Ekspor Oleokimia Tahun Depan Diproyeksikan US$ 5 Miliar

Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) optimis pasar oleokimia akan tumbuh positif pada 2019 mendatang. Pertumbuhan industri oleokimia mendapat dukungan dari regulasi pemerintah yang mendorong produk sawit dalam bentuk processed product bernilai tambah.

Merujuk data APOLIN, volume ekspor produk oleokimia berjumlah  2,39 juta ton dalam kurun waktu Januari sampai Juni 2018. Estimasi hingga akhir tahun ini, ekspor dapat menyentuh angka 4,79 juta ton. Sementara itu, nilai ekspor oleokimia dari Januari sampai Desember 2018 mencapai US$ 4,17 miliar.  Produk oleokimia digunakan untuk mendukung kebutuhan produk beragam industri seperti industri farmasi, pengeboran minyak  baja, ban, kosmetika, dan kebutuhan rumah tangga-sabun, pasta gigi serta shampo.

Pada 2019, APOLIN memproyeksikan volume ekspor naik 12% menjadi 5,36 juta ton dari tahun 2018. Dengan naiknya volume, maka nilai ekspor bisa tumbuh 20% menjadi US$5 miliar.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa  pertumbuhan industri oleokimia Indonesia sepanjang 3 tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan positif. Memang dari sisi volume rata-rata tumbuh 10,68% per tahun. Sedangkan pertumbuhan nilai ekspornya rata-rata tumbuh 19,61% per tahun. Meningkatnya pertumbuhan produk oleokimia juga ditopang pemakaian produk perawatan tubuh dan kosmetik.

“Pariwisata menjadi sektor penggerak permintaan produk oleokimia. Karena orang senang traveling. Sewaktu bepergian, mereka pasti membawa produk kosmetik dan perawatan badan seperti sabun dan shampoo. Ini berdampak positif bagi oleokimia,”ujar Rapolo Hutabarat.

Dijelaskan Rapolo, permintaan global terhadap produk-produk oleokimia diprediksi mengalami pertumbuhan yang positif seiring dengan berbagai upaya bersama antara pemerintah dan pelaku usaha  untuk membuka pasar-pasar baru produk olahan minyak sawit Indonesia.

Ekspor produk oleokimia ditujukan ke sejumlah negara tujuan utama yaitu Uni Eropa, Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Jepang. Rapolo menyebutkan  pasar potensial ekspor oleokimia berasal dari negara-negara di Benua Afrika. Produk yang paling banyak diminta adalah soap noodle. Penetrasi pasar produk oleokimia sejauh ini tidak menghadapi hambatan di negara tujuan ekspor. “Para produsen terus berupaya membuka pasar baru serta mempertahankan pasar eksisting,” tuturnya.

Rapolo mengharapkan momentum industri oleokimia harus dipertahankan dan ditingkatkan melalui kerjasama dengan semua pemangku kepentingan industri sawit nasional. Faktor lain yang mendukung pertumbuhan permintaan produk-produk oleokimia dari berbagai berbagai industri.

Industri oleokimia nasional mempunyai kapasitas produksi terpasang sekitar 5,5 juta ton. Dengan tingkat utilisasi produksi sebanyak 75% yang menghasilkan 21 jenis produk turunan oleokimia.

Asosiasi mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk menjaga iklim investasi. Rapolo mengapresiasi kebijakan Tax Holiday maupun Tax Allowance yang dibuat pemerintah, seperti baru-baru ini telah merilis PMK No. 29/2018 mengenai Kemudahan Perizinan dan PMK No. 35/2018 mengenai Pengurangan PPh Badan Usaha.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp