Menjadikan Penelitian Sosial Untuk Pembangunan Kesejahteraan Petani

Perubahan sosial di sekitar perkebunan sawit menarik untuk menjadi bahan penelitian kalangan ilmuwan. Industri sawit mendorong transformasi masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, dan pola hidup.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menyebutkan bahwa tidak banyak ilmuwan sosial yang berminat menggeluti penelitian di industri kelapa sawit. Ilmu sosial ini sangatlah penting untuk mengetahui perubahan positif dengan hadirnya perkebunan sawit.

“Yang saya ketahui lebih banyak beasiswa untuk program studi lingkungan. Pada akhirnya, isu lingkungan lebih banyak diekspos ketimbang dampak sosial dari sawit,” kata Joko di hadapan peneliti dan akademisi yang hadir dalam Academic Forum on Sustainability di LIPI pada akhir Januari 2017.

Hadir dalam diskusi ini antara lain Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI), Ermanto Fahamsyah (Dosen Universitas Jember), Ngadi (Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI), Sakti Hutabarat (Dosen Agribisnis Universitas Riau), Risa Bhinekawati (Dosen Universitas Podomoro), Rini Hanifa (Universitas Indonesia), dan Erwiza Erman (Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional LIPI).

Menurut Joko Supriyono perkebunan sawit di era tahun 1970 baru sekitar 105 ribu hektare termasuk swasta dan perusahaan negara. Barulah pada awal tahun 1980-an pemerintah membuat program bantuan untuk perkebunan sawit rakyat dengan memanfaatkan Bantuan Bank Dunia. Setelah itu, penambahan luas perkebunan rakyat lumayan tinggi dari 1980 sampai 2000 mencapai 1,2 juta hektare. Kenaikan ini seiring dengan pertumbuhan kebun swasta yang ditopang kredit murah.

Memasuki periode tahun 2000, kata Joko, perkebunan rakyat lebih banyak kebun plasma. Petani plasma dengan tingkat kesejahteraan lebih baik ini menarik minat petani swadaya. Lalu terjadilah pertumbuhan jumlah petani swadaya sawit yang menginginkan pendapatan lebih baik.

Menurut Joko, bertambahnya kebun sawit milik petani swadaya sangat menarik ditinjau dari proses perubahan sosial. Karena sebelumnya, kegiatan mereka ini berladang tradisional seperti ladang berpindah-pindah, lalu kenal cara modern dengan melihat kebun petani plasma.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.