Hasilkan Katalis Sawit, Indonesia Hemat Triliunan Rupiah

Institut Teknologi Bandung (ITB) menghasilkan katalis yang berguna untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia. Katalis yang diproduksi berbahan baku minyak sawit.  Dapat menghemat devisa negara triliun rupiah.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohamad Nasir memuji riset katalis yang dijalankan peneliti dari Institut Teknologi Bandung. Penelitian ini sangat penting dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia. Sebab, pemakaian katalis berperan memproduksi bensin dan bahan kimia.

Bahan baku katalis tidak perlu diimpor. Karena peneliti ITB memanfaatkan minyak sawit yang pasokannya berlimpah.“Dari sisi ekonomi, katalis ini menghemat energi. Kalau bisa diselesaikan di Indonesia. Karena punya palm oil besar, minyak sawit dan inti sawit bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar. Ini akan mendorong Indonesia sehingga tidak perlu impor  BBM,” jelas Menristekdikti seperti dilansir dari situs ITB saat meresmikan Laboratorium Teknik  Reaksi Kimia ITB pada pertengahan Oktober 2018.

Nasir mengatakan bahwa Kemenristekdikti mendorong penuh program penguatan inovasi di perguruan tinggi melalui program ‘Teaching Industry’. Kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia industri sangat penting bagi hilirisasi dan komersialisasi hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi ke dunia industri. “Ini merupakan langkah awal dari hilirisasi dan komersialisasi penelitian,” tutur Menristekdikti.

Katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia supaya menghasilkan produk yang diinginkan. Hampir 90% proses di industri kimia melibatkan katalis.

Katalis ini dapat menghasilkan menghasilkan bensin, solar (diesel) dan avtur. Dari hasil riset bahwa minyak dari kelapa sawit  ini  menghasilkan gasolin yang lebih baik dibandingkan fosil. Sebagai contoh, dari minyak fosil yang biasanya hanya 92 sampai 98 oktan fosil (untuk Pertamax) sedangkan gasolin menghasilkan 110 oktan. “Namun menggunakan katalis bisa menghasilkan palm 110. Jauh lebih baik,” ujar Menteri Nasir.

Begitupula dengan dengan solar dari minyak sawit lebih bagus kualitasnya daripada minyak fosil. Kalau diesel fosil menghasilkan 40 hingga 47, sementara itu diesel katalis dari sawit mencapai 60. Alhasil, pembakarannya di kendaraan jauh lebih sempurna.

Pemakaian bahan bakar Avtur, minyak fosil punya tingkat beku minus dari 37 hingga maksimal 47. Dengan avtur dari katalis sawit  bisa mencapai minus 60. Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir mengharapkan riset katalis yang dihasilkan ITB segera diterapkan untuk kepentingan industri di Indonesia. “Kalau bisa full dari kelapa sawit ini. Saya optimis Indonesia  akan berhenti impor,”ujarnya.

Rektor ITB Kadarsyah Suryadi  mengatakan Industri Katalis Pendidikan merupakan hasil karya yang didukung oleh Kemenristekdikti dan dunia industri. Industri-katalis pendidikan telah menghasilkan katalis yang mengubah sawit menjadi biodiesel, bioavtur, dan biogasoline.

Penelitian eksploratif dalam merancang dan mensintesis katalis dimulai sejak 25 tahun lalu oleh Prof. Subagjo dan para peneliti di Teknik Kimia bersama sejumlah mahasiswa S1, S2, dan S3 di ITB. Ujicoba katalis didukung PT. Pertamina (Persero), uji coba katalis telah dilakukan di beberapa kilang minyak dan telah diproduksi secara massal pertama kali oleh PT Pupuk Iskandar Muda.

Program pembangunan dan penegakan Industri-Katalis Pendidikan ITB ini telah didahului oleh serangkaian penelitian eksploratif dalam merancang dan mensintesis katalis, bekerja sama dengan berbagai industri proses nasional, sejak 25 tahun yang lalu. Bersama PT. Pupuk Iskandar Muda, TRK ITB melakukan kerjasama membangun adsorben untuk membersihkan gas alam dengan menyerap gas pengotor H2S. Adsorben yang kemudian diberi nama PIMIT-B1 ini diproduksi secara komersial dan telah digunakan di berbagai industri pemrosesan gas.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp