T-10 REPLANTING PEKEBUN WAJIB PERHATIKAN LAHAN SAWITNYA Oleh: Ir.Heri DB,MM (Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit & Founder Best Planter Indonesia)

(Maraknya serangan Ganoderma menyadarkan kita bahwa lahan sawit sudah mulai sakit dan butuh upaya pemulihan yang serius dan terencana agar pada saat replanting tercipta kondisi tanah yang jauh lebih sehat untuk menjadi media tumbuh tanaman baru)

 

 

Tanah kelas satu Sumatera Utara kini sudah tidak sehat lagi untuk menopang visi sawit nasional versi GAPKI yaitu 35/26 (produktifitas 35 ton TBS per hektare dengan rendemen 26%). Khusus untuk produktivitas, dengan menggunakan bibit unggul target akan tercapai apabila asumsi jumlah tegakan tanaman (populasi) mencapai minimal rata-rata  136 pokok per hektare, sementara keadaan di lapangan menunjukkan jumlah tegakan yang terus menurun antara 10%-50% akibat meningkatnya serangan Ganoderma boninense. Bahkan daerah endemik Ganoderma jumlah tegakan tanaman atau populasi tanaman sudah berada dibawah 90 pokok per hektare.

 

Kerusakan tanah masif ini tentu tidak serta merta terjadi dalam waktu cepat, tetapi justru akibat akumulasi dari perlakuan terhadap tanah yang terus menerus tidak kondusif untuk hadirnya keseimbangan ekosistem mikroba didalam tanah. Sebagai salah satu contoh adalah janjang kosong yang merupakan biomasa yang seharusnya kembali ke tanah untuk menjaga ketersediaan bahan organik tanah ternyata tidak kembali ke tanah tetapi keluar dari sitem tanaman. Janjang kosong selama 1-2 generasi sebelumnya hanya dibakar, dibiarkan menumpuk atau diaplikasikan hanya ke sebagian lahan karena untuk mendapat konversi hara yang bisa menurunkan penggunaan pupuk kimia.

 

Cara tersebut jelas keliru kalau dilihat dari sudut pandang ekosistem, karena secara substantif keseimbangan akan terjadi kalau seluruh biomasa yang dihasilkan tanaman baik pelepah maupun janjang kosong dikembalikan ke lahan secara merata dan bukan hanya ke sebagian tanaman. Contoh perlakuan nyata lain yang tidak kondusif terhadap ekosistem mikroba tanah adalah penggunaan agro-input kimia yang terus-menerus, termasuk pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan menyebabkan kehidupan mikroba tertentu musnah termasuk didalamnya makro fauna cacing yang sudah jarang ditemukan di lahan sawit.

 

Hal tersebut bisa terjadi karena orientasi pekebun semata-mata hanya peningkatan produksi tanpa memperhatikan kesehatan tanah. Pada saat daya dukung tanah masih bagus pada generasi pertama mungkin tidak masalah, tetapi dengan berjalannya waktu dimana biomasa janjang kosong hampir sebagian besar keluar dari sistem tanaman secara besar-besaran disatu sisi dan perlakuan 100% agro-input kimia terus menerus disisi lain, maka kerusakan lahan tidak bisa dihindari dan salah satu indikatornya adalah serangan masif Ganoderma terhadap tanaman sawit seperti yang terjadi saat ini.

 

Kalau kerusakan lahan terjadi memerlukan waktu yang lama karena tanah dengan ekosistemnya memang mempunyai kemampuan recovery yang baik, maka perbaikan terhadap kerusakan tanah jelas tidak akan bisa instan, oleh karena itu saya sebagai praktisi sawit menyarankan bahwa VISI PERBAIKAN TANAH harus sama pentingnya degan VISI PRODUKSI, bahkan visi perbaikan tanah menjadi sangat penting untuk segera dicapai melalui beberapa program perbaikan kesehatan tanah karena akan berpengaruh nyata terhadap pencapaian produksi. Apabila akibat tanah sakit serangan Ganoderma meningkat, maka penurunan populasi tanaman akan sangat  berperan dalam menurunkan produktifitas tanaman.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp