 Juli 2017, salah satu anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk, PT Velasto Indonesia meresmikan ekspor perdana unit Wintor ke Malaysia. Unit transportasi khusus perkebunan ini sangat serbaguna. Wintor adalah  karya anak bangsa dengan kandungan komponen lokal mencapai 86%. Peresmian dilaksanakan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi oleh Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Wintor sudah melakukan penelitian dan pengembangan semenjak tahun 2009 – 2013. Lalu mulai dilakukan produksi massal pada 2013 yang dihadirkan sebagai alat angkut khusus dengan konsep desain unit tepat guna dan telah siap  masuk pasar internasional. Pasalnya, Wintor merupakan alat angkut yang serbaguna yang dapat dikonversi ke berbagai aplikasi, baik di perkebunan maupun pertanian. Selain itu, Wintor juga dapat beradaptasi baik di lahan perkebunan dengan kontur tanah datar maupun berbukit.

Sejak November 2013 hingga saat ini, Wintor telah didistribusikan sebanyak 1.195 unit yang tersebar di seluruh lokasi di Indonesia. Kehadiran Wintor diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program mekanisasi dan membantu meningkatkan efektivitas operasional dan produktivitas panen komoditas. Malaysia, sebagai negara dengan perkebunan kelapa sawit terluas kedua di dunia juga diharapkan dapat menjadi pasar potensial ke depan untuk pemasaran Wintor.

Penggunaan Wintor mampu menekan biaya produksi sebesar 40%. Untuk mencapai penghematan biaya tersebut, Wintor menerapkan sistem manajemen mekanisasi panen dengan metode panen Wintor. Tim Wintor menyediakan fasilitas pelatihan dan pendampingan di kebun yang tujuannya adalah agar operator, pemanen dan manajemen kebun dapat menggunakan Wintor dan memperoleh manfaatnya lebih optimal.

Kelebihan pemakaian Wintor pun dapat dilihat dari sisi ketersediaan suku cadangnya yang mudah didapat. Hal ini dikarenakan produsen dan distributor Wintor sangat memerhatikan kesiapan operasional unit kebun, yang artinya apabila ada unit yang rusak, tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadikan unit beroperasi normal kembali.

Hingga saat ini, sejumlah perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit nasional sampai Oktober 2017, seperti lain PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Aman Jaya Perdana, PT Agri Andalas, Borneo Agri Group, Ciliandry Anky Grup, Dharma Satya Nusantara Group, First Resources Group-PKU, First Resources  Group-BPN, Hasnur Group, Karya Gemilang CV,  Lambang Agro Group, PT Mega Hijau Bersama, PT Meroke Tetap Jaya, PT Prakarsa Karya Sejati, Sumber  Tani Agung Group, Triputra Agro Persada Group, dan dua perkebunan pribadi telah menggunakan Wintor untuk mendukung kegiatan operasional di perkebunan.

Peran serta  pemilik perkebunan menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan mekanisasi Wintor. Misalnya persiapan lahan yang tadinya hanya berupa jembatan angkong, menjadi jembatan semi permanen/permanen yang dapat dilalui Wintor. Serta pola panen  disesuaikan  metode mekanisasi Wintor yang lebih efektif.

Selain membangun sebuah bisnis, Tim Wintor juga terfokus pada customer intimacy. Forum diskusi diterapkan kepada seluruh customer Wintor, sebut saja salah satu customer Wintor yang berada di Balikpapan sering mengadakan diskusi dengan Tim Wintor. Bahkan juga memberikan masukan kepada Tim WINTOR untuk melakukan pengembangan produk baru sesuai kebutuhan di kebun.

Tidak hanya sebatas itu saja, keseriusan Wintor untuk selalu mengembangkan kualitas dan varian produk Wintor akan terus dilakukan. Layanan purna jual juga tidak luput untuk terus dikembangkan. Bahkan untuk tahun depan Wintor akan meresmikan jalur distribusi dengan salah satu perusahaan trading di Indonesia. Tujuannya adalah memberi kemudahan kepada konsumen dalam pengadaan unit Wintor dan suku cadang.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.