Program Kemitraan Asian Agri Berbasis Intensifikasi

Asian Agri membangun perkebunan sawit lestari melalui komitmen One to One. Dengan model bisnis ini akan membantu peningkatan kesejahteraan petani.

Sebagai upaya untuk menepis isu negatif mulai dari deforestasi hingga perlanggaran HAM yang ditujukan pada industri kelapa sawit masif dikampanyekan baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satunya memberikan gambaran secara terbuka (transparan), obyektif dengan apa yang telah dikerjakan atau dilakukan. Itulah, salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Hal tersebut, diungkapkan Fadhil Hasan selaku Director Corporate Affairs Asian Agri, saat acara buka bersama dengan rekan media, pada Selasa (5 Juni 2018), di Jakarta. “Sebenarnya sudah banyak perusahaan perkebunan sawit menjawab isu negatif (bukan) dengan kata-kata apalagi dengan promosi yang jauh dari kenyataannya. Justru, dengan komitmen dan langkah langkah nyata dilakukan salah satunya dengan membangun kemitraan dengan petani,” ujar Fadhil.

Perusahaan perkebunan swasta nasional di Indonesia (Asian Agri) yang mulai beroperasi sejak 1979 merupakan satu perusahaan yang mempunyai semangat bermitra dalam mengelola 100.000 hektar lahan perkebunan milik petani melalui komitmen Kemitraan One to One. Dan, akan terealisasi pada 2018 ini. Program kemitraan yang sudah dikonsep menjadi business model mempunyai komitmen tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Kemitraan Asian Agri bersama petani sawit nasional telah mencapai 92.000 hektar dan akan terus dikembangkan hingga mencapai luas area 100.000 hektar. Dengan rincian, luasan 100.000 hektar lahan inti, 60.000 hektar lahan petani plasma, dan 32.000 hektar lahan petani swadaya. Sehingga kurang 8.000 hektar untuk mencapai 100.000 hektar lahan untuk program Kemitraan One to One.

“Kami optimis, di tahun ini 8.000 hektar untuk program kemitraan One to One dapat tercapai,” kata Rafmen, Deputy Head of Partnership Asian Agri.

Program kemitraan One to One yang diinisiasi Asian Agri memungkinkan pengelolaan satu hektar lahan petani sebanding dengan satu hektar perkebunan inti (perusahaan) dalam mengelola kebun melalui praktik agronomi terbaik untuk menciptakan pengelolaan kelapa sawit nasional berkelanjutan.

Tingginya permintaan produk kelapa sawit dan turunannya, serta ketentuan terhadap praktik pengelolaan yang berkelanjutan oleh pasar nasional dan internasional saat ini mendorong Asian Agri untuk terus mendukung pengembangan kapasitas petani sebagai pemasok kedua terbesar kelapa sawit nasional dalam memenuhi kriteria tersebut.

Untuk itu, agar mampu menjawab tantangan tingginya permintaan, perusahaan swasta nasional (Asian Agri) kemudian berkomitmen meningkatkan produktifitas melalui intensifikasi. “Tidak lagi melalui perluasan area tetapi melalui peningkatan produktifitas salah satunya dengan melakukan riset dan development menciptakan bibit sawit unggul yaitu Topaz,” kata Fadhil.

Selanjutnya, Fadhil mengatakan melalui program Kemitraan One to One, pihaknya menempatkan hubungan antara perusahaan dengan petani tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. “Namun turut fokus pada peningkatan kesejahteraan seluruh petani mitra melalui pendampingan dan praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para petani,” tambah Fadhil.

Agar transfer ilmu pengelolaan kebun mudah diserap para petani. Pada program Kemitraan, petani mendapatkan pelatihan, pendampingan di lapangan, penyediaan peralatan modern serta akses yang dibutuhkan petani mitra untuk meningkatkan produksi kebun kelapa sawit secara berkelanjutan. Dan, yang tidak kalah penting, dalam kemitraan semua pihak harus dapat keuntungan, baik mitra, perusahaan dan konsumen.

Tantangan kemitraan

Menurut Rafmen selama ini, banyak petani sawit yang mengeluhkan karena adanya beberapa hambatan sehingga tanaman yang ditanam tidak “menyejahterakan”, di antaranya keahlian dan pengetahuan yang terbatas mengenai praktik mengelola perkebunan secara berkelanjutan, kesulitan untuk menjual buah (sawit) secara langsung pada perusahaan tanpa melalui perantara, minimnya akses terhadap fasilitas dan pembiayaan untuk kebutuhan pengelolaan perkebunan (termasuk peremajaan) dan kesulitan untuk memperoleh bibit yang berkualitas dengan hasil produktif yang tinggi. Untuk itu, perlu adanya kemitraan agar bisa membantu petani mencapai kesejahteraan.

Untuk menjalin kemitraan  ada syarat bagi petani yang harus dipenuhi yaitu petani kelembagaan seperti koperasi atau gabungan kelompok tani (gapoktan). Banyak petani belum memiliki kelembagaan yaitu masih perorangan, sehingga harus dilakukan pendampingan agar bisa membentuk kelembagaan. “Petani akan didampingi oleh tim khusus dari perusahaan sehingga persoalan yang kerap dihadapi petani dapat diicari solusinya secara bersama,” kata Rafmen.

Rafmen juga mengakui untuk membangun kemitraan yang ada di Sumatera Utara, Riau dan Jambi menghadapi tantangan. “Untuk membangun kemitraan, perlu sosialisasi program pada masyarakat (petani). “Untuk mengawali, Kami sampaikan bahwa perusahaannya ingin berbagi pengetahuan dengan masyarakat (petani) terkait pengelolaan sawit berkelanjutan. Mulai dari produktifitas tinggi, usia tanaman lebih lama,” ujarnya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp