Mengunjungi Refineri Terbesar di Kalimantan

Minamas Plantation, melalui anak usaha PT Golden Hope Nusantara,  mengelola refineri berkapasitas 825 ribu ton per tahun. Sebagian besar produk hilir yang dihasikan untuk kebutuhan pasar ekspor. Pada tahun depan, perusahaan akan menghasilkan minyak goreng kemasan bermerek “Alif”.  

 

Di atas lahan seluas 34 hektare, berdiri pabrik pengolahan (refineri) minyak sawit yang dikelola PT Golden Hope Nusantara (GHN). Refineri ini secara komersial beroperasi pada 2014. Saat kunjungan ke refineri, lokasinya sangat strategis karena berhadapan langsung dengan lautan yang dapat menuju ke Selat Makasar atau Laut Jawa.   

 

General Manager PT GH Nusantara, Mohd Hamdi Abdul Karim, dalam presentasinya, menjelaskan bahwa kapasitas terpasang produksi refineri ini merupakanyang terbesar di Kalimantan mencapai 825 ribu ton per tahun.

 

Saat bertemu awak media, Mohd Hamdi Abdul Karim menjelaskan alur proses pengolahan minyak sawit (CPO) menjadi produk antara seperti PFAD, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin,dan Palm Fatty Acid Distillate. Mulai dari proses degumming, bleaching, filtrasi, dan deodorizer hingga pengapalan produk di jetty.

 

Di antara anak usaha Sime Darby, kapasitas refineri GHN menempati posisi kedua setelah refineri yang berada di Malaysia berkapasitas 1,584 juta ton per tahun. Investasi refineri ini mencapai Rp 1 triliun.  Pemasaran produk turunan sawit GHN sebagian besar ditujukan memenuhi pasar ekspor di India,  Tiongkok, dan Eropa.

 

Untuk menopang kegiatan pengapalan, refineri dilengkapi satu jetty ekspor dan dua jetty pengiriman. Kapasitas dermaga dapat memuat kapal berkapasitas 31.250 ton.   Mohd Hamdi Abdul Karim menyebutkan hampir 77% penjualan ekspor produknya dikirim ke India. Sementara itu, penjualan domestik terbilang kecil sekitar 2%.  Total ekspor tahun lalu sekira 700 ribu ton.

 

“Permintaan dari India dominan berupa olein dan CPO karena digunakan sebagai minyak makan,”jelas Hamdi. Tetapi, dia enggan membeberkan target penjualan ke India untuk tahun ini.  

 

Walaupun India menerapkan pajak impor tinggi terhadap produk sawit, dikatakan Hamdi, perusahaan yakin permintaan tetap tinggi. Karena produksi minyak nabati setempat belum dapat mencukupi kebutuhan. Oleh karena itu, perusahaan juga mengalihkan penjualan ke pasar Tiongkok.

 

Perusahaan mendapatkan  pasokan CPO dari kebun Minamas yang dapat memenuhi 60 persen kebutuhan pabrik CPO kilang PT GHN. Selain itu, PT GHN juga melakukan pembelian Tandan Buah Segar (TBS) dari pihak lain ketiga di sekitarnya sekitar sebanyak 40 persen dari total kebutuhan produksi.

 

Pasokan TBS sawit perusahaan berasal dari perkebunan sawit  Minamas Plantation yakni PT. Lagunan Mandiri, PT Langgeng Muaramakmur dan PT Bersama Sejahtera Sakti di tiga kecamatan Kabupaten Kotabaru dengan total tenaga kerja 13.000 orang. Berdasarkan data periode 2017-2018 hingga April 2018, dari 23 kebun milik Minamas Plantation di Kotabaru menghasilkan 671.673 metrik ton tanda buah segar yang ditanam pada areal seluas 70.649 hektare atau 81 persen dari total konsesi 86.924 hektare di luar kebun rakyat melalui skema KKPA 21.593 hektare.

Minamas Plantation di Indonesia beroperasi di delapan provinsi dengan total areal konsesi 268.261 hektare dan yang sudah ditanami 201.364 hektare atau sekitar 75 persen.

Dari jumlah kawasan seluas itu, terdapat 69 kebun kelapa sawit dan 23 pabrik meliputi Provinsi Aceh tiga perusahaan operasional, Jambi (1), Riau (4), Sumatera Selatan (2), Kalimantan Tengah (3), Kalimantan Selatan (7), Kalimantan Barat (4) dan Sulawesi satu unit perusahaan operasional.

 

Untuk menembus pasar Eropa, dikatakan Hamdi, perusahaan sudah mempunyai sertifikat sawit berkelanjutan seperti RSPO, ISCC,  dan Kosher. Sebagai informasi, sertifikat Kosher ini dapat dikategorikan sertifikat makanan halal bagi Komunitas Yahudi.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp