Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Jl. Kelapa Dua Wetan Raya. Komp. PTB Blok. 1A No.11. Ciracas Jakarta Timur.

No. Telp 021-8770-6153

redaksi@sawitindonesia.com

Inovasi

Penggunaan Aneka Ragam Produk Kelapa Sawit Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Industri Kelapa Sawit (Bagian Pertama)

Penggunaan Aneka Ragam Produk Kelapa Sawit Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Industri Kelapa Sawit (Bagian Pertama)

PENDAHULUAN

Pengaruh krisis keuangan Amerika menyebabkan turunnya harga CPO yang merupakan komoditas andalan perkebunan. Jatuhnya harga CPO dari sekitar US $ 1.300 per kg, sangat mengagetkan dan mengkhawatirkan. Maklum kebutuhan domestik hanya 26% dari produksi CPO dan sisanya di ekspor. Nyaris 60-70% produk CPO digunakan untuk ekspor. Beda dengan Malaysia hanya 30% untuk minyak goreng dan 45% untuk berbagai turunan CPO. Ada oleo kimia seperti etil alcohol, biodiesel, kosmetik, farmasi,  deterjen dll. Jika minyak mentah kelapa sawit tidak banyak dikembangkan dalam produk ikutan, diperkirakan akan membuat petani sawit semakin sengsara ditengah anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Setelah sempat menyentuh level 1.300 dollar US per ton, harga minyak kelapa sawit mentah terus turun. Suplai yang berlebih dan melemahnya permintaan akibat krisis memicu harga anjlok sampai 350-an US dollar per ton. Stok minyak kelapa sawit mentah kita mencapai angka tertinggi selama dua dekade, hampir 3 juta ton perbulan.

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani pun anjlok, dari Rp. 1.800 per kilogram (kg) menjadi Rp. 1.150 per kg. Petani kelapa sawit dan produsen CPO nasional kebingungan. Gejolak ini bisa dirunut dari beberapa sisi, misalnya dari krisis finansial di AS dan menghantam sektor riil, termasuk industri otomotif di AS. Akibatnya, secara umum pengeluaran konsumsi didunia turun, permintaan produk – produk makanan juga menurun. Minyak sawit , yang merupakan bahan baku minyak goreng sekaligus bahan baku biofuel terpukul dari dua arah.

Sebagai bahan makanan, permintaan minyak goreng akan meningkat seiring meningkatnya pendapatan dan jumlah penduduk. Meski lambat, karena sifatnya tidak begitu elastis terhadap pendapatan, konsumsi dunia meningkat dari tahun ke tahun karena jumlah penduduk meningkat. Permintaan minyak goreng nabati (termasuk minyak sawit) akhir – akhir ini melemah akibat turunnya pendapatan dunia. Pukulan kedua berasal dari menurunnya permintaan biofuel akibat anjloknya industri otomotif di AS dan melemahnya permintaan mobil (berakibat turunnya konsumsi biofuel) yang memperlemah permintaan CPO internasional.

Produk CPO Indonesia sekitar 24 juta ton setahun. Alokasi CPO seharusnya tidak hanya  untuk minyak goreng, dan komoditas ekspor.  Tapi juga untuk bahan baku industri hilir domestik (farmasi, kosmetik dsb), juga ada peluang baru, yakni untuk industri biofuel. Ini sangat strategis karena bisa menggantikan cadangan minyak bumi yang semakin langka. Dari  pada pemerintah memberikan BLSM yang sampai triliunan rupiah, sebaiknya dana besar ini diberikan pada pabrikan yang mau mengolah CPO menjadi biodiesel. Produksi biodiesel yang berlimpah dari CPO membantu tidak cepat habisnya kandungan minyak mineral, digantikan dengan  biodiesel yang ramah lingkungan dan lestari, juga memberikan subsidi pada alat angkut yang menggunakan solar, termasuk kapal-kapal nelayan. 

Lebih dari 65-70 % produksi kelapa sawit Indonesia diekspor dalam bentuk minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO). Ini berbeda dengan Malaysia, dimana 80% produksi diekspor dalam bentuk produk yang bernilai tambah, hasil kreasi industri hilir. Industri hilir Malaysia mampu mengolah CPO menjadi lebih dari 120 jenis produk bernilai tambah tinggi. 

Selama ini CPO kita umumnya diekspor dan nilai tambahnya kecil. Padahal jika digunakan untuk industri hilir di dalam negeri, nilai tambahnya bisa lebih ditingkatkan. Agar  industri hilir sawit dapat berkembang, Indonesia harus membangun industri pendukungnya seperti jasa pelabuhan, jalan raya, rel  kereta api yang double track, logistik dan teknologi pengembangan kelapa sawit itu sendiri.

Untuk mendorong pendalaman industri hilir, pemerintah bisa memberi aneka insentif, baik finansial, riset, maupun infrastruktur. Sebagai penghasil CPO terbesar, Indonesia sepatutnya berperan penting dalam pencarian dan pembentukan harga produk. Untuk menjaga stabilitas perdagangan produk CPO dan turunannya, dinilai perlu pemerintah mendorong industri produk turunan CPO. Selama ini Indonesia sangat bergantung pada penjualan produk primer, yaitu berupa CPO saja. Pemerintah mesti memberdayakan produk turunan CPO. Produk turunan ini bisa dimanfaatkan untuk bahan komestik, margarin, atau plastik ramah lingkungan, selain untuk minyak goreng. 

Belajar dari kejadian ini, Indonesia harus segera menggalakkan industri hilir. Untuk masuk ke industri hilir, Indonesia jelas memiliki potensi. Kalkulasi luas lahan kelapa sawit di Indonesia saat ini berkisar diatas 8 juta hektar. Mungkin potensi pasar domestik yang besar,  selain juga punya lembaga riset. Ada LIPI, BPPT, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dan kampus.

Data PPKS menunjukkan, sekitar 70-75%  dari semua CPO Indonesia diekspor ke pasar internasional, seperti India, beberapa Negara Eropa, dan China. Sisanya, sekitar 25-30%, untuk kebutuhan dalam negeri. Kondisi ini berbeda dengan kondisi Malaysia yang sudah mengolah produk turunan minyak sawit hingga 90%. Gejala ini menimbulkan economic losses. Pertama, nilai tambah dari Industri hilir sawit dinikmati oleh negara lain, seperti Malaysia. Padahal, nilainya berganda-ganda dibanding CPO. Kedua, kita kehilangan peluang meraih pajak dan lapangan kerja. Ketiga, ekspor CPO sangat rentan terhadap fluktuasi harga (risiko harga) dengan koefisien keragaman harga tahunan diatas 30 %. Hal ini disebabkan  Indonesia belum mempunyai jaringan pasar produk turunan. Pengembangannya pun sangat minim, Berbeda dengan Malaysia. Malaysian Palm Oil Board ( MPOB), yang merupakan institusi dalam pelaksanaan kebijakan industri kelapa sawit di Malaysia adalah institusi dibalik kesuksesan sawit Malaysia.

Hasil penelitian PPKS menyebutkan, lebih dari 20 jenis bahan olahan kelapa sawit telah diteliti, tetapi sebagian besar belum dimanfaatkan. Bahan olahan itu diantaranya untuk bahan baku lilin, kosmetik, bahan farmasi, minyak pelumas, minyak goreng merah, dan margarin. 

Jika 2013 ini produksi CPO sebesar 24 juta ton, kebutuhan dalam negeri 8-11 juta ton untuk industri minyak goreng lalu ada kemungkinan beberapa juta ton untuk kebutuhan biodiesel. Sisanya yang diekspor dalam bentuk CPO dan turunannya sebesar 11-14  juta ton. 

Di lain pihak Indonesia berpeluang memperluas areal perkebunan kelapa sawit dari 6,4 juta ha menjadi 10 juta ha, diperkirakan akan menyerap sekitar 3,5 juta lapangan kerja. Dengan asumsi 0,35 tenaga kerja/ha. Sektor lain yang terimbas untuk berkembang adalah industri : hulu dan hilir, transportasi, perdagangan dan jasa. Oil World memperkirakan pasokan dari 17 minyak dan lemak di pasar international hanya mencapai 121,6 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi dunia akan mencapai 132 juta ton sehingga ada kekurangan pasokan sebanyak 10,4 juta ton.

Berbeda dengan penghasil minyak nabati lainnya, tanaman kelapa sawit mempunyai potensi yang lebih tinggi baik dari segi kuantitasnya per satuan luas, keragaman produksi secara vertikal, maupun produk sampingannya. Dari daging buah kelapa sawit diperoleh minyak sawit sedangkan serat perasan buah dapat dijadikan papan partikel, pulp, sumber energi dan makanan ternak. Selanjutnya minyak sawit tersebut diproses menjadi bahan pangan yaitu : minyak goreng, margarine, vanaspati dan pengganti cocoa butter, sedangkan sebagai bahan non pangan (oleokimia) dapat berupa : lilin, stearin, sabun, asam lemak, gliserin, deterjen, pelumas, plasticizer, kosmetik dan minyak diesel. Inti sawitnya sendiri dapat diproses menjadi minyak goreng, salad oil, oleokimia, makanan ternak, karbon aktif, bahan pengisi dan papan partikel. Sedangkan tandan kosong dan batang pohonnya merupakan bahan baku untuk pembuatan pulp, papan partikel, pupuk dan sumber energi . INSERT GAMBAR/FOTO

Memperhatikan potensi sumber daya lahan, sumber daya manusia dan potensi tanaman kelapa sawit serta letak geografisnya maka dapat difahami bahwa kelapa sawit menjadi salah satu komoditi andalan untuk agroindustri di Indonesia.

Pengendalian limbah cair pabrik kelapa sawit

Limbah pabrik kelapa sawit (PKS) merupakan hal penting yang mendapat perhatian peneliti kelapa sawit. Misalnya, limbah cair yang berasal dari air : rebusan, stasiun klarifikasi dan  hidroksiklon harus dikendalikan sebelum dibuang ke sungai atau perairan. 

Limbah cair PKS dengan biological oxygen demand (BOD) sebesar 25.000 ppm dapat dikendalikan dalam kolam anaerob menggunakan bakteri Betagen sehingga nilai BOD nya mencapai 6.000 ppm. Selanjutnya pada kolam aerob, BOD nya dapat diturunkan lagi hingga mencapai <250 ppm sebagaimana dipersyaratkan. Hasil samping dari proses anaerob tersebut adalah gas bio yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memasak atau penerangan.

Selain biodiesel, PPKS juga mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit, yang dikenal dengan istilah Reaktor Anaerobik Unggun Tetap (RANUT) dimulai pada skala laboratorium pada tahun 1996 dan dikembangkan dengan pilot plan pada tahun 2005. Proses pengolahan limbah dengan RANUT ini menghasilkan biogas, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembangkit listrik ataupun dapat diproses menjadi compressed Bio Gas (CBG) Sawit. CBG sawit telah berhasil diujicoba pada mobil Toyota Innova 2.0 V Luxury dua bulan yang lalu di Jakarta. Berbagai pihak terlihat antusias dan menyatakan ketertarikannya terhadap CBG Sawit karena selama ini biogas yang ditangkap oleh beberapa perusahaan (sebagai bahan proyek CDM) hanya dibakar saja (flare) atau ada juga yang memanfaatkannya untuk pembangkit listrik. Pengembangan CBG Sawit dipandang sebagai “upaya cerdas” mengatasi kelangkaan BBM yang juga dihadapi oleh industri sawit terutama untuk angkutan produksi. CBG Sawit dapat langsung dimanfaatkan oleh perkebunan dan industri sawit untuk memenuhi kebutuhan BBM bagi keperluan sendiri.

Pemanfaatan limbah PKS berupa solid decanter, limbah cair dan bahan probiotik sebagai sumber bahan organik telah dilakukan di PT Asam Jawa sejak 2008. Pemanfaatan limbah PKS yang merupakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan tanah dan dibuktikan dengan hasil produksi yang stabil dan kenaikan nilai rendemen CPO, serta pertumbuhan tanaman tua yang tetap stabil.

Probiotik merupakan salah satu unsur mikro organisme yang terkandung didalamnya antara lain  : Bakteri penambat nitrogen bebas ( Rhizobium, Bradirhizobium, Azotobacter). Bakteri pelarut fosfat. Lactobacillus sp. Actenomycetes sp. Bakteri fotosintetik.    Bakteri penambat Nitrogen juga menghasilkan zat pengatur tumbuh bagi tumbuhan. Senyawa INDOL yang dapat memacu perkembangan akar. GIBERELIN yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman ( Sawit Indonesia Ed II No 20 dstnya).

Pemanfaatan tandan kosong sawit  

Limbah padat berupa tandan kosong sawit (TKS), cangkang (tempurung) dan serat dapat dikendalikan dan dimanfaatkan. Tandan kosong yang merupakan fraksi terbesar limbah padat (23%) dapat dimanfaatkan sebagai kompos. Proses pengomposan secara tradisionil membutuhkan waktu 3-6 bulan. Apabila digunakan mikroba penghancur lignin dan selulosa maka proses dekomposisi dapat disingkat dari 3-6 bulan menjadi 8-9 minggu dengan rendemen pembuatan kompos mencapai 78%. Sebuah PKS dengan kapasitas olah 30 ton tandan buah segar (TBS) per jam berpotensi menghasilkan 15.000 ton kompos bioaktif per tahun dan jumlah tersebut mencukupi kebutuhan kompos untuk areal kebun seluas 2.500 ha dengan dosis pemberian sebesar 25 kg/pohon/semester. Uji lapang penggunaan kompos dari TKS dapat menghemat penggunaan pupuk tradisionil sebesar 50%. Selain itu penggunaan kompos dapat pula meningkatkan produksi sebesar 5,1% dan tanaman muda dapat berproduksi lebih awal yaitu dari 30-32 bulan menjadi 24 bulan.

TKS yang selama ini merupakan limbah padat dari PKS ternyata memiliki prospek yang cukup baik sebagai bahan pengisi plastik yang mudah terdegradasi. TKS juga dapat diolah untuk menghasilkan furfural dan lignoselulosa. Furfural banyak digunakan dalam proses pemurnian minyak mentah, formulasi fungisida dan dalam industri kayu  lapis. Selain dimanfaatkan untuk bahan pembuat pulp, arang, serat rayon, bahan insulasi dan kompos ternyata kandungan kimia dalam TKS dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan kimia yang sangat beragam seperti turunan selulosa, turunan hemiselulosa dan turunan lignin. Bahan – bahan kimia itu diantaranya adalah fenol, benzen, vanillin, asam maleat, furfural dan turunannya, polistirina, aseton, butanol dan asam glutamat. Pemanfaatan TKS sebagai sumber bahan kimia diharapkan dapat memberikan nilai tambah maupun dalam penanganan lingkungan . 

Penulis : Drs.Subronto, MS*, Pensiunan Ahli Peneliti Utama PPKS kini bersama PT Asam Jawa, Torgamba-Labuhan Batu Selatan 

 


 11150,    Inovasi