Pabrik Ditutup, Petani Plasma PTPN Merana

Holding Perkebunan PTPN perlu mengkaji lagi penghentian operasional pabrik sawitnya. Petani plasma merasakan dampaknya karena tidak dapat menjual hasil panen. Disinyalir kebijakan ini melanggar regulasi pemerintah.

 

Cerita sedih datang dari tanah Papua. Ribuan petani plasma PTPN II Kebun Arso tidak dapat menjual buah sawitnya semenjak sebulan terakhir. Pemicunya, kebijakan perusahaan yang menghentikan sementara pabrik sawitnya semenjak 3 Oktober 2018. Pabrik berkapasitas 15 ton  TBS per jam ini dinilai sudah tidak layak beroperasi dan butuh perbaikan.

 

“Untuk sementara, operasional PKS (pabrik sawit) berhenti karena ada  perbaikan. Jadi kami menunda pembelian sawit dari petani plasma dan KKPA. Pembelian kembali setelah perbaikan PKS selesai,”kata Teten Djaka Triana, Direktur Utama PTPN II, melalui layanan pesan WhatsApp, pada akhir Oktober 2018.

Pernyataan ini sejalan dengan surat edaran PTPN II Kebun Arso tanggal 25 Oktober 2018, disebutkan bahwa kebijakan setop panen TBS sebelumnya karena ada kerusakan instalasi pabrik sawit. Apabila pabrik selesai diperbaiki, maka perusahaan akan menerima TBS kembali dan diberitahukan kepada petani plasma dan KKPA.

Yahmin Hendera Wakil Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Papua menyayangkan kebijakan PTPN II Kebun Arso yang tidak memberikan kepastian waktu beroperasinya pabrik sawit. “Semenjak pabrik tutup pada 3 Oktober 2018 hingga rapat hari ini (13 November 2018), pihak PTPN belum kasih kepastian. Perwakilan menyatakan akan sampaikan kendala kepada direksi,” ujar Yahmin dalam sambungan telepon.

 

Keluhan atas penutupan pabrik telah disampaikan kepada dinas perkebunan setempat. Menurut Yahmin, petani plasma dan KKPA kebun Arso PTPN II  meminta tanggung jawab perusahaan sebagai mitra pembangunan kebun plasma serta KKPA. Jika pabrik tidak pasti dibuka, petani yang paling dirugikan.

 

Luas kebun plasma dan KKPA PTPN II Kebun Arso mencapai 10 ribu hektare. Dari jumlah tersebut yang rutin dipanen sekitar 5.000 hektare. Dengan asumsi, satu hektare menghasilkan 1,5 -2 ton TBS per bulan maka dalam satu bulan diperkirakan pasokan bisa mencapai 9.000 ton TBS.

 

“Berhentinya pabrik akan berakibat negatif kepada masyarakat Arso yang berprofesi petani, tukang panen, serta armada angkutan TBS. Kalau terus berlarut,  kebun menjadi semak belukar,”ujar Yahmin

Sebenarnya, PTPN II telah mengakomodir keluhan petani. Ini terbukti dari keluarnya surat pemberitahuan per 29 Oktober 2018 mengenai penerimaan TBS sawit petani plasma dan KKPA. Namun berdasarkan informasi yang diterima petani bahwa surat ini dibatalkan sepihak oleh PT Era Karya Teknindo, mitra Kerjasama Operasi (KSO) kegiatan pabrik sawit PTPN II di Arso.

 

Yos Manusiwa, Manajer PTPN II Arso, mengatakan karena setahun tidak mengolah, banyak kerusakan di pabrik. “Kondisi perusahaan tak mampu membiayai lagi dialihkan ke mitra untuk titip olah agar pabrik bisa diperbaiki, dan buah petani maupun kebun inti bisa diolah kembali,“ ujarnya  dalam wawancara dengan Mongabay Indonesia.

Sementara itu, Teten Djaka Triana menuturkan bahwa selama masa perbaikan maka petani plasma dan KKPA PTPN II diizinkan menjual buahnya kepada pihak luar. “Dengan sendirinya buah bisa dijual kepada pihak lain agar petani terhindar dari kerugian,” kata Teten.

Supaya penjualan kepada pihak ketiga dapat terlaksana, petani meminta rekomendasi bupati. Yahmin meminta dinas perkebunan / mencari solusi supaya pihak Ketiga untuk bisa menerima TBS plsma dan KKPA. Karena apabila tidak ada kepastian kapan pabrik buka akan menjadi dampak buruk dan kesenjangan sosial bagi masyarakat Arso khususnya petani sawit.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp